oleh Li Lan

Bloomberg pada (22/6/2021)  melaporkan, dikarenakan semua indikator ekonomi utama Mei 2021 yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional Tiongkok pada minggu lalu, lebih rendah dari ekspektasi (termasuk output industri, penjualan ritel, investasi aset tetap, dan investasi real estate), baik Oxford Economic Research Institute, Barclays Banks maupun Morgan Stanley telah menurunkan perkiraan mereka terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada tahun 2021, dari 9% atau lebih tinggi menjadi di bawah 9%.

Perkiraan median survei ekonom Bloomberg menunjukkan bahwa PDB Tiongkok tahun 2021 akan tumbuh sebesar 8,5%.

Pemulihan konsumsi yang lemah, ekspor yang melambat dan momentum investasi yang lemah adalah tiga alasan utama para ekonom menurunkan perkiraan mereka.

Meskipun demikian, beberapa ekonom yang masih optimis dengan prospek pertumbuhan ekonomi Tiongkok, Namun Dr Cheng Xiaonong memiliki pandangan yang berbeda tentang hal ini.

Dalam komentar khusus untuk Radio Free Asia, Cheng Xiaonong mengatakan bahwa, beberapa cendekiawan dan wartawan Barat sangat terkesan dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang tinggi dan terus-menerus di masa lalu sehingga mereka mengabaikan penilaian dan pemikiran di tingkat makronya. Oleh karena itu salah menilai prospek ekonomi rezim komunis Tiongkok.

Cheng Xiaonong berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok, didasarkan pada ekonomi berorientasi ekspor yang tidak dapat diulang kembali dan model pembangunan ekonomi yang berfokus pada pembangunan infrastruktur dan real estate berskala besar. “Kemakmuran” semacam ini hanya terjadi sekali, karena merupakan produk dari pemerintah pusat yang memobilisasi sumber daya dari seluruh negeri, dan ini bukanlah hasil perkembangan alami dari ekonomi pasar.

Pada saat yang sama, angka pengangguran yang tinggi, upah rendah, dan populasi yang menua membuat rezim komunis Tiongkok tidak mungkin mengandalkan kekuatan konsumsi untuk menggerakkan ekonomi.

Cheng Xiaonong percaya bahwa hari ini kemakmuran ekonomi Tiongkok, bukan lagi sebuah norma, sebaliknya kesulitan ekonomi telah menjadi norma baru. Anak-anak muda di daratan Tiongkok sekarang lebih memilih menganut sikap apatisme, ini mencerminkan pesimisme terhadap masa depan generasi mendatang.

Tingkat pengangguran Mei 2021 yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional Tiongkok baru-baru ini, menunjukkan bahwa angka pengangguran kaum muda berusia 16-24 tahun telah mencapai 13,8% atau 2 kali lebih dari tingkat pengangguran non-pertanian secara keseluruhan yang berjumlah 5%. (sin)

 

Share

Video Popular