Erabaru.net. Sudah berusia 40 tahun dan belum menikah. Ibunya sangat mengkhawatirkannya. Tapi dia tetap teguh dengan pilihannya untuk tinggal sendirian di rumah tua untuk menikmati hidup dengan penuh kedamaian.

Pada awal Oktober 2018, Lazy memutuskan untuk mengakhiri karirnya yang telah dia jalani lebih dari 10 tahun di Beijing. Dia menemukan sebuah rumah tua di sebuah desa di pegunungan yang tak jauh dari rumah orangtuanya, dan berencana untuk mengubahnya menjadi rumah persinggahan yang ideal.

Bangunan putih yang terlihat dari kejauhan adalah rumah Lazy yang akan direnovasi, dan berjarak 2 jam perjalanan dari rumah orangtuanya.

Pada awalnya, saat Lazy mengutarakan niatnya untuk tidak tinggal bersama orangtuanya, mereka menentang keras: “Jika kamu sudah menikah sekarang, kamu bisa pergi ke mana saja yang kamu mau . Tapi kamu tidak bisa pergi ke gunung sendiri!”

Keluarganya telah menasehatinya baik secara lembut maupun keras dan proyek renovasi telah tertunda dari hari ke hari.

Pada 19 Mei 2019, saat memutuskan untuk merenovasi rumahnya, tiba-tiba Lazy menemukan bahwa tubuhnya bengkak. Dia pun pergi pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan,. Untungnya, pembengkakannya tidak berbahaya. Dokter menyarankan untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat dan suasana hati harus tetap bahagia.

Apakah kondisinya itu sebagai bel alarmnya? Apakah itu mengingatkannya dengan lembut? Tapi, Lazy tetap memutuskan untuk tinggal di pegunungan sendirian!

Lazy memiliki benda-benda lama,yang bagi orang lain itu mungkin akan dibuang, tapi, di tanganl lazy itu menjadi karya seni yang indah.

Di rumah yang dia sewa di Beijing, mesin jahit lama, kotak kayu dari beberapa dekade yang lalu, dan semua jenis tanaman dan dekorasi kayu dapat terlihat di mana-mana.

Meskipun ada banyak barang, itu tidak tampak berantakan, karena Lazy menempatkan setiap objek pada posisi yang mengagumkan.

Belakangan, semakin banyak objek yang dikumpulkan. Dia menyewakan beberapa apartemen dan menggunakan benda-benda tua ini sebagai dekorasi. Apartemen-apartemen ini tidak hanya bisa dijadikan sebagai “Pameran Benda Lama” nya, tapi juga tempat menginap para wisatawan

Saat itu, dia terlibat dalam pekerjaan yang berhubungan dengan desain di Beijing, dia dikelilingi oleh sekelompok teman desainer.

Pada saat orang lain membeli mobil, membeli rumah, menikah dan memiliki anak, sekelompok dari mereka berkumpul untuk merangkai bunga, berfoto, membuat tembikar, mendesain, dan bahkan “memungut barang bekas” di hari yang panas.

Tetapi kemudian di Beijing, semuanya berangsur-angsur berubah. Studio yang dirancang dengan baik membutuhkan perbaikan, dan mereka pun membawa dekorasi bunga untuk dipindahkan ke Hebei.”

Kantornya di Beijing tidak memiliki tanah yang tersisa untuk membuat taman. Teman-temannya semua memiliki ide untuk meninggalkan Beijing.

Selama perjalanan ke Hebei, meraka melihat bahan herba di pegunungan dan dataran, dan kemudian dia menyadarinya, dan berseru, : “Ternyata hidup saya adalah di gunung.”

Dia mulai membayangkan keadaan asli pekarangan dari waktu ke waktu: di masa depan, dia akan memiliki pekarangan di pegunungan, tanpa terikat oleh peraturan di kota, tanpa khawatir rumah diambil kembali oleh penguasa. Sehingga dia dapat merancang rumah baru tanpa ragu-ragu.

Setelah beberapa waktu mencari tempat yang cocok tidak ketemu, dia tidak menyangka akan mendapat tempat yang baik tidak jauh dari rumahnya.

Dia sedang mendaki Gunung Wugong hari itu, mencoba mencari tempat tinggal di desa di kaki gunung. Saat berjalan-jalan di desa, dia melihat halaman yang setengah tertutup dari kejauhan.

Pertama dia melihat sebuah sungai, dan ada jembatan lengkung tua di atas sungai dan kemudian ada dinding halaman yang tersembunyi oleh hutan bambu. Di dalam dinding ada 3 rumah kosong.

Karena halaman yang terpelihara dengan baik dan relatif tersembunyi, dia jatuh cinta pada pandangan pertama, dan sangat percaya bahwa intuisinya benar.

Namun setelah kesepakatan untuk membeli rumah sudah ditandatangani, tentangan dari orangtuanya dan kesehatannya sendiri menyebabkan masalah menjadi buntu. Ini adalah adegan di awal cerita.

Lazy memahami upaya keras orangtua, dan ada kakak perempuannya juga di rumah. Mereka bukan ingin menahannya namun mereka khawatir dengan Lazy yang akan tinggal sendiri di usianya dan masih jomblo.

Untuk ini, dia juga berjuang untuk waktu yang lama. Perasaan ingin melakukan tetapi tidak bisa melakukannya sangat menyakitkan.”

Dia akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Setiap orang memiliki ritmenya sendiri dalam hidup, dia akan menjadi burung yang terbang pergi secara bebas!

Rumah ini terletak di Desa Dajiangbian, Madian, pemandangan Gunung Wugong juga terlihat indah dari lokasi ini. Desa ini berada di area yang indah, dan pusat pengunjung berjarak kurang dari 1 km.

Rumah dibangun 40 tahun yang lalu dan terlihat masih relatif baik. Seluruh pekarangan ditambah kebun sayur di belakang rumah memiliki luas sekitar 1.000 meter persegi, luas bangunan utama meliputi area seluas 240 meter persegi.

Di luar rumah tidak diubah, hanya ditanami tanaman hijau. Pemandangan hutan belantar adalah yang paling pas. Dia ingin mencoba yang terbaik untuk mempertahankan nuansa aslinya.

Hujan deras telah mengikis sebagian dinding pagar yang terbuat dari tanah, jadi dia mengoleskannya kembali dengan lumpur.

 

Agar tidak merusak suasana alam, ia mengganti lampu di langit-langit dengan 7 buah labu tua.

 

Renovasi interior rumah lama sebenarnya membutuhkan lebih banyak usaha daripada membangun rumah baru. Dinding koridor asli terbuat dari batu bata adobe, yang tidak dapat menahan beban atau kedap suara. Semua pekerjaan pembongkaran dan pembersihan sangat memakan waktu.

 

Selain itu, pekerjaan memperbaiki bagian lama tidak sesederhana yang dibayangkan.

Rumah tua itu memiliki lebar 11 meter dan jendelanya sangat kecil. Untuk mendapatkan penerangan yang lebih baik, dia melepas semua jendela kayu kecil dan menggantinya dengan yang lebih besar, dan tirainya terbuat dari katun dan linen.

Lampu antik tua terlihat dengan gaya barat, tetapi dia tetap mempertahankan kaligrafi dan lukisan Tiongkok kuno di dinding.

Lobi menggunakan meja, kursi, lemari berlaci, ditambah sofa dan kain bergaya Barat untuk menciptakan gaya yang berpadu dan serasi.

Dapur yang menggunakan kayu bakar asli diubah menjadi sebuah ruangan. Dinding aslinya telah tertutupi asap hitam, karena malas mendekorasi ulang namun ingin mempertahankan tekstur aslinya, dia menghitamkan dinding lainnya.

Selama renovasi, bangunan utama memiliki dua lantai, 8 kamar asli di lantai pertama diubah menjadi 6 kamar. Dua kamar kecil dibuka untuk membuat suite keluarga.

Untuk memberikan fokus visual pada seluruh ruang, dia berencana untuk “menanam” pohon di dalam ruangan saat ia mengerjakan infrastruktur.

Dia menemukan ruang di belakang setelah berkeliling, dan tempat tidur kecil di ruang luar diganti dengan mengambil tempat tidur dari rumah orangtuanya. Hampir setiap sudut ruangan telah dirancang dengan cermat olehnya.

Setiap kamar diberi nama sesuai dengan gaya desain dan orientasi “atas, bawah, kiri, kanan, dalam dan luar”.

Lampu atas terinspirasi oleh sarang lebah dan adalah buatan tangan dari kain wol.

Orang-orang di desa suka berkunjung dan jika tamua merasa orang-orang di lantai pertama terlalu berisik, mereka bisa membawa buku dan teko teh ke ruang tersembunyi di lantai dua.

Tidak ada jendela besar dari lantai ke langit-langit, tapi ada skylight yang bisa membiarkan sinar matahari dan hujan yang dapat masuk, Lazy mengatakan bahwa manusia dan alam dapat memiliki rasa kedekatan yang alami.

Ia berharap ketika para tamu lelah membaca, mereka dapat melihat Matahari dan mendengar rintik hujan yang jatuh di dalam ruangan.

Jangan khawatir hujan akan membasahi dalam rumah, karena ada kolam bunga besar di bawah skylight, dan setiap tanaman di dalamnya ditanam oleh Lazy sendiri.

Lazy juga memindahkan studionya ke bekas kandang babi asli rumah tua itu. Lantai adobe, meja mesin jahit tua, dan lukisan-lukisan membentuk pola karena letaknya yang tidak tepat, lembab dan berjamur… telah mejadi ruang yang biasanya dia habiskan sepanjang hari

Renovasi berlangsung hampir dua tahun, dan telah menyelesaikan 6 kamar, tetapi hampir 1 juta Yuan ( sekitar Rp 2 miliar) telah diinvestasikan, dan hampir semua tabungannya telah dihabiskan. Renovasi kamar tamu di lantai dua bahkan ditunda karena masalah dana.

Dalam dua tahun terakhir merombak rumah, Lazy benar-benar kehilangan penghasilan secara finansial. Namun, dia tidak mau menerima investasi dari orang lain dan membiarkan orang lain mempengaruhi desainnya.

Saat ini, dia membuka kamar tamu di lantai pertama sebagai wisma, berharap untuk dapat merenovasi lantai atas tahap kedua dari pemasukan para tamu.

Dia suka mendengarkan gemerisik angin yang bertiup melalui hutan bambu di siang hari, dan menunggu bulan perlahan muncul dari awan di malam hari.

Di belakang rumah Lazy ada kebun sayur dengan luas kurang dari satu hektar. Meski kebun sayurnya tidak besar, dia dapat menanam lobak, labu, bunga matahari, jagung, ubi jalar…

Meski Lazy menanam sayuran, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara bekerja sinar matahari terhadap tanaman.

Tetangga sebelah sering memberitahu dia apa yang harus ditanam lalu dia pun menanamnya. Jika matahari menyinari tanaman pada waktu yang tepat, tanaman akan tumbuh dengan baik namun jika tidak, tanaman akan melewatkan musim dan tidak dapat tumbuh.

Setelah proyek renovasi rumah selesai, Lazy berencana untuk menghabiskan lebih banyak waktu belajar menanam sayuran dan mengubah kebun sayurnya menjadi “kebun makanan” seperti yang terlihat di film dokumenter.

Di musim dingin, kesepian dan dingin akan melanda kehidupan gunung, meskipun memiliki kesenangannya sendiri. Tetapi Lazy bukanlah pertapa, kesepian dan ketakutan juga akan muncul dari waktu ke waktu. Berapa lama situasi ini akan berakhir? 3 tahun? 4 tahun? Atau 5 tahun? Dia tidak punya jawaban pasti.

Namun ketika ditanya tentang rencana masa depannya, jawabannya sangat pasti: “Jika pihak renovasi telah menyelesaikan renovasi, dia dapat membuat karya berikutnya. dia pasti akan bergegas ke tujuan berikutnya, dan terus memberinya lebih banyak inspirasi dari hutan belantara. Banyak tempat menjadi kenyataan.”

Pujangga Tiongkok pernah mengatakan : “Kemudian, saya belajar bahwa hidup adalah proses yang lambat untuk bermimpi seiring bertambahnya usia, harapan mereka yang berlebihan menghilang dari hari ke hari.”

Tapi Lazy yang berusia 40 tahun tidak berpikir demikian. Pada usia 40, dia mengambil inisiatif untuk terus bermimpi dan terus bersemangat.. Dia selalu memiliki antusiasme yang tak ada habisnya, dan mimpi baru muncul di setiap tahap.

Usianya baru 40 tahun namun jiwanya seperti berumur 20 tahun! (lidya/yn)

Sumber: funnews61

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular