oleh Li Zhaoxi

Virus komunis Tiongkok (COVID-19) varian Brasil P1 telah diidentifikasi sebagai strain yang sangat mematikan. Saat ini, ada ribuan kasus baru dan kematian warga Brasil karena terinfeksi virus komunis Tiongkok setiap harinya. Dalam beberapa hari ke depan, jumlah kematian di negara itu dapat mencapai lebih dari 500.000. Sekarang varian P1 membunuh wanita hamil Brasil dan anak-anak mereka yang belum lahir dengan tingkat kecepatan yang sangat mengkhawatirkan

Menurut laporan media Inggris ‘Sky News’ pada  Jumat 18 Juni, terdapat 42 orang wanita hamil Brasil yang meninggal dunia setiap minggu karena virus komunis Tiongkok. Peneliti medis di ‘Brazilian Obstetric Observatory’ mengatakan bahwa, semakin banyak wanita yang menerima intubasi tanpa berkonsultasi dengan dokter kandungan, mereka memilih untuk melahirkan bayi prematur mereka melalui operasi caesar.

Tingkat penularan virus varian P1 sangat tinggi (di São Paulo, 9 diantara 10 kasus konfirmasi terinfeksi virus komunis Tiongkok disebabkan oleh varian ini), ditambah lagi dengan sistem pelayanan kesehatan yang kewalahan, sehingga wanita hamil di Brasil saat ini menghadapi risiko yang ekstrim.

Rossana Pulcineli Vieira Francisco dari ‘Brazilian Obstetric Observatory’ mengatakan bahwa varian P1 lebih mudah menular, dan sistem perawatan kesehatan ibu dan anak yang buruk di Brasil saat ini juga merupakan masalah besar. Dia mengatakan, dokter kandungan harus bekerja sama dengan dokter perawatan intensif untuk menemukan perawatan yang tepat bagi ibu dan anak. Jika tidak, maka akan sulit untuk mencegah ibu hamil meninggal selama pandemi ini.

“Saya pikir kita memiliki lebih banyak kasus karena varian dan karena sistem perawatan kesehatan ibu dan anak yang sangat rapuh, jadi hasil yang kita dapat adalah seperti ini”, jelas Rossana Pulcineli Vieira Francisco lebih lanjut. Karena layanan dan fasilitas medis yang buruk, angka kematian wanita hamil di Brasil sudah tinggi, ada 55 dari 100.000 orang wanita hamil yang meninggal. Di Inggris, angka ini hanya 9,7 orang. 

Dr. Rossana Pulcineli Vieira Francisco mengatakan bahwa, penelitian mereka sejauh ini menunjukkan bahwa, ditambah lagi dengan epidemi yang ikut memperburuk situasi, jumlah kematian wanita hamil di Brasil dapat berlipat ganda pada akhir tahun ini. Bisa jadi ada lebih dari 100 dari setiap 100.000 orang wanita hamil di Brasil yang meninggal.

Dr Patricia Sella, koordinator medis ginekologi mengatakan bahwa, dirinya percaya bahwa varian P1 yang melanda Brasil sedang menginfeksi wanita hamil muda, situasi yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Pada tahun 2020, jumlah ibu hamil yang terkonfirmasi COVID-19 di rumah sakit  hanya sedikit, tetapi saat ini sedikitnya satu orang ibu hamil setiap minggu akan dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Dugaan alasannya adalah karena tingkat infeksi varian P1 yang tinggi.

“Jadi, sebenarnya, saya pikir seiring dengan mutasinya strain virus, kita melihat proses inflamasi, dan vaskulitis yang disebabkan oleh virus jauh lebih serius. Ya, ini akhirnya berubah dan dibawakan kepada wanita hamil,” ujar Dr Patricia Sella. 

Lebih lanjut Sella menjelaskan : “( Wanita hamil) karena evolusi dari kehamilan itu sendiri, di mana kepatuhan paru-paru akan menurun, ditambah lagi karena terinfeksi COVID-19, jadi pada akhirnya membuat kondisi kesehatan wanita hamil menjadi lebih buruk”.

Sella juga menyebutkan bahwa jumlah dan tingkat keparahan kasus terus meningkat, dan varian P1 akhirnya menginfeksi ibu hamil yang sebelumnya tidak ada riwayat penyakit lain. Mereka tadinya tidak memiliki gejala tekanan darah tinggi, juga tidak memiliki diabetes selama kehamilan berlangsung.

Karena lambatnya promosi vaksin, otoritas kesehatan Brasil telah mengambil pendekatan ekstrim yaitu menghimbau wanita untuk menunda kehamilan. (Sin)

 

Share

Video Popular