Liu Haiying dan Mingyu  – NTD

Situasi epidemi minggu ini yang menunjukkan terjadi peningkatan di negara Asia. Epidemi di Guangdong, TIongkok  meningkat, menyebar di Guangzhou, Foshan dan Shenzhen. Kota Guangzhou menjadi paling serius. Kini kota itu  diblokir sebagian, dan orang-orang tidak dapat masuk dan keluar dengan bebas.

Pusat vaksinasi di Kota Dali, Distrik Nanhai, Kota Foshan, Guangdong, terjadi kerumunan orang yang ingin divaksinasi. Mereka pun berdesakan.  Petugas berteriak : “Jangan khawatir! Jangan berdesakan! Harus antri!”

Segera setelah pintu kaca dibuka di pusat vaksin Rumah Sakit Rakyat Kedua di Distrik Panyu, Kota Guangdong, sejumlah besar orang  menunggu vaksin dengan membuat kerumunan.

Di banyak stasiun vaksin, sejumlah orang jatuh saat berdesakan. Banyak di antaranya adalah lansia. 

Huang Guanglie, direktur Komisi Kesehatan Kota Guangzhou, mengakui ketika menghadapi gelombang epidemi ini, virus menyebar sangat cepat dan memiliki penyebaran yang lebih kuat.

Sementara itu, kasus baru di Malaysia bertambah. Angkanya menjadi rekor tertinggi baru selama 5 hari berturut-turut. Bahkan, jumlah kematian minggu ini juga telah mencapai titik tertinggi baru.

Virus varian baru sedang berkecamuk di Malaysia. Sedangkan tingkat kasus baru didiagnosis sejak  23 Mei telah melampaui India selama 7 hari berturut-turut.

Pemerintah Malaysia mengumumkan bahwa mulai 1 Juni, negara itu akan dilockdown selama dua minggu. Meski demikian, hanya area ekonomi dan layanan yang diperlukan masih tetap beroperasi. Sebelum diberlakukan lockdown, warga beramai-ramai keluar untuk membeli stok makanan. Antrian panjang terjadi hingga di luar supermarket.

Vietnam juga menghadapi gelombang baru wabah. Jumlah infeksi mencapai angka tertinggi pada minggu ini.

Menteri Kesehatan Vietnam, Nguyen Thanh Long mengatakan, setelah dilakukan sekuensing genom terhadap pasien baru, ditemukan varian baru yang merupakan campuran virus varian India dan Inggris. Varian tersebut dapat menyebar dengan cepat di udara dan bermutasi dengan sangat cepat. Banyak kasus baru  bertambah di lokasi yang berbeda.

Pemerintah Jepang resmi memutuskan untuk memperpanjang “Deklarasi Situasi Darurat” hingga 20 Juni 2021. Itu ketika Olimpiade  dibuka pada 23 Juli mendatang.

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga: “Hari ini, kami memutuskan untuk memperpanjang keadaan darurat yang semula dijadwalkan berakhir pada 31 Mei hingga 20 Juni.”

Apakah perpanjangan keadaan darurat akan berdampak pada Olimpiade, Presiden Olimpiade Tokyo 2020 Seiko Hashimoto mengatakan akan memantau perkembangan epidemi dengan cermat.

Seiko Hashimoto berkata : “Saya dapat memahami  pemerintah  memperpanjang situasi darurat hingga 20 Juni, tetapi kita harus memperhatikan perkembangan situasi, jika tidak maka akan sulit untuk menentukan batas maksimum dari jumlah penonton. “

Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga mengatakan, dirinya menyadari kekhawatiran yang terjadi. Akan tetapi, sedang meningkatkan langkah-langkah untuk bergerak menuju Olimpiade yang aman. Sejumlah langkah yang dilakukan yakni mengurangi jumlah pengunjung luar negeri ke Jepang untuk Olimpiade menjadi 59.000 orang. Sekitar 19.000 orang untuk Paralimpiade, dan menggelar vaksinasi. 

Presiden Komite Olimpiade Internasional,  Thomas Bach mengatakan bahwa, 80% dari 15.000 atlet diharapkan akan  divaksinasi.  Semua pemain akan didorong untuk mendapatkan vaksinasi. Kemudian ada penerapan pembatasan gerak dan tidak ada kontak erat dengan orang-orang. (hui)

 

Share

Video Popular