Isabel Van Brugen

Situs Web Pemeriksa Fakta, PolitiFact secara diam-diam mencabut sebuah periksa fakta pada September 2020 yang melabeli sebuah klaim ahli virologi Hong Kong, bahwa COVID-19 berasal dari laboratorium adalah tidak akurat dan merupakan sebuah “teori konspirasi yang dibantah.”

PolitiFact  sempat melabeli berita asal mula COVID-19 dari Laboratorium dengan menyebutkan : “Klaim tersebut adalah tidak akurat dan konyol, Kami menilainya Kebohongan yang Parah!” demikian cek fakta yang kini diarsipkan sebelumnya. 

“Saat cek fakta ini pertama kali diterbitkan pada bulan September 2020, sumber-sumber PolitiFact yang mencakup para peneliti yang menegaskan virus SARS-CoV-2 tidak mungkin dimanipulasi. Pernyataan yang tegas itu kini lebih banyak diperdebatkan,” catatan editor tersebut menyatakan. “Untuk alasan itu, kami menghapus cek fakta ini dari basis data menunggu tinjauan yang lebih menyeluruh. Saat ini, kami mempertimbangkan klaim tersebut tidak didukung oleh bukti dan dalam perselisihan.”

Cek fakta yang asli dari PolitiFact mengutip sebuah wawancara Fox News dengan ahli virologi Hong Kong Yan Limeng pada 15 September 2020, di mana dYan Limeng mengatakan ia memiliki “bukti ilmiah yang kuat” bahwa COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus Komunis Tiongkok, “bukan berasal dari alam.”

“Ini adalah sebuah virus buatan manusia yang dibuat di laboratorium,” ahli virologi Yan Limeng dan mantan rekan pasca-doktoral di Universitas Hong Kong mengatakan kepada jaringan berita pada  waktu itu.

Yan Limeng juga mengklaim dalam wawancara bahwa, virus tersebut secara  sengaja dirilis oleh rezim Tiongkok, tanpa menjelaskan lebih lanjut. Yan Limeng mengatakan genom virus tersebut menunjukkan bahwa virus tersebut telah dimodifikasi.

“Dalam wawancara tanggal 15 September, program yang paling banyak ditonton di jaringan kabel menayangkan sebuah teori konspirasi yang telah dibantah sejak awal pandemi Coronavirus,” kata cek fakta PolitiFact terhadap klaim-klaim ahli virologi  Yan Limeng.

Situs media sosial seperti Facebook dan Instagram, yang bermitra dengan PolitiFact, menandai postingan yang berisi klaim Yan Limeng adalah  salah.

Pencabutan diam-diam muncul saat anggota Komite DPR AS dari Partai Republik mengatakan, mereka percaya kemungkinan besar virus Komunis Tiongkok berasal dari laboratorium Tiongkok, bukannya berasal dari binatang.

“Ada bukti tidak langsung yang luar biasa … untuk mendukung sebuah kebocoran laboratorium sebagai asal mula COVID-19,” demikian laporan komite tersebut pada  19 Mei, yang dipimpin oleh Sentor Republik Devin Nunes (R-Calif.), anggota peringkat pada komite. 

“Sebaliknya, sedikit bukti tidak langsung muncul untuk mendukung Republik Rakyat Tiongkok mengklaim bahwa COVID-19 adalah kejadian alami, setelah melompat dari beberapa spesies lain ke manusia.”

COVID-19 pertama kali muncul di pusat kota Wuhan di Tiongkok pada akhir tahun 2019, ketika sekelompok kasus dikaitkan dengan pasar basah setempat. Lebih dari setahun kemudian, asal virus tersebut tetap tidak diketahui, meskipun fokusnya kini telah bergeser terhadap teori bahwa virus tersebut bocor dari laboratorium di Institut Virologi Wuhan Tiongkok. 

Virus yang bocor semacam itu juga menjadi virus alami atau yang telah dimanipulasi di laboratorium.

Institut Virologi Wuhan adalah rumah bagi satu-satunya laboratorium P4 di Tiongkok—–tingkat keamanan hayati tertinggi—–dan terletak tidak jauh dari pasar basah Wuhan. 

Sebuah lembatan fakta Kementerian Luar Negeri yang dirilis pada bulan Januari menyatakan bahwa, Institut Virologi Wuhan telah melakukan eksperimen terhebat Coronavirus kelelawar dimulai setidaknya sejak tahun 2016. Institut Virologi Wuhan juga melakukan “eksperimen-eksperimen binatang laboratorium” untuk  militer setidaknya untuk sejak 2017.

Lebih penting lagi, Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa pihaknya memiliki alasan untuk percaya bahwa “beberapa peneliti di dalam Institut Virologi Wuhan jatuh sakit pada musim gugur 2019, sebelum kasus wabah yang pertama kali diidentifikasi, dengan gejala yang konsisten untuk COVID-19 dan penyakit musiman yang umum.”

Rezim Tiongkok membantah bahwa asal virus tersebut terkait dengan Virologi Wuhan Tiongkok  dan telah mendorong hipotesis zoonosis alami—bahwa virus itu ditularkan ke manusia dari hewan inang. Namun, Beijing sejauh ini gagal mengidentifikasi spesies hewan asli yang diduga menularkan virus pada manusia.

Menurut laporan itu, Beijing menguji lebih dari 80.000 hewan dan masih tidak dapat mengidentifikasi spesies aslinya.

PolitiFact tidak menanggapi permintaan komentar ketika dikonfirmasi.

Pada Desember 2020, situs pengecekan fakta bernama COVID-19 disinformasi, termasuk klaim bahwa virus dimanipulasi di laboratorium, sebagai “kebohongan tahun ini.” (Vv)

Share

Video Popular