oleh Li Zhaoxi

Virus komunis Tiongkok (COVID-19) sudah menjadi wabah  dunia selama satu setengah tahun. Gejala Long COVID terus membuat kesulitan bagi dunia medis. Sebuah studi berskala besar baru-baru ini menemukan bahwa ratusan ribu orang Amerika Serikat mencari perawatan medis untuk masalah kesehatan yang muncul setelah mereka pulih dari terinfeksi virus komunis Tiongkok, padahal gangguan kesehatan terakhir ini tidak pernah didiagnosis sebelum terinfeksi

Organisasi kesehatan nirlaba AS ‘FAIR Health’ pada hari Selasa 15 Juni merilis sebuah laporan baru, yang menganalisis catatan asuransi kesehatan swasta dari hampir 2 juta pasien positif COVID-19 pada tahun 2020. Studi ini mencakup berbagai usia dari bayi hingga orang tua. Di mana sekitar 53% adalah wanita, dan 47% adalah pria. ‘FAIR Health’ menyatakan bahwa seorang peninjau akademik independen telah mengevaluasi laporan tersebut, tetapi belum menjalani peer review formal.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa hampir seperempat dari pasien (23%) mencari pengobatan untuk masalah kesehatan baru yang muncul sebulan atau lebih setelah terinfeksi virus komunis Tiongkok dan dinyatakan sembuh secara medis. Mereka ini termasuk anak-anak. 

Gejala baru mereka yang paling umum adalah nyeri, termasuk nyeri saraf dan otot, serta kesulitan bernapas, kolesterol tinggi, rasa tidak nyaman dan kelelahan, tekanan darah tinggi. Lainnya termasuk masalah di usus, migrain, masalah kulit, kelainan di jantung, gangguan tidur, dan masalah kesehatan mental seperti rasa cemas dan depresi.

Pendapat masyarakat secara umum adalah bahwa pasien dengan penyakit parah yang paling, mungkin melaporkan adanya gejala yang muncul pasca-COVID-19. Akan tetapi, penelitian menunjukkan bahwa bahkan untuk pasien ringan yang terinfeksi virus komunis Tiongkok. Itupun gangguan kesehatan setelah sembuh juga sering terjadi. 

Meskipun hampir setengah dari pasien yang dirawat di rumah sakit, karena positif COVID-19 mengalami masalah kesehatan susulan tersebut. Hal yang sama berlaku untuk 27% dari mereka yang memiliki gejala ringan atau sedang dan 19%, dari yang mengatakan bahwa mereka adalah pasien COVID-19 tanpa gejala.

“Satu hal yang mengejutkan kami adalah bahwa pasien tanpa gejala itu justru yang menyita sebagian besar dari kategori Gejala Panjang COVID (Long COVID)”, kata Robin Gelburd, presiden ‘FAIR Health’.

Robin Gelburd mengatakan bahwa fakta yang cukup penting adalah bahwa orang terinfeksi COVID-19 yang tanpa gejala, mungkin memiliki gejala setelah pulih. Dikarenakan dengan demikian pasien dan dokter akan tahu bahwa gangguan kesehatan yang baru muncul ini, sebenarnya merupakan gejala sisa dari terinfeksi virus komunis Tiongkok. 

Beberapa orang bahkan mungkin tidak tahu, bahwa mereka sebelumnya telah terinfeksi virus komunis Tiongkok. Akan tetapi, jika mereka terus mengalami gangguan kesehatan yang terjadi di luar riwayat kesehatan mereka, maka kiranya perlu penyelidikan lebih lanjut oleh profesional medis.

“Untuk menangani begitu banyak data, ini adalah studi yang sulit”, kata Dr. Helen Chu, asisten profesor kedokteran dan penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Washington. 

Meski tidak ikut dalam laporan tersebut, dia membenarkan laporan tersebut. Dia mengatakan bahwa, kekuatan sebenarnya dari penelitian ini terletak pada skala dan kemampuannya untuk mengamati tingkat keparahan penyakit pada kelompok usia yang berbeda.

Meskipun pasien dari segala usia dan jenis kelamin telah melaporkan gejala pasca-COVID-19, gejala spesifik mereka bervariasi sampai batas tertentu karena usia dan jenis kelamin. Misalnya, masalah gastrointestinal adalah gejala paling umum ketiga pada pasien anak, tetapi merupakan gejala paling umum ke-11 pada pasien antara usia 40 hingga 49 tahun. Kolesterol tinggi adalah gejala paling umum kedua pada pasien berusia antara 50 hingga 59 tahun, tetapi peringkat ke-13 di antara gejala paling umum pada anak-anak.

Dalam studi baru, 58% dari Long COVID adalah kaum wanita, dan sebagian besar gejala yang dianalisis lebih sering terjadi pada kaum wanita. Tetapi masalah tertentu, seperti penyakit jantung dan gagal ginjal, lebih banyak menyerang kaum pria.

Para ahli mengatakan bahwa secara keseluruhan, temuan yang dilaporkan menekankan bahwa gejala yang timbul pasca-COVID-19 sangat beragam dan luas. Orang dengan Gejala Long COVID memerlukan perawatan multidisiplin. Sistem kesehatan harus beradaptasi dengan kenyataan ini dan meningkatkan kemampuannya dalam menangani keluhan pasien ini. (sin)

 

Share
Tag: Kategori: NEWS SEHAT

Video Popular