Erabaru.net. Menurut laporan media, Zeng, berusia 38 tahun, yang tinggal di Hsinchu, Taiwan, didiagnosis menderita penyakit kanker pada tahun 2018.

Karena kondisinya semakin parah, dia harus meninggalkan putri kesayangannya dan dirawat di rumah sakit untuk kemoterapi.

Sayangnya, kemoterapi tidak memperbaiki kondisinya. Ketika dia menyadari bahwa kondisinya menjadi semakin lemah, dan penyakit tidak dapat disembuhkan. Zeng berkata terus terang mengatakan pada tim medis : “Saya tahu saya tidak akan menjadi lebih baik …”, jadi dia mulai mendiskusikan rencana masa depannya dengan para dokter di Bangsal Anning.

Zeng sangat merasakan ketidak berdayaan dan kerapuhan dalam hidupnya, kemoterapi yang menyiksa membuatnya bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bermain dengan putrinya.

Dia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan melihat ekspresi kecewa putrinya. Dia tidak ingin terus seperti ini lagi! Jadi Tuan Zeng memutuskan untuk meninggalkan perawatan, dan dia tidak ingin membiarkan kemoterapi menghabiskan waktu yang tersisa dengan putrinya.

Putrinya akan masuk taman kanak-kanak, hati Zeng sangat gelisah, dia takut akan terbaring di ranjang rumah sakit dan tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk meninggalkan kenangan apa pun pada putrinya.

Dia mengatakan, meskipun tubuhnya sangat lemah, dia berharap bisa mengantar putrinya di hari pertamanya masuk taman kanak-kanak dan menggandeng tangannya memasuki kelas barunya.

Zeng tahu bahwa dia tidak punya banyak waktu, jadi dia memohon kepada rumah sakit untuk membantunya memenuhi keinginan terakhirnya. Setelah mendengar keinginan Zeng, rumah sakit sangat terharu dan segera memulai persiapannya.

Namun, pihak rumah sakit masih tidak berani untuk memenuhi keinginan Tuan Zeng. Bagaimanapun, kondisi fisik Zeng tidak memungkinkan dan itu bisa membahayakan kondisinya.

Oleh karena itu, Dr. Weng Jingfu, direktur di Departemen Penyakit Pernafasan dan Dada Rumah Sakit Cathay Pacific, memimpin tim untuk mengevaluasi obat-obatan dan bahkan menghubungi pihak taman kanak-kanak. Dokter Weng mengurus semuanya sendiri dan membuat pengaturan yang sangat teliti.

Akhirnya di hari pertama sekolah dengan didampingi oleh tenaga medis, Zeng akhirnya berhasil menggandeng tangan putrinya ke dalam kelas dan memenuhi keinginan terakhirnya dalam hidup.

Melihat foto putrinya yang mengenakan seragam taman kanak-kanak dan melompat-lompat di ruang kelas , Zeng yang tengah terbaring di tempat tak kuasa menahan emosinya, arena akhirnya dia berhasil menjalani perannya sebagai ayah untuk putrinya walau hanya sehari.

Tim medis juga membuat video singkat tentang awal sekolah putrinya dan ucapan selamat dari Zeng kepada putrinya, dan memberikannya kepada ayah dan putrinya sebagai hadiah awal sekolah.

Zeng tidak bisa menahan air mata setelah menonton video tersebut. Selain tersentuh oleh pertumbuhan putrinya yang sehat, dia juga sangat sedih.

Meski wajar bagi banyak orang untuk mengantar anaknya ke sekolah, ini adalah hal yang luar biasa yang Zeng lakukan, dengan mencurahkan seluruh kekuatannya untuk diberikan kepada putrinya.(lidya/yn)

Sumber: starnews19

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular