Erabaru.net. Pada tahun 1999, sekelompok gajah terancam akan dimusnahkan di sebuah taman nasional di Afrika Selatan. Untungnya,mereka bertemu dengan Lawrence Anthony, penyelamat yang baik hati, yang mengeluarkan mereka dari bahaya. Ketika Lawrence meninggal dunia pada tahun 2012, sekelompok gajah ini melakukan hal yang tak terbayangkan: 21 gajah berjalan selama 12 jam datang ke pondok kayu tempat Lawrence tinggal untuk memberikan penghormatan terakhirnya! Bagaimana semuanya dimulai?

Lawrence Anthony , yang lahir di Afrika Selatan, menyukai petualangan dan alam sejak kecil. Setelah menikah, pada awal 1990, ia bersama istrinya Francoise Malby-Anthony menjual propertinya dan membeli tanah seluas 5.000 hektar di Afrika Selatan dan mendirikan tempat bernama Thula Thula: Private Game Reserve dan Safari Lodge.

Pada awalnya, niat Anthony membeli tanah bukan untuk menyelamatkan gajah-gajah itu, dia hanya ingin melindungi mereka dari pembantaian.

Suatu hari dia menerima telepon dan pihak lain menginformasikan bahwa ada 9 ekor gajah akan dibunuh karena merusak hutan lindung dan bertanya apakah dia ingin membawa mereka masuk.

Tentu saja, Anthony, yang mencintai hewan secara alami, tidak ingin tragedi itu terjadi, jadi dia memikirkan cara untuk membawa mereka ke tanahnya untuk dirawat.

Merawat gajah merupakan tantangan yang tak terbayangkan bagi Anthony. Meskipun pengetahuannya tentang hewan itu sedikit, Anthony mengumpulkan keberaniannya dan perlahan-lahan mendekati hewan-hewan raksasa itu.

 

Dia berjalan menuju gajah, berbicara dengan lembut kepada mereka dan bahkan menyanyikan lagu pengantar tidur untuk mereka. Tanpa diduga, gajah-gajah itu tenang dan secara mengejutkan mendengarkan kata-katanya.

Anthony menemukan pemimpin kelompok gajah itu adalah gajah betina, dan dia menamakannya “Nana”. Tugas pertamanya adalah menghilangkan kecemasan dan sikap defensifnya.

Suatu hari, dia terkejut menemukan bahwa Nana, yang awalnya sangat agresif, mulai mendekatinya secara aktif – Nana menjulurkan belalainya yang panjang, melewati jaring, menyentuh lengan Anthony, dan bermain dengannya secara langsung. Dia meneteskan air mata, dan semua kerja kerasnya akhirnya tidak sia-sia.

“Mereka mungkin tidak percaya pada manusia, tetapi saya berharap setidaknya mereka bisa percaya pada saya,” kata Anthony tentang gajah-gajahnya.

Berhasil menaklukkan hati pemimpin sama saja dengan menaklukkan seluruh kelompoknya. Alhasil, keluarga gajah Nana resmi menetap di rumah hangat yang dibangun oleh Anthony untuk mereka.

Namun, karena kawanan gajah terus berkembang, suaka Margasatwa Thula Thula tidak dapat menampungnya, sehingga Anthony terpaksa membiarkan kawanan gajah tersebut pindah ke hutan di sebelahnya.

Sekarang, jika mereka ingin mengunjungi gajah, mereka harus mengemudi, dan setiap kali gajah melihat tamunya, mereka akan menyambutnya dengan gembira.

Sayangnya, Anthony meninggal karena serangan jantung pada Maret 2012. Sementara istri Anthony berduka atas kematian suaminya, staf mengatakan kepadanya bahwa sekelompok gajah yang dipimpin oleh Nana sedang menuju ke pondok.

Kelompok gajah pertama tiba di pagi hari dan kelompok lain tiba di hari berikutnya.

21 gajah itu berbaris di depan pondok dan mengeluarkan suara merengek, mungkin berduka atas kematian malaikat pelindung mereka, Anthony. Menurut putra Anthony, Dylan, gajah-gajah itu tinggal cukup jauh dari pondok tempat mereka tinggal.

Namun, Dylan lebih lanjut menjelaskan bahwa mereka pasti merasakan kematian seseorang yang seperti ayah bagi mereka dan melakukan perjalanan selama 12 jam hanya untuk meratapi kepergian pelindungnya.

Sering terdengar bahwa gajah biasanya akan berkabung dan mengubur teman mereka yang mati dari waktu ke waktu, interaksi dengan manusia juga pernah terjadi dan merupakan hal yang umum untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada tuan mereka.

Namun, mengapa mereka tahu bahwa penyelamatnya, Anthony telah meninggal, dan datang untuk berduka ? Tidak ada yang bisa menjelaskannya.

Satu-satunya penjelasan adalah, seperti yang dikatakan Dr. Leila Gal Berner, tingkat komunikasi spiritual tertentu telah terjalin antara gajah dan Anthony, sehingga mereka dapat merasakan bahwa “teman manusia yang mereka cintai telah pergi”.

Pada tanggal 4 Maret 2012, Francoise menulis: “Hari ini, di Thula Thula, seluruh kawanan gajah berkumpul di depan rumah kayu. Di sinilah Lawrence dan saya tinggal. Kami sudah lama sekali tidak pernah melihat gajah muncul di sini. Ini benar -benar kesaksian yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa hewan memiliki perasaan cinta dan persepsi mereka yang luar biasa, yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia, dan Lawrence adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa mengerti. Terima kasih untuk pertunjukan gajah yang mengharukan, semangat Lawrence akan selalu hidup di Thula Thula.”

 

Istri Anthony menaburkan abu suaminya di padang rumput di cagar alam. Satu tahun kemudian, Nana bersama kawanannya kembali muncul untuk meratapi kematian dermawannya dan mengungkapkan memori mendalam keluarga gajah untuknya.

Sejak Anthony menyelamatkan kelompok gajah yang dipimpin oleh Nana, dia berkontribusi pada penyelamatan 35 hewan dari Kebun Binatang Baghdad selama Perang Irak (2003). Pada saat itu, dia mempertaruhkan nyawanya dan mencoba yang terbaik untuk membawa hewan di bawah tembakan artileri dan mengeluarkannya dari zona perang.

“Kebun Binatang Baghdad adalah yang terbesar di Timur Tengah. Saya tidak bisa melihat hewan mati di kandang. Saya menghubungi Amerika Serikat dan Inggris dan bertanya kepada mereka bagaimana cara menyelamatkan hewan-hewan itu, tetapi tidak ada yang memperdulikan, jadi saya memutuskan untuk pergi ke sana sendiri. Pergi menyelamatkan mereka,” katanya.

Hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Inggris menginvasi Irak, dia bergegas ke perbatasan Kuwait-Irak, tetapi dihadang oleh militer AS. Dia harus mencari dua karyawan Kebun Binatang Kuwait untuk mengikuti militer AS ke Baghdad. Untuk menghindari serangan senjata, mereka tidak mengambil jalan utama tetapi jalan kecil.

Anthony tinggal di Baghdad selama setengah tahun. Dia bekerja keras untuk mengumpulkan semua jenis sumber daya penyelamatan di sana. Setengah dari hewan telah mati di taman yang berisi hampir 1.000 hewan. Banyak hewan yang ditinggalkan atau dicuri karena perang, kebanyakan dari mereka juga mati kelaparan. Dia menyelamatkan 35 dari mereka dan membawa mereka kembali ke Afrika Selatan.

Untuk menyelamatkan hewan-hewan yang masih hidup ini, Anthony hampir mati karenanya.

“Saya tidak menyadari bahwa itu akan berubah menjadi pembantaian, tetapi saya tidak bisa kembali, jadi saya pindah. Saya pikir akan mudah untuk masuk dan keluar, tetapi setelah saya masuk, saya menyadari bahwa terlalu sulit untuk keluar,” ujarnya.

Kemudian, pengalaman ini dicatat secara rinci dalam buku Babylon’s Ark , yang ditulis bersama oleh Anthony dan jurnalis Graham Spence , dan juga dibuat film dan dirilis pada tahun 2010. (lidya/yn)

Sumber: epochtimes

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular