Erabaru.net. Banyak anak-anak yang suka melukis, terkadang untuk menampilkan imajinasi dan memuaskan keinginan mereka untuk melukis, mereka bahkan mencoret-coret dinding dan perabotan di rumah. Setelah mengetahui minat anaknya, banyak orangtua juga akan memilih untuk mengembangkan bakatnya, seperti memasukkan anaknya ke kelas bakat.

Salah satu putra dari ayah ini suka melukis sejak taman kanak-kanak, walaupun hal-hal yang dia gambar tidak persis sama, tetapi semuanya sangat jelas. Untuk mengembangkan bakat anaknya, sang ayah mendaftarkan putranya di kelas seni, dan keterampilan melukis anak itu menjadi semakin mahir.

Pada hari itu, guru kelas seni memberikan pekerjaan rumah menggambar dengan topik melukis ayah mereka sendiri, dan lukisan itu akan diikutkan dalam lomba. Sang anak menggambar wajah ayahnya dengan sangat serius, dia menggambar sketsa menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Sayangnya, ketika dia selesai menggambar, ayahnya menjawab telepon dan pergi dengan tergesa-gesa, tanpa melihat hasil yang sudah jadi.

Seminggu kemudian, hasil lomba diumumkan dan gambar putranya menjadi pemenang. Anak itu membawa pulang sertifikat dan hadiahnya untuk memberi tahu orangtuanya kabar baik itu, tetapi setelah melihat lukisan itu ayahnya menjadi tidak senang.

Ayahnya mengaku bahwa dirinya pria yang tampan, tetapi orang dalam lukisan itu benar-benar ” pria yang buruk”.

Ayahnya sangat marah dan berkata: “Apa yang kamu lukis? Itu sama sekali tidak mirip dengan ayah. Itu benar-benar merusak citra Ayah!”

Mendengar kata-kata ayahnya, anak itu menjadi sedikit kecewa.

Melihat putranya sangat sedih, sang ibuku membela putranya dan berkata, : “Apa yang kamu tahu? Lukisan ini menonjolkan karakteristikmu dan Ini cukup bagus. Inilah yang disebut seni!”

Ayah tidak punya pilihan selain terpaksa menerima lukisan itu, namun keduanya menegaskan kemampuan menggambar putra mereka bersama, dan putranya telihat sangat senang.

1. Hormati keinginan anak

Anak-anak adalah darah daging mereka sendiri, tetapi mereka juga individu yang mandiri dan membutuhkan penghargaan dari orangtua. Ketika Anda menemukan bahwa anak Anda tertarik pada sesuatu, bahkan jika itu berbeda dari ide orangtua, orang tua tidak boleh terburu-buru untuk menghentikannya. Jika hobi tidak mempengaruhi kesehatan fisik dan mental anak, tidak melanggar ketertiban umum dan adat istiadat, alangkah baiknya jika orangtua memberi kebebasan pada keinginan anaknya.

2. Menggali karakteristik anak

Ketika anak tertarik pada sesuatu, mereka akan berusaha dengan segala cara untuk bekerja keras, namun terkadang usahanya tidak menuju ke arah yang benar.

Selain itu, tidak semua minat dapat dikembangkan menjadi suatu bakat oleh setiap anak. Bila anak memang tidak pandai dalam minatnya sendiri, orangtua juga dapat menggali karakteristik anak dan membimbingnya untuk mencoba kemungkinan lain, yang juga dapat memperkaya kehidupan anak.

3. Dorong anak untuk bertahan

Bersemangat di awal dan mudah menyerah di tengah jalan adalah karakteristik yang dimiliki banyak anak. Anak-anak sangat aktif ketika mereka pertama kali bersentuhan dengan hobi mereka, dan mereka secara bertahap menjadi malas di tahap selanjutnya.

Dalam hal ini, orangtua perlu membimbing mereka dengan sabar agar anak dapat merasakan kegembiraan dan hasil dari ketekunan mereka. Orangtua juga perlu mendorong mereka saat mereka maju, seperti “menggambar dengan baik”, membantu mereka memecahkan masalah bersama-sama ketika mereka menghadapi kesulitan. (lidya/yn)

Sumber: mnewsc

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular