Erabaru.net. Beberapa orang mengatakan bahwa jika Anda pernah ke Zhangjiajie,Tiongkok, berarti Anda pernah pergi ke awan dalam hidup ini.

Dinding batu yang dipotong dengan pisau dan kapak adalah mahakarya alam. Pegunungan dan bebatuan Zhangjiajie diukir menjadi karya seni yang indah, seperti miniatur bonsai, tertanam di pegunungan dan perairan barat Hunan.

Tak hanya tebing gunung yang aneh, tapi juga lautan awan yang bergulung-gulung sepanjang tahun. Tak heran bahkan sutradara hebat James Cameron pun tergoda untuk menggunakannya sebagai lokasi syuting untuk film “Avatar”

Tapi di antara ribuan tebing ini, berdiri sebuah penginapan terbuka di antara awan — Days on the Clouds .

Yang mengejutkan bahwa, pemilik homestay ini yaitu Xiao Qian, sebenarnya adalah seorang gadis cantik kelahiran tahun 1996.

Xiao Qian, yang baru berusia 25 tahun tahun ini, lahir dan dibesarkan di Zhangjiajie dan merupakan penduduk asli Zhangjiajie.

Sejak usia muda, keluarganya telah mengajarkan bahwa dia harus rajin belajar, keluar dari gunung, dan menemukan lebih banyak kemungkinan dalam hidup.

Di mata orang pegunungan adalah hal yang sederhana, kota besar adalah masa depan anak muda dan harapan mereka untuk bekerja keras demi anak-anaknya seumur hidup.

Namun menurut Xiao Qian tidak begitu, dengan latar belakang manajemen pariwisata, ia lebih memilih untuk berjalan-jalan dan merasakan adat istiadat di berbagai tempat.

Meskipun dia telah pergi ke banyak tempat selama empat tahun kuliah, tidak ada yang seindah kampung halamannya.

Disaat saat orang yang baru lulus mencari mencari pekerjaan di kota, dia malah balik kembali ke pegunungan di kampung halamannya, berharap bisa membuka homestay di ‘atas awan’.

Dari survei dan pemilihan lokasi hingga pendirian penginapan, Xiao Qian mengurus semuanya sendirian.

Pada awalnya, kondisi kehidupan di pegunungan sangatlah sulit, dia tinggal di sebuah rumah darurat di sisi lokasi konstruksi, untuk pengawasan, pengarahan desain, dan pengadaan barang.

Dia tinggal di lokasi konstruksi sepanjang hari, dan para pekerja di desa tidak dapat memahami gambar desain tersebut, jadi dia memberi pengarahan pada mereka setiap hari.

Kadang-kadang, dia akan ikut para pekerja sebagai tukang kayu dan belajar pada mereka.

Setelah sekian lama, para pekerja juga senang dengan dirinya yang ikut bekerja. Terlepas dari penampilan gadis itu yang lembut dan lemah, dia bisa melakukan banyak hal tanpa kesulitan.

Banyak yang mengira bahwa orang pintar itu lemah dan tidak tahan menghadapi kesulitan, tetapi para pekerja tercengang dengan keuletan dirinya dan tidak pernah mengeluh sedikit pun. Da sangat disukai dan dihormati para pekerja.

Dengan cara ini, dia dengan cepat bisa berbaur dengan penduduk desa kecil itu dengan membawa 12 anggota keluarganya.

Tetangga sering mampir untuk membantunya, dan memberinya apa saja yang enak di rumah untuk bekal makan siangnya. Akan ada api unggun di malam hari, dan semua orang akan duduk duduk sambil bernyanyi dan menari bersama setelah semuanya kelelahan pada siang hari.

Beberapa orang mengungkapkan kekaguman, tetapi banyak orang tidak mengerti: Mengapa ia harus hidup di pegunungan pada usia yang masih belia?

Tapi tidak peduli apa yang dibicarakan orang-orang , Xiao Qian puas dengan semua yang ia jalani.

“Ketika saya masih kecil, saya tinggal di pedesaan, dan saya merasa itu sangat menyenangkan. Setiap kali saya menanam dan memanen padi, saya merasa sangat bahagia,” ujarnya.

Bagi Xiao Qian, dia sangat menyukai kehidupan seperti ini, berharap dapat menjamu tamu dari seluruh dunia di penginapannya, dan menunjukkan kepada mereka pesona Zhangjiajie. Inilah yang paling membuatnya bahagia

Pegunungannya sangat luas, ombak pinus mengaum, dan awan serta kabut tak terbatas dan penginapan Xiao Qian secara bertahap mulai terbentuk di lautan awan ini.

“Days on the Clouds” terletak di lembah tidak jauh dari spot pemandangan Zhangjiajie.
Berbeda dengan bentang alam yang menakjubkan dan spektakuler dari puncak hutan dan ngarai di luar lembah. Dia sana yang ada hanya sawah, sungai, kolam …

Saat Matahari terbenam, burung yang lelah kembali ke hutan, menciptakan pemandangan pastoral yang damai dan indah.

Kayu kasar dan dinding lumpur kuning, penginapan tersembunyi di rumpun bambu yang bergoyang tertiup angin, bersama dengan pegunungan, hutan dan sungai di sekitarnya, membentuk gambaran yang paling harmonis dalam lukisan pastoral pedesaan ini.

Meskipun dari luar, ini terlihat seperti rumah dari tanah biasa, tetapi ketika masuk ke dalamnya, Anda akan menemukan bahwa itu adalah masalah besar.

Rumah yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu ini memancarkan aroma kayu dan bau pegunungan di mana-mana. Berada di dalamnya seolah menyatu dengan alam, waktu seakan berhenti di sini

Elemen kayu bisa dilihat di mana-mana, balok, meja dan kursi, dekorasi … dibuat oleh Xiao Qian secara pribadi menggunakan kayu dari pegunungan setempat.

Bunga-bunga liar yang diletakkan di atas meja di lobby lantai satu juga dipetik langsung olehnya dari pinggir hutan. Tamu bisa mengobrol dan bermain dengan wangi bunga dan embun.

Jika Anda adalah seseorang yang suka suasana santai, Anda bisa bisa membaca buku sambil duduk dengan tenang hampir sepanjang hari.

Di sebelah penginapan, terdapat ruang kaca yang dirancang khusus untuk wisatawan. Kaca transparan dari lantai ke langit-langit di semua sisi memungkinkan sinar matahari masuk tanpa gangguan, dan kontak intim dengan alam juga memungkinkan di sini.

Duduk dan memandangi awan, dengan angin sepoi-sepoi bertiup di wajah Anda, makan pagi dan minum teh sore di sini benar-benar terasa luar biasa

Berdiri di koridor lantai atas, atau duduk di balkon atas, angin sepoi-sepoi bertiup melintasi perbukitan dan hutan bambu, bertiup lembut ke wajah orang-orang, menyaksikan pegunungan hijau bergelombang seperti ombak, masalah hidup menghilang seketika.

Ada 5 kamar di penginapan. Xiao Qian memberi mereka nama masing-masing: Bersandar pada Angin, Mendengarkan Hujan, Memilih Bintang , Mengamati
Bulan dan Mengejar Matahari .

Duduk-duduk di gedung, mendengarkan angin dan hujan, dan mengamati sungai dan danau dengan acuh tak acuh, bukankah itu adalah kehidupan di atas awan?

Terlepas dari gaya kuno penginapan, sofa yang indah dan nyaman telah membawa orang kembali ke zaman modern.

Di sore hari, membaca buku dan meringkuk di dalamnya, dan sinar matahari yang cerah memancarkan cahaya dan bayangan berbintik-bintik melalui hutan bambu, memercik dengan hangat di tubuh , dan tertidur dengan aroma buku secara tidak sengaja.

Bangun dan duduk di jendela dan menikmati secangkir teh, bersandar di pagar dan melihat ke pegunungan di kejauhan, mendengarkan angin, melihat awan, melihat bintang, melihat bulan.

Anda tidak perlu panik saat melihat monyet liar yang datang dan pergi. Monyet liar tersebut sama sekali tidak liar. Hanya saja, jangan masuk ke wilayahnya sesuka hati.

Di sini Anda juga bisa merasakan alam di ujung lidah, rebung rebung setelah hujan, sayur-mayur yang baru ditarik dari tanah, dan buah-buahan liar di gunung tumbuh dan matang sesuai dengan empat musim. Anda dapat memakan pada waktunya dan nikmati anugerah alam.

Menggali rebung, memetik buah-buahan liar, melihat monyet, kepala pelayan penginapan akan membawa Anda menikmati semua ini

Ikuti penduduk setempat untuk mempelajari metode kuno dalam membuat teh, dan membuat secangkir teh segar yang rasanya akan tak terlupakan dalam hidup Anda.

Setelah kembali dari pegunungan, Anda dapat mencicipi hidangan lokal otentik yang dimasak oleh bibi dan duduk di restoran kaca yang disiram sinar matahari.

Hari-hari di awan mungkin seperti ini. Awan diam melayang bersama angin. Anda tidak perlu memikirkan bagaimana waktu berlalu, lakukan saja apa pun yang Anda inginkan.

Ketika masih sekolah, orang-orang sering bertanya pada Xiao Qian: “Apa cita-cita Anda?”

Dia selalu menjawab dengan jujur: “Saya harap saya bisa membuka homestay di kampung halaman saya, menyapa tamu selama musim ramai, dan bepergian di luar musim …”

Sekarang dia sudah berhasil membuat homestay, tapi cita-citanya baru separuh terwujud. Dia mengabdikan diri pada penginapan, belum memulai bepergian, dan bahkan belum pernah keluar gunung beberapa kali.

Tetapi Xiao Qian tidak merasa menyesal: “Saya menikmati hidup saya sekarang, karena tidak ada yang lebih menggoda daripada pemandangan kampung halaman saya.” (lidya/yn)

Sumber: funnews61

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular