Erabaru.net. Sebuah organisasi amal di Taiwan, King Car Cultural & Educational Foundation, belum lama ini telah berbagi cerita di Facebook, yang menyentuh banyak netizen…

Mereka menerima telepon dari seorang pria bernama Li Ansheng. Pria itu mengatakan adik laki-lakinya, Li Anxiang telah meninggal, dan hal terakhir yang ingin dia lakukan adalah menyumbangkan semua uang tabungannya!

Menurut postingan itu, Li Ansheng menyebutkan bahwa adik laki-laki itu sangat jujur dan pendiam sejak dia masih kecil. Sejak orangtuanya pergi satu demi satu, dia jarang berinteraksi dengan orang lain.

Dia telah hidup dalam kesendirian dan mengasingkan diri dari masyarakat selama hampir satu tahun.

Dia juga tidak bergaul dengan saudara-saudaranya.

Li Anxiang tinggal sendirian di Taichung. Dia tidak menikah. Dia melakukan pekerjaan serabutan di lokasi konstruksi dan menjalani kehidupan yang sulit.

Tanpa diduga, ketika kedua bersaudara itu bertemu lagi, itu adalah pertemuan sekaligus perpisahan bagi keduanya.

Li Ansheng bulan lalu menerima telepon dari seorang petugas polisi yang memberitahukan bahwa saudara laki-lakinya telah meninggal di kediamannya.

Ketika dia pergi untuk mengurus pemakaman dan mengemasi barang-barangnya, dia secara tidak sengaja menemukan sebuah pesan bahwa penerima dana dari seluruh uang tabungannya adalah King Car Cultural & Educational Foundation.

Li Anxiang hidup hemat dan sederhana. Meskipun dia tidak menghasilkan banyak uang, dia memiliki hampir satu juta yuan taiwan (sekitar Rp 510 juta) di tabungannya.

Li Ansheng menulis: “Saudaraku hidup sangat hemat, tetapi dia tidak lupa untuk memberi kembali kepada masyarakat. Dia lebih memilih hidup sederhana dan tidak boros, lebih baik menyumbang untuk amal. Itu benar-benar membuatku malu. Dia benar-benar orang yang baik!”

Pihak yayasan yang menerima sumbangan itu sangat tersentuh dan mengirimkan ucapan terima kasih secara khusus!

Li Ansheng mengingat adik laki-lakinya yang mengasingkan diri dan mengisolasi dari kerabat dan teman-temannya, tetapi masih tergerak untuk berbuat kebaikan.

“Dalam hatinya yang tertutup dan kesepian, pikiran baiknya teguh dan menyilaukan. Dia mengembara sendirian, tetapi dia diam-diam mendedikasikan apa yang dia miliki. Dalam segala hal, dia terlihat tidak peduli terhadap kehidupan, tetapi dengan tulus berharap bahwa anak-anak dari desa setempat akan dapat mengatasi kesulitan,” ujar sang kakak.

Kesuksesan setiap orang tidak dapat didefinisikan secara sepihak, dan kesuksesan materi atau reputasi bukanlah satu-satunya kriteria untuk mengukur seseorang. Orang-orang biasa juga memiliki kesuksesan kecil mereka sendiri, yang layak untuk dihormati.

Ketika melihat sesuatu jangan selalu menggunakan cara berpikir sendiri untuk menilai orang lain, Anda harus belajar berpikir tentang orang lain agar dapat memahami lebih mendalam dan menyeluruh.(lidya/yn)

Sumber: starnews19

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular