oleh Zhu Ying

Virus komunis Tiongkok (COVID-19) dari varian Delta telah menyebar ke lebih dari 80 negara dengan daya penularan yang lebih tinggi dan lebih mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menggolongkan virus tersebut sebagai virus yang mengkhawatirkan. Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, Rochelle Walensky mengatakan bahwa virus varian Delta kemungkinan akan menjadi epidemi utama di Amerika Serikat. Pakar Jepang mengatakan bahwa virus mutan dapat menyebabkan puncak gelombang baru epidemi

CNBC mengutip laporan WHO pada 19 Juni menyebutkan bahwa, virus komunis Tiongkok varian Delta yang lebih menular dan mematikan, kini telah menyebar ke lebih dari 80 negara dan telah menjadi strain virus utama dari pandemi global komunis Tiongkok (COVID-19). 

Menurut laporan itu, WHO telah melabeli varian Delta sebagai varian yang perlu menjadi perhatian atau Variant of Concern (VOC) yang artinya bahwa virus tersebut lebih menular, lebih mematikan, atau dapat membuat vaksin dan terapi yang ada menjadi kurang efektif.

Data yang dirilis oleh CDC-AS menunjukkan bahwa, di antara kasus yang baru dikonfirmasi di Amerika Serikat, pasien yang terinfeksi strain virus Delta mencapai 10%, yang meningkat dari 6% yang tercatat pada pekan lalu. Direktur CDC, Rochelle Walensky kembali meminta warga AS untuk menerima vaksinasi. Dia memperkirakan bahwa, varian Delta ini berpotensi menjadi strain virus utama dari pandemi di Amerika Serikat.

Selain itu, setelah pemerintah Jepang pada Minggu mengumumkan pencabutan deklarasi darurat di 9 wilayah negara itu, ‘Yomiuri Shimbun’ mengutip peringatan ahli melaporkan bahwa jenis virus varian Delta lebih menular daripada virus varian Alpha, yaitu strain yang pertama kali ditemukan di Inggris. Gelombang kelima epidemi diperkirakan akan menyerang dari akhir bulan Juli hingga akhir Agustus. Jika warga melonggarkan kewaspadaan mereka, karena pemerintah mengumumkan pencabutan deklarasi darurat di beberapa daerah, maka situasi akan membuat sistem medis semakin runtuh.

Pada akhir  Februari tahun ini, setelah Prefektur Osaka dan tempat-tempat lain mengumumkan pencabutan deklarasi darurat, beberapa ahli menyatakan keprihatinan bahwa strain virus varian Alpha yang baru ditemukan di Inggris dapat menyebar dengan cepat di Jepang, dan menimbulkan gelombang keempat epidemi. 

Akhirnya benar saja, varian Alpha menggantikan jenis virus tradisional dan menyebar dengan cepat di Jepang. Pernah di suatu waktu, ada sebanyak 1.260 kasus baru yang didiagnosis dalam sehari di Prefektur Osaka, membuat sistem medis di sana hampir menghadapi krisis besar.

Dalam beberapa hari terakhir, tercatat oleh pihak berenang Prefektur Osaka bahwa tingkat positif antara 10 hingga 15 Juni, telah meningkat sebesar 6,2%. Sebagai tanggapan, Profesor Urashima Matsuya dari Universitas Kedokteran Tokyo Jukeikai, memperingatkan pihak berwenang Jepang agar bersiap menghadapi varian Delta yang diam-diam sudah mulai menyerang Jepang, mengambil contoh Inggris yang meskipun banyak warganya telah divaksinasi. Akan tetapi setelah itu, karena menyebarnya strain virus varian Delta dari India, tingkat positif di Inggris kembali meningkat. 

Inggris telah memvaksinasi warganya secara besar-besaran sejak awal tahun ini. Sejauh ini, hampir setengah dari populasi (sekitar 30 juta orang) telah menyelesaikan dua dosis vaksinasi, dan lebih dari 60% populasi telah menerima vaksin dosis pertama. Pemerintah Inggris awalnya berencana untuk mencabut blokade domestik negara itu pada 21 Juni ini. Namun demikian, peningkatan jumlah kasus infeksi memaksa pemerintah Inggris untuk menunda tanggal rilis selama empat minggu. Alasan utama dari penundaan tersebut adalah penyebaran varian Delta di Inggris.

Menurut situs web BBC berbahasa Mandarin, badan pencegahan epidemi Inggris menemukan melalui penelitian lanjutan bahwa infektivitas dari varian Delta, mencapai 60% lebih tinggi dari virus komunis Tiongkok asal Wuhan. Hal mana juga telah menggandakan jumlah pasien yang terpaksa dirawat di rumah sakit karena terinfeksi. Sedangkan dari data yang diumumkan pihak berwenang Inggris menunjukkan bahwa, lebih dari 90% pasien yang baru-baru ini tertular virus komunis Tiongkok (COVID-19) di Inggris dikonfirmasi terinfeksi virus varian Delta, dan lebih setengah dari pasien yang kemudian meninggal tersebut karena terinfeksi virus varian Delta.

Hingga saat ini, jumlah kematian di seluruh dunia karena epidemi komunis Tiongkok (COVID-19) telah mencapai lebih dari 3,8 juta orang, tak terhitung  data daratan Tiongkok dengan pemerintahan yang kerap menyembunyikan data dampak wabah.  (sin)

Share

Video Popular