Li Yun

Baru-baru ini, ada bukti baru bahwa Komunis Tiongkok  menghancurkan sampel virus dalam upaya menyembunyikan sumber virus. Menurut tiga penelitian  yang dilakukan oleh para ilmuwan Inggris, Australia dan Amerika Serikat, wabah mungkin terjadi dua bulan lebih awal dari waktu yang diumumkan oleh Komunis Tiongkok. Sedangkan waktu penyebaran virus ke penjuru dunia mungkin terjadi sebelum Wuhan di-lockdown. Sedangkan faktor kebocoran laboratorium tak mungkin dikesampingkan

Voice of America melaporkan pada 27 Juni, tentang penelitian asal muasal virus Komunis Tiongkok atau coronavirus baru yang dilakukan oleh Universitas Kent, ilmuwan Australia dan ilmuwan Amerika serikat telah menghasilkan tiga penemuan baru. Kesimpulan mereka sangat merugikan praktik Komunis Tiongkok yang mengkambinghitamkan negara lain sebagai sumber virus.

Penelitian Terbaru di University of Kent, Inggris

Para peneliti dari University of Kent di Inggris yang menerbitkan jurnal akademik internasional “PLOS Pathogens”, berdasarkan penelitian menemukan : waktu paling awal virus Komunis Tiongkok muncul dari awal Oktober hingga pertengahan November 2019. Penelitian ini hampir dua bulan lebih awal dari kasus pertama yang diumumkan secara resmi oleh Komunis Tiongkok.

Komunis Tiongkok kerap berulang kali menyatakan bahwa kasus pertama yang dikonfirmasi hanya ditemukan pada Desember 2019, dan kasus tersebut terkait dengan Pasar Makanan Laut Huanan di Wuhan. 

Namun demikian, sebelum 20 Januari 2020, Komunis Tiongkok berulang kali berbohong bahwa epidemi dapat dicegah dan dikendalikan. Bahkan, pada saat itu menyatakan tidak akan menyebar dari orang ke orang, menyebabkan epidemi di luar kendali dan menyebar dengan cepat ke seluruh dunia.

Beberapa kasus awal di Wuhan juga menunjukkan bahwa, kasus pertama tidak ada hubungannya dengan Pasar Makanan Laut Huanan, yang berarti bahwa virus tersebut telah menyebar di tempat lain sebelum mencapai pasar makanan laut.

Para ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia  (WHO) dan Komunis Tiongkok mengakui, setelah penyelidikan Wuhan pada bulan Maret tahun ini, bahwa sebelum wabah epidemi di Wuhan, kasus infeksi sporadis mungkin telah muncul di tempat lain.

Penelitian Terbaru oleh Para Ilmuwan Amerika

Dalam makalah lain yang diterbitkan minggu ini, Jesse Bloom, seorang ahli virologi di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Seattle, AS, memulihkan beberapa kasus awal yang dihapus atas permintaan data penyortiran virus oleh Tiongkok.

Data menunjukkan bahwa sampel virus dari Pasar Makanan Laut Huanan, tak cukup mewakili virus Komunis Tiongkok. Sampel-sampel itu hanya varian dari urutan induk yang menyebar sebelumnya. Sedangkan varian ini telah menyebar ke bagian lain Tiongkok pada waktu itu.

Reuters mengatakan bahwa, National Institutes of Health  (NIH) mengonfirmasi bahwa sampel yang digunakan dalam penelitian telah diserahkan ke Sequence Access File (SRA) pada Maret 2020.  Kemudian dihancurkan atas permintaan penyelidik Komunis Tiongkok. Para penyelidik Komunis Tiongkok mengatakan bahwa mereka akan memperbarui sampel dan mengirimkannya ke tempat lain untuk pengarsipan.

Pengamat mengkritik  penghapusan informasi Tiongkok, yang mana membuktikan bahwa Komunis Tiongkok berusaha menutupi asal usul virus Komunis Tiongkok.

Penelitian terbaru oleh para ilmuwan Australia

Penelitian lain yang diterbitkan oleh ilmuwan Australia dalam jurnal “Scientific Reports” menemukan melalui data genom, bahwa virus dapat mengikat reseptor manusia lebih mudah daripada jenis virus lainnya. Ini menunjukkan bahwa virus muncul untuk pertama kalinya telah beradaptasi dengan tubuh manusia.

Penelitian semacam itu oleh para ilmuwan Australia diterbitkan dalam jurnal “Science Reports” yang diterbitkan pada 24 Juni. 

Penelitian ini menunjukkan bahwa, mungkin ada hewan inang lain yang belum ditentukan  lebih dekat dengan manusia penerima, tetapi hipotesis yang dibocorkan oleh laboratorium tidak dapat dikesampingkan.

Ilmuwan Tiongkok Ajukan Paten Vaksin Lebih Awal Memicu Tanda Tanya

Selain itu, reporter investigasi media Australia “The Australian” Sharri Markson mengungkapkan dalam buku yang akan datang “The Truth in Wuhan” bahwa Zhou Yusen, seorang ilmuwan militer yang sangat dihormati di militer Komunis Tiongkok, sejak awal pada 24 Februari 2020 telah mengajukan permohonan paten vaksin.

Virus Komunis Tiongkok atau Coronavirus baru meledak di Wuhan pada tahun 2019. Pada 20 Januari 2020, Komunis Tiongkok mengakui wabah virus Komunis Tiongkok, dan Wuhan ditutup pada 23 Januari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan epidemi tersebut menjadi pandemi pada 11 Maret di tahun yang sama.

Artinya, permohonan paten Zhou Yusen untuk vaksin virus Komunis Tiongkok, terjadi lima minggu setelah Komunis Tiongkok mengonfirmasi epidemi ke dunia, dan sebelum WHO mengumumkan pandemi global. Soal kecepatan Zhou Yusen dalam mengembangkan vaksin telah menimbulkan tanda tanya.

Profesor Nikolai Petrovsky dari Flinders University mengatakan bahwa, “belum pernah terjadi sebelumnya” bahwa para ilmuwan dapat mengembangkan vaksin begitu cepat. Ia mengatakan : “diragukan bahwa pekerjaan ini mungkin telah dimulai sejak lama. “

Namun, setelah Zhou Yusen mengajukan permohonan paten vaksin atas nama “Lembaga Penelitian Medis Militer dari Akademi Ilmu Pengetahuan Militer” Komunis Tiongkok, ia meninggal dunia secara mendadak pada Mei 2020. Baru pada bulan Juli berita kematiannya terungkap. Tetapi, Komunis Tiongkok tetap bungkam tentang kematiannya. Orang luar mempertanyakan  pengajuan awal oleh Zhou untuk paten vaksin, bocor saat meledaknya virus Komunis Tiongkok dan ia kemungkinan dilenyapkan.  (Hui)

Share

Video Popular