oleh Luo Tingting

Pada awal epidemi melanda dunia,  anggota Kelompok Ahli Penelusuran Kembali Epidemi dari WHO, Peter Daszak telah mencoba melobi 26 orang ilmuwan untuk bersama-sama menandatangani surat terbuka guna menyangkal berita tentang virus bocor dari laboratorium P4 Tiongkok. Tujuannya demi membela Wuhan Institute of Virology (WIV) atau Institut Virologi Wuhan.

Pakar WHO mengungkap Skandal Emailgate

Media Inggris ‘Daily Mail’ pada 5 Juni melaporkan bahwa Peter Daszak yang menjadi ketua EcoHealth Alliance melalui UU. Kebebasan Informasi (Freedom of Information Act) Amerika Serikat, telah mengirim e-mail kepada 26 orang ilmuwan lain pada awal tahun 2020.

Peter Daszak meminta 26 orang ilmuwan untuk menerbitkan surat bersama dalam jurnal ilmiah ‘Lancet’ yang membenarkan bahwa virus komunis Tiongkok (COVID-19) itu terjadi secara alami, dan mengutuk mereka yang menyebarkan berita bahwa virus tersebut bocor dari Laboratorium P4 Wuhan.

Peter Daszak juga mengatakan kepada ilmuwan itu bahwa surat itu dikeluarkan demi mendukung para ilmuwan, pakar kesehatan masyarakat, dan tenaga medis di daratan Tiongkok yang sedang memerangi virus tersebut. Dia mengklaim bahwa kepanikan, rumor dan segala prasangka akan muncul jika tidak menganggap virus komunis Tiongkok itu bersumber dari alam.

‘Daily Mail’ juga melaporkan bahwa Peter Daszak memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pemerintah komunis Tiongkok. Dan, EcoHealth Alliance yang dipimpinnya telah menyediakan dana penelitian sebesar ratusan ribu dolar AS untuk WIV.

Peter Daszak telah menerbitkan lebih dari 20 makalah yang bekerja sama dengan ahli dari WIV. Dia dan Shi Zhengli, seorang peneliti dari WIV telah menerbitkan setidaknya 3 makalah terkait dengan virus korona dari kelelawar.

Selain itu, dalam e-mail yang dikirim oleh Daszak kepada Anthony Fauci, kepala penasihat penyakit menular Gedung Putih, ia kembali mengonfirmasi hubungan dekatnya dengan WIV. Dalam e-mail tertanggal 18 April 2020, ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Fauci yang membantunya untuk membantah teori kebocoran dari laboratorium.

Disebutkan oleh Daszak : Setelah pandemi ini berakhir, saya berharap dapat mengucapkan terima kasih secara langsung dan memberitahu Anda betapa pentingnya komentar Anda bagi kita semua.

Peter Daszak selalu membela WIV, dan dia juga terpilih menjadi salah satu anggota utama dari tim investigasi WHO yang dikirim ke Wuhan. Pada bulan Februari tahun ini, para ahli WHO mengakhiri penyelidikan mereka tentang asal usul virus di Wuhan dan menyimpulkan : Kemungkinan virus menyebar keluar dari laboratorium sangat kecil.

Namun, kesimpulan ini menyebabkan reaksi keras baik dari Amerika Serikat maupun komunitas internasional. Karena itu, Presiden Joe Biden pada 26 Mei memerintahkan badan intelijen AS untuk mengumpulkan informasi tentang asal usul epidemi dan melaporkannya dalam waktu 90 hari.

Peter Daszak yang kini berusia 77 tahun tiba-tiba membuat pernyataan yang mengejutkan.  Dia mengakui bahwa semua teori tentang bagaimana virus komunis Tiongkok itu muncul perlu diselidiki dengan benar. 

Kepada ‘Daily Mail’ Daszak mengatakan : “Saya percaya bahwa penyelidikan yang menyeluruh tentang asal usul virus Covid-19 (virus komunis Tiongkok) perlu dilakukan”. Namun, dia menolak berkomentar tentang penandatanganan surat terbuka dan yang terkait informasi spesifik terbaru.

Perubahan drastis dari seorang Peter Daszak, muncul setelah ribuan e-mail Fauci terekspos, dan ada seruan keras dari semua lapisan masyarakat di Amerika Serikat yang menuntut ia mundur dari jabatan. Media ‘Washington Post’ mengungkapkan e-mail antara Fauci dengan Gao Fu, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) komunis Tiongkok. Setelah epidemi menyebar, Fauci mengatakan bahwa dia akan bersama Gao Fu “melewati hari-hari sulit”.

Selain itu, dari e-mail lain milik Fauci yang diekspos juga mengungkapkan kebenaran bahwa National Institutes of Health (NIH) AS yang dipimpinnya, telah mendonorkan dana yang didapat dari para pembayar pajak AS untuk kepentingan WIV, melakukan penelitian tentang virus korona kelelawar. Sedangkan Daszak termasuk salah seorang pelaksana.

Anthony Fauci selama ini terus menyangkal bahwa virus menyebar dari laboratorium milik komunis Tiongkok. Tetapi, pada akhir bulan Mei yang baru lalu, ia tiba-tiba berubah sikap dan menganggap perlunya penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan virus bocor dari laboratorium. 

Mantan Direktur CDC-AS menerima ancaman pembunuhan

Tetapi sebelum itu, para ilmuwan yang berpendirian bahwa virus komunis Tiongkok itu bocor dari laboratorium mendapat tekanan dan bahkan menerima ancaman pembunuhan.

Robert Redfield, mantan direktur CDC Amerika Serikat saat menerima wawancara reporter majalah ‘Vanity Fair’ pada 3 Juni 2021 mengatakan, sejak ia mencetuskan ungkapan bahwa virus komunis Tiongkok itu sangat mungkin berasal dari laboratorium Wuhan, Ia menerima sejumlah besar ancaman pembunuhan dari “ilmuwan top”.

Pada Maret tahun ini, Robert Redfield yang merupakan seorang ahli virologi mengatakan kepada CNN bahwa dirinya percaya bahwa virus komunis Tiongkok itu berasal dari laboratorium Wuhan. Dia juga menjelaskan mengapa teori penyebaran virus dari hewan ke manusia itu tidak beralasan.

“Tidak jarang pekerja laboratorium terinfeksi oleh patogen pernapasan di laboratorium”. Dia percaya bahwa virus sangat mungkin bocor keluar dari laboratorium di Wuhan.

Namun, Redfield menerima sejumlah besar ancaman kematian dari “ilmuwan top” karena pernyataan di atas. “E-mail semacam itu yang memenuhi kotak masuk e-mail saya”, katanya.

‘Vanity Fair’ memberitakan bahwa pada awal bulan Januari 2020, Robert Redfield telah menerima “berita yang membuat tidak nyaman” dari Gao Fu, Direktur CDC komunis Tiongkok. Gao Fu memberitahunya bahwa ada pasien (dengan penyakit pernapasan) di Wuhan.

Redfield yang memang kurang sreg dengan WIV, segera menyarankan untuk melakukan penyelidikan dengan mengirim tim ahli. Jika tim ahli menemukan antibodi dalam sampel darah pasien, itu akan menjadi bukti yang meyakinkan. Namun pemerintah komunis Tiongkok justru menolak usulan Redfield. (sin)

 

Share

Video Popular