Luo Tingting

Presiden AS Joe Biden bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, pada Kamis (10/6/2021) saat KTT G7  di Cornwall, Inggris.  Kedua pihak menyatakan, mereka mendukung pembentukan sistem pemantauan “Radar Pandemi Global” dengan anggota WHO dan G7.  Mereka juga mendukung WHO untuk menyelidiki lebih lanjut asal usul virus Komunis Tiongkok.

Untuk diketahui, negara-negara yang tergabung dalam G7 adalah Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

The Epoch Times merujuk pada virus corona, yang menyebabkan penyakit COVID-19, sebagai virus Komunis Tiongkok, karena sensor berita dan kesalahan manajemen Partai Komunis Tiongkok, sehingga memungkinkan virus itu menyebar ke seluruh Tiongkok dan menciptakan pandemi global.

Kedua pimpinan dalam pernyataannya  memperkuat program pengawasan global utama untuk menyediakan vaksin, perawatan, dan diagnostik yang aman, efektif, dan terjangkau dalam 100 hari sejak meledaknya pandemi di masa depan.

Pada saat yang sama, kedua pihak juga menyatakan bahwa Badan Keamanan Kesehatan Inggris, akan bekerja sama dengan Pusat Prediksi dan Analisis Wabah Epidemiologi Nasional yang baru didirikan di Amerika Serikat. Tujuannya, untuk memperluas pengawasan dan pengurutan genom serta kemampuan penilaian mutasi. Termasuk, risiko penyakit zoonosis dan lingkungan.

Sebelumnya, Biden mengeluarkan pernyataan pada 26 Mei yang meminta badan intelijen AS untuk bekerja keras mengumpulkan informasi. Ia juga memerintahkan, agar melaporkan kepadanya apakah virus Komunis Tiongkok berasal dari sumber hewan atau kecelakaan laboratorium dalam waktu 90 hari.

Dia juga menyatakan, Amerika Serikat akan terus bekerja dengan mitra yang berpikiran sama di seluruh dunia. Tujuannya, agar mendesak Komunis Tiongkok untuk berpartisipasi dalam penyelidikan internasional dan memberikan semua data dan bukti yang relevan.

VOA melaporkan, perjalanan Biden ke Eropa adalah untuk mendapatkan tanggapan bersama terhadap tantangan yang ditimbulkan oleh Komunis Tiongkok.

Sebelum menghadiri KTT G7, Presiden Dewan Eropa, Charles Michel dan Presiden Komisi Eropa, Ursula  von der Leyen menyerukan, penyelidikan menyeluruh tentang asal muasal virus Komunis Tiongkok pada konferensi pers di Brussels pada tanggal 10 Juni.

Charles Michel mengatakan bahwa Uni Eropa “sangat yakin”, bahwa “kita membutuhkan transparansi total untuk belajar dari pandemi virus corona (virus Komunis Tiongkok).”

Dia berkata, “Dunia memiliki hak untuk mengetahui apa yang terjadi untuk belajar darinya.”

Von der Leyen menekankan, “penting” untuk memahami asal spesifik dari virus Komunis Tiongkok dengan berkata :  “Kita harus tahu dari mana asalnya untuk mempelajari pelajaran yang tepat dan mengembangkan penanganan yang tepat untuk memastikan hal ini tak pernah terjadi lagi,”

Dia mendesak Komunis Tiongkok untuk memberi para peneliti akses secara menyeluruh, kepada semua yang mereka butuhkan untuk menemukan sumber pandemi.”

Pada saat yang sama, Bloomberg mengungkapkan bahwa bocoran draf pertemuan KTT G7 menunjukkan bahwa para pemimpin G7 dan Uni Eropa, berencana meminta WHO meluncurkan penyelidikan baru dan independen terhadap sumber virus Komunis Tiongkok.

Selain itu, menurut draf kesimpulan yang dilihat oleh situs web berita politik AS Politico, Uni Eropa dan AS juga berencana menggunakan KTT AS-Eropa, yang akan diadakan minggu depan untuk menyerukan penyelidikan dengan “pendekatan yang transparan, berbasis bukti, dan tidak terganggu terhadap asal muasal virus Komunis Tiongkok.” .

VOA melaporkan, kini seruan dunia  agar Komunis Tiongkok bekerja sama secara komprehensif dalam penyelidikan sumber virus semakin meningkat. Hal ini mencerminkan bahwa sekutu Barat bersatu lebih luas melawan Beijing.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken kepada media Amerika Serikat, Axios di HBO pada 6 Juni menyatakan, bahwa pemerintahan Biden bertekad untuk “melacak akar” epidemi virus Komunis Tiongkok dan meminta pertanggungjawaban Komunis Tiongkok.  (hui)

Share

Video Popular