Tom Ozimek

Sebuah studi baru menemukan bahwa penggunaan hidroksiklorokuin dan azitromisin dengan berat yang disesuaikan meningkatkan kelangsungan hidup penderita-penderita COVID-19 yang mendapat terapi ventilasi hampir sebesar 200 persen.

Studi observasional, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, didasarkan pada sebuah analisis ulang terhadap 255 penderita, yang mendapat terapi ventilasi mekanis invasif selama dua bulan pertama pandemi di Amerika Serikat.

Para peneliti menemukan bahwa ketika kombinasi hidroksiklorokuin-azitromisin diberikan pada dosis yang lebih tinggi, untuk mengobati penderita-penderita COVID-19 yang mendapat terapi ventilasi, risiko kematian adalah sekitar tiga kali lebih rendah.

“Kami menemukan bahwa ketika dosis kumulatif dua obat, hidroksiklorokuin dan azitromisin, berada di atas suatu tingkat tertentu, penderita-penderita memiliki sebuah angka kelangsungan hidup 2,9 kali dibandingkan dengan penderita-penderita yang lain,” para penulis studi tersebut mencatat.

Studi itu juga menjelaskan : “Dengan menggunakan analisis kausal dan mempertimbangkan dosis kumulatif dengan berat yang disesuaikan, kami membuktikan terapi kombinasi, hidroksiklorokuin lebih dari 3 gram dan azitromisin lebih dari 1 gram, sangat meningkatkan kelangsungan hidup pada penderita-penderita COVID yang mendapat terapi ventilasi mekanis invasif dan bahwa dosis kumulatif hidroksiklorokuin lebih dari 80 mg/kg bekerja jauh lebih baik.”

Sementara para penulis mengakui bahwa penderit yang mendapat  dosis hidroksiklorokuin yang lebih tinggi, juga mendapat dosis azitromisin yang lebih tinggi, mereka “tidak dapat hanya mengaitkan efek kausal dengan terapi kombinasi hidroksiklorokuin/azitromisin.”

“Namun, kemungkinan azitromisin memang berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan angka kelangsungan hidup ini. Karena terapi dosis  hidroksiklorokuin/azitromisin yang lebih tinggi meningkatkan kelangsungan hidup sebesar hampir 200 [persen] dalam populasi ini, data keamanan tersebut diperdebatkan,” demikian para penulis menambahkan.

Hidroksiklorokuin–—obat anti-peradangan dan anti-malaria—–menjadi salah satu perawatan yang paling diperebutkan untuk COVID-19 sepanjang pandemi.

Hidroksiklorokuin disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) atau Administrasi Makanan dan Obat AS pada tahun 1955 untuk mengobati dan mencegah malaria. Hidroksiklorokuin juga diresepkan untuk mengobati lupus dan peradangan sendi, akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri.

Sementara FDA awalnya mengabulkan kewenangan penggunaan kedaruratan hidroksiklorokuin untuk penanganan COVID-19 pada bulan Maret 2020, Administrasi Makanan dan Obat mencabut kewenangan tersebut pada tanggal 15 Juni 2020, karena data menunjukkan hidroksiklorokuin “cenderung tidak efektif dalam mengobati COVID-19” dan bahwa potensi resikonya lebih besar daripada manfaatnya.

FDA, berbalik haluan setelah muncul sebuah studi oleh Universitas Oxford di Inggris, yang mana menemukan hidroksiklorokuin berprestasi buruk dalam melakukan protokol-protokol perawatan rutin.

“Sayangnya, masalah-masalah dalam metodologi-metodologi penelitian menilai efektivitas dan risiko hidroksiklorokuin telah meninggalkan keraguan, masalah-masalah tersebut mencakup dosis yang dipertanyakan,” tulis Dr. Joseph Mercola, seorang dokter osteopatik, dalam sebuah tajuk rencana untuk The Epoch Times. 

Beberapa, seperti kontributor The Epoch Times, Roger L. Simon, berdebat bahwa studi seputar penggunaan hidroksiklorokuin untuk mengobati COVID-19 dipolitisasi oleh penentang mantan Presiden Donald Trump, yang menganjurkan penggunaan hidroksiklorokuin. (Vv)

 

Share
Tag: Kategori: NEWS SEHAT

Video Popular