Erabaru.net. Di Desa Wayao, Kabupaten Shiquan, Shaanxi, Tiongkok, sepasang suami istri, Yang Jibao dan Ming Xingmei kembali ke kampung halaman mereka untuk memulai peternakan burung puyuh. Awalnya mereka hanya memelihara 6000 ekor burung puyuh, kini di 3 kandangnya peternakannya telah terisi dengan 120.000 ekor burung puyuh.

Satu kandang besar mereka berukuran 400 meter persegi, dan di dalamnya terdapat 40.000 burung puyuh yang dapat menghasilkan lebih dari dari 300 kilogram telur puyuh setiap hari.

Yang Jibao pergi meninggalkan desanya untuk bekerja di kota pada usia 19 tahun. Setelah menikah, dia membuka bisnis sendiri.

Pada tahun 2018, Yang Jibao mengatakan pada istrinya: “Orangtuaku semakin tua, dan tidak ada orang yang menjaganya, saya menjadi khawatir. Putra tertua kita sudah SMP, dia dulu bersama kakek neneknya. Putri kita berumur 5 tahun, dan dia butuh untuk ditemani. Dua anak membutuhkan lebih banyak waktu untuk menemani. Jika kita pulang, keluarga akan memiliki lebih banyak waktu bersama.”

Mereka kembali ke desanya pada tahun 2018 untuk. Pasangan ini memutuskan untuk memelihara burung puyuh setelah tahu di desanya tidak ada yang memelihara burung puyuh dalam skala besar, dan telur puyuh setempat didatangkan dari tempat lain. Melihat hal tersebut, mereka memulai beternak burung puyuh dengan memelihara 6.000 ekor.

Karena permintaan pasar yang besar untuk telur puyuh, mereka terus memperluas skala pembiakan puyuh. Mereka telah membangun tiga kandang penangkaran bersama dengan peralatan baru yang telah dipasang, dan 40.000 burung puyuh kecil akan segera didatangkan.

Yang Jibao berkata: “Di kandang kami yang baru dibangun, pencahayaan dan suhu dikontrol bekerja secara otomatis. Suhu harus dikontrol antara 27 derajat dan 30 derajat. Waktu pencahayaan adalah 16 jam sehari. Jika suhu dan cahaya tidak dikontrol dengan baik, itu akan mempengaruhi tingkat produksi telur dan kualitas produksi Telur.

“Memberi makan, memberi minum, dan membersihkan kotoran juga otomatis. Kandang dan peralatan di dalamnya semua menelan biaya lebih dari 200.000 yuan (sekitar Rp 448 juta), dan lebih dari 40.000 burung puyuh dibawa dalam tahap awal.

Sekarang pasokan telur puyuh terbatas, sebuah perusahaan makanan cepat saji lokal ingin saya memasok 200.000 telur puyuh sehari. Karena saat ini belum bisa memasok sebesar itu, saya tidak bisa menandatangani kontrak dengan mereka. Saya harus lebih dulu memperluas skala pembiakan, sampai nanti sudah mencapai 300.000 baru akan tersedia untuk pengiriman.”

Telur puyuh mereka dijual grosir, dan harga grosir satu kati telur puyuh adalah antara 5-7 yuan (sekitar Rp 100-150 ribu). Yang Jibao harus mengantarkan barang hampir setiap hari. Dia mengatakan bahwa biaya bahan bakar mobil pengantar akan menelan biaya lebih dari 40.000 yuan (sekitar Rp 89 juta) dalam setahun.

Seekor burung puyuh dapat bertelur sekitar 300 butir dalam setahun, setelah bertelur satu tahun burung puyuh tersebut akan disingkirkan. Sedangkan burung puyuh baru dapat bertelur setelah berumur 50 hari.

Peternakan puyuh juga dipasangkan CCTV. Yang Jibao mengatakan: “Saya dapat melihat perubahan apa pun di dalamnya. Tingkat otomatisasi tinggi, dan penanganannya menjadi mudah.” (lidya/yn)

Sumber: funnews61

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular