Erabaru.net.  DeTara Foundation bekerjasama denggan NL Alumni Network and Nuffic Neso Indonesia mengggelar seri WebTalk bertajuk Advancing Youth in Sustainable Development Goals (SGDs/Memajukan Generasi Muda dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dengan mengangkat tema Peran Anak Muda dalam Mempromosikan Keanekaragaman Hayati Lokal untuk Ketahanan Pangan pada akhir April lalu.

Melansir dari keterangan persnya, WebTalk ini dapat dikatakan unik, karena tidak hanya mengundang para lulusan dari Belanda sebagai narasumber, tetapi juga melibatkan anak-anak muda berusia 16-20 tahun sebagai narasumber maupun peserta WebTalk.

Kegiatan daring tersebut menghadirkan pembicara anak muda berasal dari empat wilayah berbeda di Indonesia (Kepulauan Anambas, Kupang, Garut, dan Gorontalo). Sebanyak 122 peserta berasal dari 15 provinsi di Indonesia mengikuti kegiatan WebTalk tersebut. 

WebTalk yang terdiri dari dua sesi dibuka oleh Direktur Nuffic Nesso Indonesia, Peter van Tuijl. Dalam sambutannya, Peter menekankan bahwa urusan pangan tidak jauh dengan sektor agrikultur.

“Sektor agri bukan hanya milik generasi tua, tetapi kita membutuhkan anak muda untuk terjun di dalamnya”, pesan Peter.  Anak muda dan teknologi yang ramah lingkungan mendorong transisi menuju pertanian yang berkelanjutan. 

Bangun Energi Kita untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan dan SDGs

Sesi pertama menampilkan dua narasumber kunci, R. Dikky Indrawan, Alumni Wageningen University and Research sekaligus dosen di Sekolah Bisnis IPB University dan Latipah Hendarti, Direktur DeTara Foundation.

Dikky membagikan pengalamannya dalam berbagai program dan kegiatan untuk berpartisipasi dalam mewujudkan SDGs dan ketahanan pangan, melalui kerjasama dengan IPB University, beberapa institusi, dan rekan-rekannya.

“Berbicara tentang SDGs, pertama harus memberikan manfaat khususnya bagi orang yang rentan sehingga dalam pelaksanaannya tidak ada yang tertingal (no one left behind). Kedua pembangunan berkelanjutan harus dilaksanakan oleh seluruh dunia. Ketiga pembangunan memiliki berbagai dimensi, manusia-ekonomi-lingkungan, maka jangan sampai suatu pembangunan tidak diintegrasikan dengan sosial dan lingkungan”, jelas Dikky.

Sebagai lembaga non-profit bergerak di bidang pendidikan lingkungan hidup untuk pembangunan berkelanjutan, DeTara Foundation sangat dekat dengan anak muda dalam berbagai kegiatannya, mulai dari lokal, nasional, maupun internasional. 

“Anak muda berperan sebagai agen perubahan dan mendorong inklusifitas. Mari berkontribusi dalam mewujudkan SDGs, dengan berbagai cara, diantaranya: (1) terus belajar, berbagi, dan asah kemampuan; (2) memulai dari diri sendiri, do more good by doing less harm; dan (3) bangun kesukarelawanan, jejaring, dan koneksi untuk memperkuat diri sebagai agen perubahan,” pesan Latipah kepada generasi muda.

Pada sesi kedua dilaksanakan secara paralel. Ruang A mengangkat judul Keanekaragaman Hayati Lokal untuk Ketahanan Pangan di Daerah Pesisir: Potensi, Hambatan, dan Tantangan. Dalam ruang ini menghadirkan Wahyu Hidayat siswa SMAN 1 Palmatak serta Mariana Priska dan Fransiska Galatia dari Politeknik Pertaian Negeri Kupang.

Sebagai daerah kepulauan yang dikelilingi lautan dan bahkan berbatasan laut dengan negara lain (Vietnam dan Malaysia), Anambas memiliki berbagai hambatan dan tantangan terhadap ketahanan pangan, diantaranya eksploitasi SDA secara besar-besaran, sifat malas masyarakat, dan perubahan iklim.

“Sesungguhnya Anambas kaya akan hasil laut seperti ikan simbok (tongkol), cumi, kima, dan bilis hijau, begitu juga dengan kondisi daratan yang cocok untuk berbagai buah-buahan tropis. Akan tetapi sifat malas dan serba instan yang menganggap laut dan daratan masih menyediakan sumber daya alam secara melimpah, menjadikan pemikiran masyarakat tidak perlu membudidayakan. Padahal sebagai daerah kepulauan Anambas rentan terhadap perubahan iklim, pada saat angin utara-selatan, para nelayan tidak memungkinkan pergi melaut karena cuaca ekstrim,” ungkap Wahyu.

Pada kesempatan tersebut, Wahyu berbagi cerita tentang berbagai kegiatan di tingkat sekolah dan komunitas dalam mempromosikan keanekaragaman hayati untuk ketahanan pangan di daerah pesisir. Pada tingkat sekolah, di Anambas sudah mulai muncul sekolah-sekolah yang menerapkan Program Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan, mempromosikan pangan lokal, memperkenalkan budidaya ikan maupun tanaman pangan, dan membuat video dokumunter lingkungan yang diunggah melalui YouTube.

Beralih ke daerah Kupang, Nusa Tenggara Timur, Priska dan Galatia menceritakan bahwan Kupang merupakan daerah kering. Pemenuhan terhadap kebutuhan air merupakan salah satu tantangan yang dihadapi dalam kegiatan pertanian di sana. Keragaman hayati sebagai ketahanan pangan NTT diantaranya adalah ubi kayu, sorgum, uwi, jagung, kacang tanah, dan kacang merah, padi lokal kodi, pisang kelimutu/pisang baranga, kelor, talas, kacang hijau, dan kacang nasi.

“Di kampus Politeknik Pertanian Negeri Kupang, kami menanam kacang merah inerie sampai menghasilkan benih. Juga membudidayakan pisang baranga dan pisang tembaga merah di kampus dan di kampung Baumata”, jelas Priska.

Masyarakat NTT sesungguhnya telah mengenal sistem bercocok tanam polikultur sebagai strategi untuk mejamin ketahanan pangan selama satu musim tanam. Beberapa jenis tanaman pertanian dapat dikombinasikan dalam satu lahan bersama-sama, seperti jagung, labu, dan kacang-kacangan bahkan ubi kayu.

Selain mempromosikan keanekaragaman hayati lokal agar tidak mudah hilang, Priska dan Galatia juga mempelajari pembuatan pupuk kompos dari sumberdaya lokal dan melakukan introduksi beberapa jenis tanaman pangan untuk memperkuat ketahanan pangan di daerahnya.

Memerangi Kerawanan Pangan, Membangun Resiliensi Komunitas di Masa Pandemi

Sesi kedua Ruang B mengangkat judul Mempromosikan Keanekaragaman Hayati Lokal untuk Pola Konsumsi  Lebih Baik. Ruang ini menampilkan Nunung Nurhasanah & Akhfaa N. Al-Wafaa (Pesantren Ekologi Ath-Thaariq Garut, Jawa Barat) dan Tandang Tegar Priyangga (Sekolah Kampung Saritani, Gorontalo). 

Nunung dan Akhfaa berbagi tentang konsep agroekologi yang diterapkan di pesantren mereka. “Agroekologi sesunguhnya sistem pertanian tradisional yang memberikan penghargaan pada semua makhluk hidup dan menyelamatkan ekosistem. Melaui agrekologi, setiap orang belajar saling menghormati makhluk hidup ciptaan Tuhan YME dan mendapatkan potensi yang begitu banyak dari cara bertanam. Pertanian agroekologi dapat dianggap sebagai penyelamat krisis ekologi, seperti di masa pandemi covid-19 dan perubahan iklim,” jelas Nunung.

Menurut Nunung, Pandemi Covid-19 dan Perubahan Iklim, menyadarkan pentingnya Agroekologi berbasis Keanekaragaman hayati untuk mewujudkan keberlanjutan dan kedaulatan. Di pesantren, pihaknya telah terbiasa dengan pola makan bervariasi. Sumber karbohidrat tidak melulu dari beras, tetapi kami biasa makan talas, singkong, pisang, buah sukun, gembili, dan jagung.

Sedangkan, Sumber sayuran  bisa dari pegagan, daun kelor, jarak pagar, enceng sawah, kangkung sawah, bayam daun besar. Sumber buah-buahan lokal dari jambu batu, tomat ceri, mangga, kelapa, nangka, pisang, ciplukan. Juga konsumsi rempah dan tanaman herbal temulawak, temu putih, kunyit.

Keberadaan kebun  Pesantren Ekologi Ath-Thaariq menyediakan pangan pada masa nyaman dan paceklik bagi penghuninya dan membantu tetangga di lingkungannya. Pesantren Ath-Thaariq terus mempromosikan agroekologi sebagai cara memulihkan alam dan menguatkan ekonomi keluarga. Di pesantren ini, para santri dapat belajar mulai dari bertanam, menyimpan benih, panen, dan sampai pengolahan hasil panen.

Dari Gorontalo, Tandang menceritakan kondisi topografi di daerahnya, yang berupa pengunungan dan berbukit dengan tingkat kemiringan diatas 20 persen. Kondisi topografi yang demikian menjadi tantangan tersendiri bagi petani di sana.

Beberapa hambatan yang dirasakan oleh para petani di Saritani antara lain, modal usaha produksi pertanian (jagung) berasal dari tengkulak; akses jalan relatif sulit berdampak pada biaya distribusi hasil pertanian; keberadaan benih lokal jenis tanaman seperti jagung Binthe Hulapa/Binthe Kiki dan padi Ponelo Puti yang adatif terhadap iklim semakin langka karena diperkenalkannya benih baru, seperti jagung hibrida oleh pemerintah.

Tandang bersama generasi muda lainnya turut mempromosikan sistem agroforestri terhadap para petani dan diikuti dengan memelihara ternak  kambing. Melalui agroforestri. Lahan dapat ditanam secara campuran misal tanaman semusim (sayuran, ubi, cabai), pohon buah-buahan, dan tanaman pakan.  (asr)

Share

Video Popular