Erabaru.net. Dong Nianhe yang berusia 65 tahun telah membuka kedai mie selama beberapa dekade. Dia hidup sendirian dan tidak memiliki anak. Sejak lima tahun yang lalu, setiap bulan dia menerima kiriman uang 50.000 yuan (sekitar Rp 100 juta) dari orang asing. Ini telah membuat tetangga iri padanya, dan tidak ada yang tahu siapa yang mengirim uang itu, sampai seorang wanita muncul.

Dua puluh lima tahun yang lalu, Dong Nianhe mengelola sebuah kedai mie. Setiap siang saat sekolah usai, dia melihat seorang gadis berusia tujuh tahun dengan tas sekolah merah di punggungnya, berdiri di seberang jalan, melihat ke arahnya. Melihat bagaimana orang-orang memakan mie dengan lahap. Seiring waktu, Dong Nianhe akan selalu melihat ke arah gadis kecil itu berdiri.

Suatu hari, ketika kedai mie sedang tidak ada pembeli, Dong Nianhe melihat ke seberang jalan dan melihat gadis kecil itu lagi. Jadi dia memasak semangkuk mie dan membawa kepadanya.

“Jika kamu lapar, datang ke kedai paman,” kata Dong, pada gadis kecil itu sambil menyerahkan semangkuk mie.

Melihat mata gadis kecil itu yang penuh waspada, Dong berkata: “Jangan khawatir, paman tidak menaruh apa pun di sini, paman bukan orang jahat.”

Gadis kecil itu melambaikan tangannya dan berkata,: “Saya, saya … tidak ada uang.”

“Tidak ada uang tidak apa-apa, paman memberikannya untukmu,” kata Dong.

Meskipun gadis kecil itu sepertinya sangat menginginkannya, tetapi dia tetap menolak, dan berkata: “Kakek berkata bahwa kamu tidak dapat menerima barang dari orang lain dengan gratis. Bahkan jika kamu menerimanya, kamu harus menukarnya dengan harga yang sama.”

Jadi Dong, meletakkan mie itu di dekatnya, dan sekali lagi mengatakan bahwa dia tidak akan meminta bayaran, dan memintanya untuk tetap memakan mie jika dia lapar. Tetapi gadis kecil itu tetap tidak makan, tetapi berbalik dan segera pergi.

Dong Nianhe yang penasaran mencari tahu dan akhirnya mengetahui bahwa gadis kecil ini bernama Yin Canlian. Lima tahun yang lalu, orangtuanya pergi bekerja dan tidak pernah kembali. Dia tinggal bersama kakeknya di rumah yang bobrok.

Dia biasanya sepulang dari sekolah dan melakukan pekerjaan pertanian. Dia masih harus memasak yang mana hanya berupa bubur putih.

Dong Nianhe yang baik hati merasa kasihan, dan ketika dia melihat Yin Canlian lagi, dia mengatakan bahwa dia minta diajari menulis, dan dia akan memberinya semangkuk mie sebagai bayarannya. Gadis kecil itu agak ragu-ragu, dan tidak percaya bahwa ada orang yang mau melakukan hal seperti itu.

Kemudian, dia dengan takut-takut berkata, : “Kalau begitu, bisakah paman memberi saya dua mangkuk mie?”

Dong Nianhe tahu bahwa dia masih memikirkan kakeknya, dan tanpa banyak berpikir, berkata: “Tentu saja.”

Setelah itu, Yin Canlian akan datang setiap hari untuk mengajarinya menulis dan itu sudah berlangsung selama 5 tahun. Ketika anak itu lulus dari sekolah dasar, dia tiba-tiba tidak datang. Dia dan kakeknya menghilang.

Dong Nianhe bertanya ke mana-mana, dan mengetahui bahwa kakek anak itu sakit. Untungnya, kerabatnya bersedia merawat mereka dan membawa mereka berdua ke kota.

Dua puluh lima tahun kemudian, kedai mie Dong Nianhe telah menjadi tempat makan khas setempat, tetapi dia juga telah menjadi orang tua yang berusia lebih dari enam puluh tahun.

Karena dia tidak memiliki anak, dan dua pernikahannya berakhir dengan perceraian, kini dia hidup sendirian di masa tuanya. Tetapi sejak lima tahun yang lalu, setiap bulan dia menerima kiriman uang 50.000 yuan (Rp 100 Juta), tetapi dia tidak tahu pengirimnya.

Para tetangga sangat iri dengan kekayaannya yang sangat besar itu, dan mereka membujuknya untuk tidak membuka kedai mie lagi. Tapi, mengapa dia tetap ingin membuka kedai mienya ?

Tapi, siapa yang bisa mengetahui pikiran Dong Nianhe? Dia sering menatap ke seberang jalan di bawah gedung-gedung tinggi di seberangnya, dan bergumam pada dirinya sendiri: “Karena, saya sedang menunggu seseorang. Jika kedai mie tutup, saya khawatir dia tidak dapat menemukan jalan pulang.”

Dengan tas sekolah merah di punggungnya, gadis kecil itu selalu muncul di benaknya dari waktu ke waktu, meskipun tahun-tahun telah berlalu, dia tetap mengingat gadis itu seperti biasanya.

Baru-baru ini, lingkungan tempat dia berjualan akan dibangun gedung. Memikirkan rencana itu, membuat Dong Nianhe sangat khawatir dan jadi seperti orang linglung saat memasak mie, pelanggan sering mengingatkannya.

Dia selalu terbiasa mengangkat kepalanya dan melihat ke arang seberang jalan.

Pada suatu hari, dia tercengang. Mangkuk dan sumpit di tangannya jatuh ke tanah. Tidak peduli bagaimana waktu dan penampilannya telah berubah, dia sangat mengenali wanita yang memegang tas sekolah merah yang berdiri di seberang jalan.

Wanita itu sambil melambaikan tangannya, berkata : “Ayah, aku kembali.”

Penantian panjang Dong Nianhe akhirnya tidak sia-sia.(lidya/yn)

Sumber: hknews

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular