oleh Yi Ru

‘Australian’, sebuah media nasional yang paling berpengaruh di Australia, baru-baru ini mengungkapkan bahwa seorang ilmuwan militer komunis Tiongkok yang mengajukan hak paten untuk vaksin COVID-19 pada bulan Februari tahun lalu, yang kira-kira berjarak hanya 5 pekan dari pihak berwenang Beijing mengakui adanya penularan dari manusia ke manusia. Namun, 3 bulan kemudian, ilmuwan tersebut tewas secara misterius dan para pejabat tutup mulut tentang hal ini

Pada 20 Januari tahun lalu, Zhong Nanshan, ahli dari Komisi Kesehatan Partai Komunis Tiongkok untuk pertama kalinya mengakui bahwa virus komunis Tiongkok dapat menular dari manusia ke manusia. Pada 24 Februari, yakni 5 pekan setelah pernyataan tersebut, ilmuwan dari militer komunis Tiongkok (PLA) Zhou Yusen telah mengajukan hak paten untuk vaksin COVID-19. Pengajuan hak paten vaksin ini bahkan 2 minggu lebih awal, daripada WHO untuk pertama kalinya memperingatkan kepada dunia tentang terjadinya pandemi.

‘Australian’ pada 4 Juni mengungkapkan berita tersebut. Menurut dokumen yang mereka peroleh, Zhou Yusen mengajukan paten ini atas nama Institut Penelitian Medis Militer dari Akademi Ilmu Militer Partai Komunis Tiongkok, dan dia dianggap sebagai “dalang utama” dalam mengajukan hak tersebut. 

Penelitian Zhou tentang virus corona didanai oleh National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat, ia disinyalir bekerja sama erat dengan tim Shi Zhengli dari Institut Virologi Wuhan dan ilmuwan Amerika Serikat lainnya.

Gobieast, seorang cendikiawan independen di Amerika Serikat dan seorang kolumnis mengatakan : 

“Saya yakin bahwa semua pakar virus di komunitas internasional akan dengan mudah menyimpulkan bahwa virus dan vaksin itu sudah dipelajari sejak lama oleh komunis Tiongkok, dan virus itu dimanfaatkan sebagai senjata perang. Jika tidak bagaimana ilmuwan militer komunis Tiongkok dapat dalam 5 pekan setelah virus mewabah, mereka sudah berhasil menciptakan vaksin pencegahan dan sekaligus mengajukan hak patennya. Hal ini benar-benar bertentangan dengan semua hukum ilmiah”.

Yang kecepatannya lebih aneh adalah bahwa dua hari setelah Zhou Yusen mengajukan paten, vaksin untuk virus komunis Tiongkok yang dikembangkan oleh ahli lain juga dari militer komunis Tiongkok, telah diturunkan dari jalur produksi.

Mayor Jenderal Chen Wei, seorang akademisi dari Chinese Academy of Engineering mengatakan : “Batch pertama dari vaksin untuk virus korona rekombinan baru yang kami kembangkan telah diturunkan dari jalur produksinya pada 26 Februari. Jadi kita secara resmi telah memiliki vaksin. Tanggal tersebut kebetulan adalah hari ulang tahun saya”.

Lai Jianping, Magister Hukum Internasional dari Universitas Ilmu Politik dan Hukum Tiongkok mengatakan : “Sejumlah ilmuwan terkemuka, perusahaan farmasi, dan lembaga penelitian pada saat itu jangan-jangan bingung bagaimana obat penawarnya (vaksin) dapat diproduksi hanya dalam beberapa minggu (setelah COVID-19 merebak) ? Kalau bukan sudah disiapkan terlebih dahulu ? Bagaimana Anda menjelaskannya ?”

Baru-baru ini, teori kebocoran virus dari laboratorium semakin menarik perhatian, dan Institut Virologi Wuhan kembali menjadi fokus. Studi Zhou Yusen, Shi Zhengli, dan Chen Wei tentang virus komunis Tiongkok (COVID-19) semuanya terkait dengan tempat itu.

Namun, Zhou Yusen tidak lagi dapat menikmati “kehormatan” atas pengembangan vaksin yang ia lakukan. Dia meninggal mendadak pada bulan Mei tahun lalu. Dikatakan bahwa waktu dan penyebab kematiannya sangat aneh, padahal dia tidak memiliki gejala lain sebelum kematiannya.

‘Australian’ mengatakan bahwa sebagai bagian dari melaksanakan tugas penelusuran kembali mengenai sumber virus, departemen intelijen Aliansi Lima Mata sedang menyelidiki kasus kematian misterius Zhou Yusen. Meskipun dia adalah seorang ilmuwan militer pemenang penghargaan, tetapi tidak ada berita tentang dirinya, apalagi ucapan duka dari pihak berwenang Tiongkok terhadap kematiannya. Hanya dalam laporan media Tiongkok pada bulan Juli tahun ini, dalam makalah ilmiah yang diterbitkan bulan Desember tahun lalu, namanya ditandai dengan “mendiang” dibelakangnya.

Qin Jin, PhD dalam Ilmu Sosiologi, Ketua Federasi untuk Tiongkok yang Demokratik mengatakan : “Kematiannya harus dikatakan sebagai rencana dari Partai Komunis. Orang seperti dia tidak bisa dibiarkan hidup, biar dia mati supaya tidak membuka mulut. Namun bagi Barat, itu perlu, jika tidak akan mengalami kesulitan dalam penelusuran kembali soal asal usul virus. Pada awal tahun 1970-an, beberapa orang anggota militer Tiongkok juga tiba-tiba hilang secara misterius. Jika keluarga mereka bertanya, maka pemerintah Tiongkok  memberi mereka sedikit uang kompensasi untuk tutup mulut. Karena itu dunia tidak tahu ada kejadian ini”.

Komentator juga mengajukan hipotesis lainnya.

Lai Jianping mengatakan : “Zhou Yusen mengajukan permohonan hak paten pada 24 Februari 2020. (vaksinnya) Tim Chen Wei pada 26 Februari telah diturunkan dari jalur produksinya. Apakah mereka mengembangkan dan memproduksi vaksin secara masing-masing ? Atau apakah itu termasuk kompetisi dalam memperoleh hak paten ? Ingin memiliki hak paten. Apakah ada kaitannya dalam hal ini ?”

Lai Jianping mengatakan bahwa, ada juga satu petunjuk lain yaitu Akademi Penelitian Medis Militer tempat Chen Wei bertugas, pada tahun 2015 akademi tersebut sudah bekerja sama dengan perusahaan pharmasi CanSino Biologics. 

CanSino Biologics yang didirikan pada tahun 2009 terus mengalami kerugian usaha selama hampir sepuluh tahun berjalan, dan harga sahamnya yang didaftarkan di bursa Hongkong pada bulan Maret 2019 juga tidak kunjung membaik. 

Namun mulai 19 November 2019, harga saham CanSino tiba-tiba melonjak. Vaksin yang dikembangkan oleh Chen Wei dan CanSino mengajukan hak paten pada 18 Maret tahun lalu, dan memperolehnya pada 11 Agustus. Dua hari setelah itu, saham CanSino yang secara resmi terdaftar di papan atas di bursa, harganya langsung membumbung tinggi. Di sini terlihat ada keterlibatan kepentingan. (sin)

Share

Video Popular