Epochtimes.com

Foto-Foto Lawas yang dibagikan oleh Mr. Dongfang kepada The Epoch Times. Foto-foto tersebut diambil di Lapangan Tiananmen  Mei 1989 Jelang Pembantaian 4 Juni 1989.  Selengkapnya, pada 15 April 1989, Hu Yaobang, pemimpin komunis Tiongkok yang dikenal sebagai reformis meninggal dunia, menimbulkan rasa duka yang mendalam dari para mahasiswa Tiongkok. 

Sejak pertengahan hingga akhir April itu, sejumlah besar mahasiswa dan masyarakat dari seluruh negeri terus berdatangan ke ibukota Beijing, dengan harapan dapat berdialog langsung dengan pemerintah dan menyampaikan aspirasi mereka yang antara lain adalah menuntut dihapuskannya sistem harga jalur ganda, anti-korupsi, dan memperjuangkan demokrasi.

Namun, pemerintah komunis Tiongkok tidak mau mempedulikan tuntutan rakyat, dan corong pemerintah pun terus berusaha memutarbalikkan fakta. Bahkan, memprovokasi yang benar dan salah, memicu timbulnya pro dan kontra di masyarakat, sehingga kontradiksi meningkat. 

Pada akhirnya, pemerintah komunis Tiongkok menggunakan senapan dan kendaraan tank untuk secara brutal menindas gerakan demokrasi patriotik ini, menyebabkan bencana yang mengerikan.

Sejak 3 Juni 1989 malam, pembantaian yang terjadi di daratan Tiongkok itu mengejutkan dunia dan mengungkap watak komunis Tiongkok yang kejam dan jahat. 

Mungkin foto-foto masa lalu sudah tidak jelas lagi dan warnanya berangsur-angsur memudar, namun di benak masyarakat, Gerakan 4 Juni 1989  tidak akan terlupakan sepanjang masa. 

Berikut adalah kumpulan foto-foto lawas yang diberikan oleh Mr. Dongfang kepada Epoch Times. Dari foto-foto tersebut kita bisa melihat sekilas penampakan sebenarnya dari gerakan mahasiswa saat itu.

Pada 17 Mei 1989 masyarakat sipil berunjuk rasa guna mendukung mogok makan mahasiswa

Hingga hari kelima para mahasiswa di lapangan Tiananmen melakukan mogok makan, pemerintah komunis Tiongkok masih masih enggan menerima dialog dan mengabaikan tuntutan mahasiswa. 

Dan, sejak saat itu terjadi demonstrasi besar-besaran yang diikuti oleh satu juta lebih warga sipil dari semua lapisan di Beijing, yang membawa kegiatan mendukung mencapai titik klimaks.

 

Pada 17 Mei 1989, di depan Lapangan Tiananmen, Beijing para mahasiswa berunjuk rasa  untuk menuntut demokrasi. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)
Pada 17 Mei 1989 sekitar pukul 19:00, di depan Lapangan Tiananmen, Beijing beberapa mahasiswa meneriakkan slogan-slogan yang menuntut demokrasi melalui pengeras suara. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)
Pada 17 Mei 1989, para mahasiswa mengangkat spanduk untuk mengekspresikan keinginan mereka. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)
Pada 17 Mei 1989, para mahasiswa memberikan pidato di sisi selatan Balai Agung Rakyat, Beijing. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)
Pada 17 Mei 1989, lautan manusia di Lapangan Tiananmen. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)
Pada 17 Mei, di sebelah timur Lapangan Tiananmen, Beijing, sebuah ambulans sedang menolong mahasiswa yang mogok makan. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)

Pada 18 Mei 1989

Menurunnya kesehatan para mahasiswa yang mogok makan memengaruhi hati warga sipil Beijing. Banyak organisasi sosial dan para cendekiawan,  mengirimkan surat terbuka dan himbauan kepada para pemimpin Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok dan Dewan Negara. Agar bersedia untuk berdialog dengan para mahasiswa yang sedang mogok.

Pada 18 Mei 1989 pagi, para dosen dari Universitas Ilmu Politik dan Hukum mulai melakukan mogok makan sebagai tuntutan di depan Gerbang Xinhua. Dijaga oleh lebih dari 20 orang polisi militer. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)

Pada 20 Mei 1989

Pada 20 Mei 1989 pagi hari, Li Peng, yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Tiongkok, mengumumkan penerapan darurat militer di beberapa daerah, melarang aksi unjuk rasa, pawai dan kegiatan lainnya. Darurat militer menimbulkan kemarahan masyarakat. Jumlah orang di Lapangan Tiananmen dan jalan-jalan di Beijing malahan bertambah. Ratusan ribu orang berbaris di jalan-jalan, untuk menuntut Li Peng dan Deng Xiaoping mundur dari jabatan.

Pada 20 Mei 1989, sekitar pukul 13:00, sejumlah slogan digantungkan oleh mahasiswa dan warga di peron pengatur lalu lintas pada sisi barat Lapangan Tiananmen. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)
Pada 20 Mei 1989, sekitar pukul 13:00, sejumlah slogan digantungkan oleh mahasiswa dan warga di peron pengatur lalu lintas pada sisi barat Lapangan Tiananmen. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)
Pada 20 Mei 1989, setelah darurat militer dikeluarkan, masih banyak orang yang berada di Lapangan Tiananmen. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)
Pada 20 Mei 1989, setelah darurat militer dikeluarkan, situasi saat mahasiswa dari Universitas Sains dan Teknologi Tiongkok memblokir Gerbang Xinhua. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)

Pada 21 Mei 1989

Asosiasi Otonomi Mahasiswa Universitas Beijing, menghendaki mahasiswa untuk mengevakuasi diri dari Lapangan Tiananmen. Wang Dan, mengadakan pertemuan darurat dengan perwakilan siswa dengan keputusan memveto resolusi Asosiasi tersebut. (Sin)

Pada 21 Mei 1989 siang, sejumlah materi propaganda ditempelkan pada patung marmer di depan memorial hall. (otorisasi  dari Dongfang/Epoch Times)

 

Share

Video Popular