Li Yun

Jurnalis investigasi Australia Sharri Markson akan menerbitkan buku kebenaran tentang Wuhan yang mengungkapkan bahwa ilmuwan militer Komunis Tiongkok,   Yusen Zhou mengajukan hak paten vaksin virus Komunis Tiongkok pada Februari tahun lalu. Langkah yang dilakukannya lebih awal dibandingkan  dengan yang diumumkan WHO tentang pandemi. Meski demikian, Yusen Zhou meninggal dunia secara misterius setelah mengajukan paten tiga bulan kemudian.

Jurnalis investigasi Australia Sharri Markson menyebutkan dalam ringkasan buku barunya berjudul, What Really Happened In Wuhan, bahwa ada seorang bernama Yusen Zhou, seorang ilmuwan militer yang sangat dihormati di kalangan militer Komunis Tiongkok. Ia mengajukan permohonan paten vaksin pada 24 Februari 2020.

Sebagaimana diketahui, Virus Komunis Tiongkok atau COVID-19 meledak di Wuhan pada tahun 2019. Pada 20 Januari 2020, Komunis Tiongkok mengakui terjadinya wabah virus Komunis Tiongkok. Kemudian Wuhan di-Lockdown pada tanggal 23 Januari 2021. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah yang terjadi sebagai pandemi pada 11 Maret 2021. 

Artinya, permohonan paten Yusen Zhou untuk vaksin virus Komunis Tiongkok dilakukan lima minggu setelah Komunis Tiongkok mengonfirmasi epidemi ke dunia. Itu terjadi sebelum WHO mendeklarasikan pandemi secara global. Soal kecepatan Zhou Yusen dalam mengembangkan vaksin  menimbulkan keraguan.

Profesor Nikolai Petrovsky dari Flinders University di Australia mengatakan bahwa “belum terlihat sebelumnya” bahwa para ilmuwan dapat mengembangkan vaksin dengan cepat, “diragukan pekerjaan ini mungkin dimulai sejak lama.”

Disebutkan dalam buku tersebut, bahwa Yusen Zhou memiliki latar belakang penelitian di Amerika Serikat dan Tiongkok, ia telah melakukan penelitian pasca doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburgh dan bekerja sama dengan Pusat Darah New York.

Yusen Zhou juga menjabat sebagai direktur Laboratorium Biologi Molekuler Patogen dari Institut Mikrobiologi dan Epidemiologi Akademi Ilmu Kedokteran Militer Tiongkok. Ia juga pemimpin Laboratorium Biologi Patogen dari Laboratorium Kunci Negara Keamanan Hayati Mikroba Patogen. Ia juga memenangkan banyak penghargaan.

Penelitian Yusen Zhou tentang virus Komunis Tiongkok didanai oleh National Institutes of Health (NIH). Dia juga bekerja sama dengan tim Shi Zhengli di Institut Virologi Wuhan untuk melakukan “kegiatan militer secara rahasia.”

Setelah Yusen Zhou mengajukan permohonan paten vaksin atas nama “Lembaga Penelitian Medis Militer dari Akademi Ilmu Pengetahuan Militer” Komunis Tiongkok, ia meninggal dunia secara mendadak pada Mei 2020.

Menurut buku baru tersebut ,” dikatakan bahwa Yusen Zhou meninggal dunia pada waktu dan penyebab yang sangat aneh. Ketika itu dirinya tidak memiliki gejala abnormal sebelum kematiannya. Sangat mencurigakan bahwa seorang ilmuwan yang sangat dihormati oleh militer Komunis Tiongkok, tidak memiliki laporan atau berita setelah kematiannya. Berita kematian Zhou Yusen pada bulan Juli tahun lalu terungkap. Akan tetapi, Komunis Tiongkok tetap bungkam soal  kematiannya.

Buku baru tersebut menyatakan bahwa Yusen bekerja sama dengan laboratorium Wuhan, termasuk Shi Zhengli sendiri, sebelum menarik perhatian internasional terhadap epidemi atau terkait dengan kebocoran laboratorium Wuhan. 

Dalam laporan intelijen yang dirilis oleh Amerika Serikat pada Januari, dikonfirmasi bahwa laboratorium Wuhan melakukan “kegiatan militer rahasia.”

Intelijen yang tidak diklasifikasikan menyebutkan, “Meskipun Laboratorium Virus Wuhan adalah organisasi swasta di permukaan, Amerika Serikat menetapkan bahwa ia telah bekerja sama dengan militer Tiongkok dalam publikasi dan proyek-proyek rahasia.”

Buku baru itu juga mengutip makalah penelitian yang diajukan ke Journal of Virology pada November 2019, bahwa Zhou Yusen dan yang lainnya sedang mempelajari penggunaan manipulasi genetik virus Tiongkok sebelum wabah. Proyek penelitian ini dari National Institutes of Health (NIH) dengan menerima tiga dana hibah.

Sedangkan Anthony Fauci adalah direktur NIH Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID).

Pada akhir Mei lalu, sejumlah media AS mengesahkan Undang-Undang Kebebasan Informasi AS dan memperoleh lebih dari 3.000 halaman email pribadi dari Fauci, tanggal email tersebut adalah dari Januari hingga Juni 2020.

Email tersebut menunjukkan bahwa Fauci, mengetahui tentang direktur laboratorium Wuhan, pernyataan publik tentang dana AS yang digunakan untuk penelitian virus Wuhan, dan diskusi publik tentang kemungkinan kebocoran virus dari laboratorium. Terungkap sejumlah platform, pejabat kesehatan, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sengaja ditekan.

Setelah insiden itu diekspos oleh media, Fauci secara terbuka mengakui bahwa dia telah menyumbangkan uang ke Institut Virologi Wuhan di Tiongkok.

Pada akhir Mei, Biden memerintahkan badan intelijen AS untuk menyelidiki asal usul virus dan menyerahkan laporan investigasi dalam waktu 90 hari. 

Pada saat yang sama, sebanyak 17 laboratorium nasional di bawah Kementerian Energi AS diminta untuk membantu badan intelijen, dalam menyelidiki secara menyeluruh kemungkinan kebocoran virus dari laboratorium Wuhan.

Mantan Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice mengatakan dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada tanggal 6 Juni di program CBS “Face the Nation”, bahwa pejabat kesehatan di pemerintahan Amerika Serikat  membuat “kesalahan” pada minggu-minggu awal pandemi. Dikarenakan mereka dengan cepat menampik kemungkinan bahwa virus corona secara tidak sengaja bocor dari laboratorium.

Condoleezza Rice  mengatakan : “Ada terlalu banyak kecenderungan sejak awal untuk menampik kemungkinan kebocoran laboratorium ini, dan saya pikir ada banyak, dan saya pikir pers memikul tanggung jawab untuk ini, Oke, itu pasti penularan dari hewan ke manusia. Ini adalah teori konspirasi tentang kebocoran laboratorium. Dan faktanya, beberapa bukti ada di depan wajah kita.” (hui)

Share

Video Popular