Erabaru.net. Seorang nenek pemulung mengadopsi seorang bayi perempuan terlantar yang dibuang di tempat sampah. Tak disangka, 15 tahun kemudian, hal yang tak terduga terjadi!

Ketika Nenek Wu, 60 tahun, diusir dari rumah oleh putranya karena bertengkar dengan menantu perempuannya. Dia pergi ke kota yang jauh dari rumah dalam kesedihan.

Karena sudah berusia lanjut, sulit bagi nenek Wu untuk mendapatkan pekerjaan, akhirnya nenek Wu menjadi pemulung.

Malam itu, nenek yang sedang memulung sayup-sayup mendengar tangisan bayi di kejauhan. Nenek Wu mengikuti arah suara itu dan menemukan bayi perempuan yang baru lahir di tempat sampah.

Wajah bayi itu memerah karena menangis, air kencing dan kotorannya ada di sekujur tubuhnya.

Nenek Wu dengan susah payah membawa anak itu pulang ke rumah sewaannya, memandikan dan membungkus dengan kain.

Nenek menamai anak itu Xing-Xing , nenek Wu berpikir bahwa Xing-xing adalah anak cacat yang ditinggalkan oleh orangtuanya.

Tapi dia tidak menyangka bahwa Xing-Xing tidak hanya anak yang sehat, tapi juga sangat pintar dan lincah.

 

Karena kehadiran Xing-Xing, nenek Wu berhasil menyimpan sejumlah uang selama 5 tahun.

Setelah Xing-Xing berusia 5 tahun, nenek Wu memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.

Setelah kembali ke desa, nenek Tinggal di rumah kosong bersama Xing-Xing.

Nenek Wu memasukan Xing-Xing ke sekolah di desa.

Putra dan menantu perempuannya yang melihat nenek Wu memberi gadis itu pakaian yang lebih baik daripada anak-anak mereka. Mereka menjadi tidak senang pada Xing-Xing.

Mereka meminta pada nenek Wu untuk memberikan Xing-Xing kepada orang lain.

Sejak diusir dari rumahnya, nenek Wu tidak pernah berpikir bahwa putra dan menantunya akan merawatnya di masa-masa tuanya, jadi dia mengabaikan permintaan mereka.

Karena permintaannya tidak dihiraukan oleh nenek Wu, menantu perempuannya menyebarkan desas-desus, mengatakan bahwa nenek melakukan pekerjaan tidak terhormat dan melahirkan seorang anak perempuan.

Desas-desus ini kemudian menyebar luas di seluruh masyarakat desa, reputasi buruk pun telah tertanam pada nenek.

Namun nenek Wu tidak peduli dengan desas desus itu, dia tetap berusaha sekuat tenaga untuk membesarkan Xing-Xing.

Xing-Xing sudah bijaksana sejak kecil, rajin belajar, pintar, dan juga rajin membantu nenek dengan pekerjaan rumah di usianya yang masih muda.

Tak terasa Xing-Xing sudah menginjak kelas tiga SMP.

Saat ujian kelulusan, Xing-Xing mendapat nilai terbaik, banyak SMA yang berlomba-lomba mengirimkan pemberitahuan kepada nenek agar Xing-xing masuk ke sekolah mereka.

Mereka bahkan membebaskan semua biaya selama masa sekolah dan memberikan beasiswa.

Saat liburan musim panas, sebuah mobil mewah muncul di pintu rumah nenek, dan seorang pria paruh baya masuk ke rumah nenek.

Pria itu mengatakan bahwa Xing-Xing kemungkinan besar adalah anaknya yang hilang di rumah sakit 15 tahun yang lalu.

Seorang penjahat mengaku bahwa dia telah mencuri bayi di rumah sakit, tetapi kemudian menemukan bahwa bayi itu berjenis kelamin perempuan, dia pun membuangnya.

Dia menemukan nenek juga berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh para penjahat itu.

Pria itu juga mengatakan bahwa jika Xing-Xing memang putrinya, dia bersedia membayar Rp 5 miliar sebagai ucapan terima kasih kepada nenek karena telah merawatnya.

Nenek yang bijak itu menyadari bahwa, jika Xing-Xing mempunyai orangtua yang kaya, hidupnya akan bebas dari rasa khawatir di masa depannya.

Oleh karena itu, nenek Wu setuju Xing-Xing menjalani tes DNA, dan hasilnya menegaskan bahwa Xing-Xing memang putri mereka.

Pria itu mengeluarkan kartu ATM berisi sejumlah uang yang telah dia janjikan, dan menyerahkannya kepada Nenek sambil berkata, uang itu cukup untuk menjamin kehidupan nenek tanpa bebannya di masa depan.

Nenek Wu, mengatakan bahwa dia memang sudah menganggap Xing-Xing seperti cucunya, dan dia tidak terlalu menginginkan uang.

Pria itu mengatakan pada nenek bahwa Xing-Xing masih cucunya, dan memintanya untuk menyimpannya jika kelak Xing-Xing ada kebutuhan yang mendesak.

Nenek Wu akhirnya menerima uangnya, dan Xing-Xing pergi bersama ayahnya untuk pulang ke rumahnya.

Setelah putra dan menantunya mengetahui bahwa nenek Wu memiliki banyak uang. Sikap mereka pun berubah drastis. Mereka memberikan makanan yang enak, dan mereka bahkan memanggil anak-anak mereka (cucu-cucu nenek Wu) yang tinggal di kota untuk pulang.

Nenek tidak bodoh, dia tahu bahwa mereka berperilaku baik untuk mendapatkan uangnya.

Benar saja, tidak butuh waktu lama mereka pun ingin meminjam uang pada nenek dengan berbagai alasan,

Namun, nenek ingat ketika dia menerima uang itu, pria itu mengatakan bahwa dia menitipkan uang itu untuk Xing-Xing, jadi dia dengan tegas menolak permintaan mereka.

Karena jawaban nenek, membuat anaknya, menantu perempuan, dan juga cucu- cucunya semua memarahi nenek karena nenek menolak permintaan mereka.

Mereka bahkan berharap nenek cepat mati agar bisa mewarisi warisan nenek.

Malam itu, nenek sedang tertidur ketika beberapa pria bertopeng tiba-tiba masuk ke kamar.

Mereka menggunakan pisau untuk memaksa nenek menyerahkan kartu ATM, tetapi nenek menolak.

Pria bertopeng itu menikamnya dengan pisau, menusuknya beberapa kali, Di tengah teriakan nenek, putra dan menantunya bergegas datang dan geng bertopeng itu melarikan diri.

Putra dan menantunya bergegas membawa nenek ke rumah sakit. Putranya mengatakan bahwa, dia pergi dengan tergesa-gesa tanpa membawa uang, dan meminta neneknya untuk memberikan kartu ATM untuk membayar perawatan.

Nenek mengeluarkan kartu ATM dari saku dan memberi tahu putranya kode penarikan.

Nenek memiliki lima atau enam luka di tubuhnya. Untungnya, dia cepat di bawa ke rumah sakit tepat waktu, sehingga jauh dari bahaya.

Kaki nenek terluka parah dan sulit berjalan, jadi putra dan menantunya membiarkannya tinggal di rumah sakit.

Dalam beberapa hari pertama, putra, menantu, dan cucu datang menjenguk nenek.

Setelah beberapa minggu, mereka meninggalkan nenek di rumah sakit sendirian.

Karena tidak membayar biaya, perobatan nenek dihentikan dan dia pulang ke rumah dengan susah payah, dan meminta putranya untuk mengembalikan kartu ATM-nya.

Namun, putranya menyangkal bahwa nenek telah memberikan kartu ATM padanya, dan mengatakan bahwa dia selalu linglung.

Dengan putus asa, nenek Wu akhirnya meminta bantuan tetangganya untuk menghubungi Xing-Xing.

Xing-Xing yang berada di dalam kelas langsung pergi untuk mengecek pemakaian kartu ATM neneknya. Kemudian bergegas menemui putra nenek.

Mereka masih menyangkal, Xing-Xing mengancam mereka agar segera mengembalikan kartu ATM dan mengembalikan uang yang diambil, jika tidak, dia akan menelepon polisi.

Mereka tidak percaya dan berpikir bahwa gadis kecil itu hanya mencoba membuatnya takut, jadi Xing-Xing akhirnya benar-benar menelepon polisi.

Setelah polisi datang, Xing-Xing meminta pada nenek untuk memberikan penjelasan bagaimana anaknya melakukan penipuan kartu ATM-nya.

Polisi merekam pengakuan di tempat kejadian dan membawa pergi putra dan menantu nenek.

Dalam proses penyelidikan dan pengumpulan barang bukti, polisi menemukan uang Rp 5 miliar dari kartu ATM sudah ditransfer ke rekening putra dan menantunya, polisi juga menemukan bahwa, pria bertopeng yang merampok nenek hari itu adalah orang suruhan menantunya.

Setelah kejadian itu, Xing-Xing menyewakan nenek apartemen untuk orang tua di kota.

Xing-Xing sering mengunjungi nenek di apartemen. Setiap tahun baru dan hari libur, Xing-Xing akan membawa nenek pulang dan menghabiskan waktu bersama.

Untungnya, meskipun gadis yang diadopsi sudah tumbuh dewasa, dia masih sangat berbakti kepada nenek.

Sebaliknya, putra kandung dan menantu perempuannya, benar-benar berhati jahat, bisa dengan tega berbuat kejam pada ibu kandungnya.

Pada akhirnya, putra dan menantunya mendapatkan hukuman yang setimpal.

Dan nenek Wu, akhirnya, bisa menikmati hari tuanya dengan penuh cinta dan perhatian dari gadis yang berbakti itu. (lidya/yn)

Sumber: hknews

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular