oleh Chen Huimo dan Zhang Dongxu

Situs resmi Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, menerbitkan siaran pers pada (14/6/2021). Keterangan itu menyebutkan bahwa 12 orang pakar, termasuk setidaknya 8 pelapor khusus, menerima informasi yang dapat dipercaya bahwa tahanan dari kelompok minoritas, diduga telah dipaksa menjalani tes darah tanpa sepengetahuan mereka. Atau pemeriksaan organ dengan USG dan rontgen. Sedangkan tahanan lain tidak diharuskan menjalani pemeriksaan demikian. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam database sumber organ hidup untuk penggunaan transplantasi.

Tim pakar tersebut menunjukkan bahwa, pengambilan organ paksa oleh komunis Tiongkok ini tampaknya menargetkan tahanan dari kelompok etnis, bahasa minoritas, atau kepercayaan agama tertentu. Yang mana, biasanya ditahan di lokasi yang berbeda tanpa menjelaskan alasan penangkapan atau tanpa surat perintah penangkapan. 

Bahkan ada laporan yang menyebutkan bahwa setelah tahanan meninggal dunia, anggota keluarga dicegah untuk mengambil jenazahnya.

Kantor berita AFP melaporkan pernyataan bersama oleh para pakar, namun Misi komunis Tiongkok untuk Jenewa mengatakan bahwa mereka dengan tegas menentang dan membantah tuduhan yang memiliki relevannya. Pihak Komunis Tiongkok mengklaim bahwa pernyataan itu sebagai kebohongan.

Sebanyak 12 orang pakar, terdiri dari setidaknya 8 orang pelapor khusus dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB, yang khusus dalam masalah perdagangan manusia, minoritas, penyiksaan, anti-terorisme dan perlindungan hak asasi manusia, kekerasan terhadap perempuan, kesehatan fisik dan mental, serta kelima anggota Kelompok Kerja Kebebasan Berkeyakinan dan Penahanan Sewenang-wenang, termasuk Pelapor Khusus, Ketua dan Wakil Ketua.

Tim pakar tersebut menyatakan : “Menurut tuduhan yang diterima, organ-organ seperti jantung, ginjal, hati, dan kornea mata adalah yang paling sering diambil paksa dari narapidana. Bentuk perdagangan medis ini diduga melibatkan profesional di bidang kesehatan, termasuk para ahli bedah, ahli anestesi, dan ahli medis lainnya”.

Tim ini mengungkapkan bahwa sejak awal tahun 2006 dan 2007, para ahli hak asasi manusia PBB telah mengangkat kekhawatiran tentang pengambilan organ paksa dari tahanan kepada otoritas komunis Tiongkok. Sayangnya, tanggapan Beijing pada waktu itu adalah tidak memiliki data yang relevan, seperti waktu tunggu untuk alokasi organ, sumber organ, atau informasi dan data lainnya.

Siaran pers menyatakan bahwa mekanisme hak asasi manusia PBB lainnya, juga menekankan bahwa mereka prihatin dengan pengambilan organ dari tahanan dari kelompok agama minoritas.

Tim pakar tersebut mendesak pemerintah komunis Tiongkok untuk segera menanggapi tuduhan pengambilan organ hidup-hidup secara paksa. Para pakar juga mendesak mengizinkan pengawasan independen oleh mekanisme hak asasi manusia internasional. (sin)

 

Share

Video Popular