oleh Luo Ya, Wang Jiayi

Baru-baru ini, varian virus baru telah muncul dan menyebar dengan cepat di Kota Guangzhou, Shenzhen dan tempat-tempat lainnya. Karena itu masyarakat mulai panik dan berduyun-duyun menuju tempat-tempat vaksinasi. 

Menurut angka resmi, dalam 5 hari berjalan itu, sekitar 100 juta orang warga telah divaksin. 

Namun, sampai sejauh ini pemerintah belum bersedia menginformasikan kepada masyarakat bahwa banyak orang yang tertular virus tersebut, sebelumnya sudah menerima 2 dosis suntikan vaksin buatan dalam negeri. 

Selain itu juga belum mengumumkan kasus-kasus fatal dan cacat yang timbul di berbagai tempat setelah menerima suntikan vaksin.

Namun, masih saja ada warga Guangzhou dan Shenzhen yang menyampaikan kepada reporter Epoch Times, mengatakan mereka tidak mau disuntik dengan vaksin buatan domestik yang efektivitasnya buruk, juga takut menyebabkan efek samping yang serius.

Ahli : Pemerintah memanfaatkan kepanikan masyarakat untuk mempromosikan vaksinnya

Menurut pengumuman dari pihak berwenang bahwa virus varian India muncul di Guangzhou, dan virus varian Inggris muncul di Shenzhen. 

Virus varian ini menyebar lebih cepat dan lebih kuat, menyebabkan kepanikan di antara warga masyarakat daratan Tiongkok. 

Akibatnya warga berduyun-duyun mendatangi tempat vaksinasi. Bahkan tidak sedikit warga yang sudah mulai mengantre untuk mendapat giliran dari jam 4 pagi.

Media Partai Komunis Tiongkok ‘Xinhua’ melaporkan pada 29 Mei, bahwa lebih dari 600 juta orang telah disuntik dengan vaksin buatan dalam negeri, dan hanya butuh 5 hari untuk memvaksinasi 500 juta orang hingga 600 juta orang. 

Hanya saja patut disayangkan bahwa dalam keadaan vaksin buatan dalam negeri yang sudah begitu luas digunakan, pemerintah baru pada 28 Mei merilis laporan pertama tentang efek samping yang timbul dari mereka yang menerima vaksinasi.

Menurut laporan tersebut, tercatat hingga akhir bulan April, dari jumlah 265 juta dosis vaksin buatan dalam negeri yang digunakan, terdapat 31.434 kasus efek samping dari suntikan. Diantaranya, 26.078 kasus merupakan reaksi umum dan 5.356 kasus merupakan reaksi abnormal. Di antara reaksi abnormal tersebut, terdapat 188 kasus yang tergolong parah, namun petugas tidak menyebutkan gejala spesifiknya.

Dalam wawancara dengan Epoch Times, Dr Lin Xiaoxu, mantan peneliti virologi di US Army Research Institute mengatakan bahwa ada 5 hal penting yang perlu diwaspadai oleh warga sipil daratan Tiongkok : Pertama, hasil pemantauan dari efek samping yang diakibatkan oleh vaksinasi, harus transparan dan diperbarui dari waktu ke waktu agar masyarakat dapat memahami situasi setiap saat, tidak perlu menunggu data yang diberikan pemerintah.

Kedua, Cara pemantauan yang dianut komunis Tiongkok ini bergantung pada sistem jaringan yang dikembangkan sendiri. Dengan kata lain, mereka hanya mengumpulkan data tentang efek samping yang dilaporkan sendiri oleh penerima vaksinasi. Sepenuhnya bergantung pada kerja sama spontan dari penerima vaksinasi. Sementara itu, klinik rumah sakit dan staf medisnya yang terlibat dalam memberikan vaksinasi tidak diminta untuk ikut memantau dan melaporkan adanya efek samping penerima vaksinasi.

Oleh karena itu, pengumpulan informasi semacam itu pasti menyertakan banyak laporan yang belum tentu benar. Hanya puluhan ribu laporan efek samping yang tercatat dari ratusan juta orang yang telah divaksin. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme yang digunakan sangat tidak efisien, sehingga data yang terkumpul jauh dari situasi sebenarnya. Data itu dirilis dengan tanpa menyertakan rincian-rincian yang menunjang.

Ketiga, data yang dilaporkan sifatnya umum, dan tidak membedakan jenis efek samping yang disebabkan oleh vaksin domestik yang mana, sehingga tidak mungkin bagi publik untuk membandingkan vaksin buatan pabrik mana yang lebih aman.

Keempat, beberapa perusahaan vaksin dalam negeri belum secara resmi menerbitkan laporan lengkap uji klinis tahap ketiga dari vaksin yang telah diverifikasi oleh rekan-rekan. Hal ini menunjukkan bahwa, perusahaan-perusahaan pharmasi tersebut masih kongkalikong sama pemerintah untuk menyembunyikan fakta.

Kelima, Apa saja efek samping serius yang muncul, dan bagaimana keadaan spesifiknya, ini semua tidak diumumkan. Ini adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Terlepas dari besar kecilnya kemungkinan terjadinya efek samping yang serius, staf medis perlu mengetahui agar dapat bertindak dalam memberikan pertolongan. Dengan tidak mempublikasikan rincian, dalam hal ini berarti pihak berwenang meremehkan nyawa orang.

Menanggapi luar biasa cepatnya vaksinasi diberikan, Lin Xiaoxu secara blak-blakan mengatakan bahwa pemerintah komunis Tiongkok sekarang sedang memanfaatkan kepanikan masyarakat untuk mempromosikan vaksin.

Vaksin domestik seringkali tidak efektif dan tidak dilaporkan, Shanghai butuh suntikan dosis ke-3

Menurut laporan ‘Media Penyiaran dalam Menanggapi Keadaan Darurat Nasional’ pada 30 Mei pukul 20:00, bahwa Konferensi Pers dari CDC Kota Shenzhen mengumumkan bahwa epidemi tidak ada hubungannya dengan epidemi yang terjadi baru-baru ini di wilayah lain seperti di Liaoning, Anhui, dan Guangzhou. Dikatakan bahwa kemungkinan paparan warga komunitas adalah akibat petugas yang bekerja di pelabuhan terpapar lebih dahulu. Selain itu pejabat juga mengatakan bahwa 11 kasus yang terjadi di Kota Shenzhen, semua terpapar oleh varian virus B117 yang awalnya terdeteksi di Inggris.

Kasus 1 sampai 6, semuanya berada di area operasi Yantian Gangxi, dan kasus 7 adalah anggota keluarga. Kasus ke-8 hingga ke-11, juga dipajang di pabrik Haina. Kasus ke-12 dan ke-13 adalah seorang pria bermarga Xia dan istrinya bermarga He yang bekerja di Pelabuhan Yantian.

Gelombang epidemi di Shenzhen ini telah menyebar ke area pelabuhan dan pabrik display Hainer. Setidaknya 7 orang pekerja di sana terinfeksi di area pelabuhan, dan semuanya sudah pernah menerima vaksinasi. Tetapi tidak diberitakan secara terbuka oleh pihak berwenang.

Mr. Li, seorang penanggung jawab perusahaan swasta di Shenzhen juga mengatakan kepada reporter Epoch Times, bahwa perusahaannya juga diharuskan untuk mengirim semua karyawannya untuk mendapat suntikan vaksin. Dia mengatakan : “Efektivitas vaksin Tiongkok hanya 50%  dan saya tidak ingin menghabiskan beberapa bulan menunggu vaksin semacam ini”.

Mrs. Chen yang warga Shanghai mengungkapkan kepada reporter Epoch Times, bahwa banyak dari teman-temannya di sekitarnya melaporkan mengenai efek samping yang terjadi setelah disuntik vaksin antara lain mengantuk, lengan sakit, dan anggota badan lemah tidak bertenaga. Tetapi para pejabat mengatakan bahwa itu adalah hal yang normal, sehingga tidak dilaporkan ke CDC. 

Sementara itu beberapa rumah sakit di Shanghai sudah memulai menyuntikkan vaksin dosis ketiga kepada warga. Di Galangan Kapal Jiangnan tempat suami temannya bekerja, lebih dari 2.000 orang yang diuji antibodi setelah dua kali suntikan vaksin. Terdapat 700 orang yang tidak memiliki antibodi sehingga perlu menerima suntikan dosis ketiga. (sin)

Share

Video Popular