oleh Jin Shi

Dugaan adanya kebocoran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Taishan, Provinsi Guangdong, Tiongkok telah menimbulkan kekhawatiran internasional. Pada 3 dan 8 Juni tahun ini, perusahaan Prancis Framatome telah 2 kali mengirim email ke Departemen Energi AS yang menyebutkan bahwa sedang terjadi ancaman radiasi nuklir pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Taishan sehingga perlu meminta dukungan teknis dari Washington

Dalam surat yang dikirimkan perusahaan Prancis Framatome ke Departemen Energi AS, disebutkan bahwa untuk mempertahankan agar tidak menghentikan operasi reaktor nuklir, pihak komunis Tiongkok telah menaikkan batas maksimum radiasi nuklir di luar standar PLTN Taishan, dan batas setelah kenaikan tersebut terjadi melampaui standar yang ditetapkan pihak Prancis.

Setelah beberapa kali pertemuan dan mendiskusikannya, pemerintah AS beranggapan bahwa PLTN Taishan belum mencapai “tingkat krisis”, tetapi AS meminta pemantauan yang lebih ketat dan mengevaluasinya dengan cermat. China General Nuclear Power Group sebagai pemegang saham utama PLTN Taishan, mengklaim bahwa indikator di lingkungan sekitar PLTN belum membahayakan alias normal.

Pada 11 Juni, Framatome mengeluarkan pernyataan terbuka bahwa PLTN Taishan saat ini, beroperasi dengan aman dan perusahaan sedang membantu PLTN memecahkan beberapa masalah kinerja. Namun pernyataan itu tidak menyebutkan mengenai permintaan bantuan dari pemerintah AS.

PLTN Taishan merupakan stasiun pembangkit listrik yang dimiliki bersama oleh China General Nuclear Power Group (pemegang 70% saham) dan perusahaan listrik Prancis EDF (Electricite de France pemegang 30% saham). Dan, perusahaan Framatome adalah yang memberikan dukungan teknis.

Karena hanya berjarak 130 kilometer dan 67 kilometer dari Hongkong dan Makau, keselamatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Taishan selalu menjadi perhatian.

Huang Ciping, mantan fisikawan nuklir di Kementerian Industri Nuklir Tiongkok mengatakan : “Penduduk di Provinsi Guangdong sangat padat. Jika terjadi ancaman keselamatan, itu akan membahayakan kehidupan dan kesehatan banyak orang. Inilah sebabnya saya menjadi salah satu yang menentang pembangunan PLTN di sana.”

Pada Juni 2018, Administrasi Keamanan Nuklir Nasional Tiongkok mengkonfirmasi, bahwa telah terjadi masalah di bagian penutup bejana bertekanan sehingga kandungan karbon melebihi standar.

Huang Ciping mengatakan : “Baja karbon itu pada dasarnya rapuh, jadi mudah meledak, dan itulah yang ditakuti. Mereka (pihak berwenang komunis Tiongkok) mencoba meyakinkan penduduk dengan mengatakan bahwa indikator masih normal, tidak apa-apa. Begitu  abnormal dan meledak, itu benar-benar serius. Itu bukan masalah sederhana, bocor perlahan-lahan, tetapi cenderung berupa ledakan”.

PLTN Taishan menggunakan dua unit reaktor air bertekanan buatan Eropa, yang mana saat ini merupakan satu-satunya reaktor nuklir generasi ketiga yang beroperasi di dunia. Huang Ciping menjelaskan bahwa jenis reaktor ini dapat digunakan untuk memproduksi plutonium untuk senjata nuklir.

“Ia dapat menggunakan reaktor ini untuk mengubah bahan nuklir menjadi elemen radioaktif tingkat senjata, yaitu uraniumnya akan berubah menjadi plutonium, dan plutonium dapat digunakan sebagai senjata nuklir. Senjata nuklir ringan, hulu ledak nuklir”, kata Huang Ciping.

PLTN Taishan sebelumnya telah mengalami beberapa kali penundaan operasi karena kegagalan teknis dan masalah keselamatan. Dugaan kebocoran nuklir yang merebak kali ini kembali memicu perhatian besar dari berbagai negara. (sin)

Share

Video Popular