Virus bernama RaTG13 ditemukan di sebuah tambang yang terlantar di Mojiang, Yunnan, hampir 10 tahun lalu

Jeff Carlson dan Hans Mahncke

Shi Zheng-li, direktur Institut Virologi Wuhan (WIV) adalah benang merah di mana banyak proyek penelitian utama dan percobaan-percobaan manfaat- fungsi terhadap Coronavirus terhubung karya Shi Zheng-li menunjukkan sebuah pola penipuan yang aneh, itu ketika  menelusuri jejak melalui publikasi-publikasi olehnya dari tahun 2013 hingga 2020. Di mana sebuah sumber utama untuk Coronavirus yang paling dekat hubungannya dengan COVID-19, ternyata disembunyikan.

Pada tahun 2002, sebuah wabah Coronavirus yang baru bernama SARS. Virus itu mengakibatkan kematian 774 orang di seluruh dunia. Penyelidikan-penyelidikan dengan cepat menetapkan bahwa virus tersebut menyebar dari kelelawar ke musang dan kemudian ke manusia.

Wabah SARS tersebut terbukti membentuk karier Shi Zheng-li, pindah dari penelitian lapangan untuk bekerja di laboratorium  biosafety tingkat 2, sebelum mencapai puncak karirnya untuk bekerja di laboratorium-laboratorium manfaat-fungsi, yang pertama di Tiongkok dan satu-satunya laboratorium biosafety tingkat 4 di Wuhan.

Pencarian Shi Zheng-li untuk sumber awal wabah SARS dimulai pada tahun 2004, ketika ia bergabung dengan tim yang terdiri dari peneliti-peneliti internasional. Ketika itu, ia mengumpulkan sampel-sampel dari kelelawar-kelelawar di Tiongkok bagian selatan.

Penelitian dan pekerjaan awal Shi Zheng-li dirangkum dalam sebuah artikel tahun 2005, di mana ia melaporkan bahwa “spesies-spesies kelelawar-kelelawar itu adalah sebuah pejamu alami untuk Coronavirus-Coronavirus yang sangat terkait dengan Coronavirus-Coronavirus yang bertanggung jawab atas wabah SARS.”

Shi Zheng-li dan timnya, melanjutkan pencariannya untuk sumber wabah Coronavirus pada tahun 2002 selama bertahun-tahun dan sampel-sampel yang dikumpulkan timnya dikirim kembali ke Wuhan untuk analisis dan eksperimen lebih lanjut.

Pada  12 Desember 2007, Shi Zheng-li dan timnya menerbitkan sebuah makalah di Jurnal Virologi yang menunjukkan bagaimana virus-virus dapat dimanipulasi, tak lain untuk menginfeksi dan menyerang sel-sel manusia dengan menggunakan sebuah pseudovirus berbasis-HIV. 

Eksperimen ini, didanai oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, adalah indikasi pertama bahwa laboratorium di Wuhan tempat Shi Zheng-li bekerja  memperoleh teknologi-teknologi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan, tak lain untuk memanipulasi virus-virus yang dikumpulkan di alam liar.

Pada Juni 2010, Shi Zheng-li ikut menulis sebuah makalah yang menunjukkan bahwa timnya telah mengadakan percobaan-percobaan pada tahun 2007, dengan memanipulasi spesimen-spesimen virus kelelawar tambahan. Selain itu, menguji interaksi spesimen-spesimen virus kelelawar  dengan protein-protein tonjolan SARS-CoV manusia. 

Shi Zheng-li dan timnya menemukan bahwa “perubahan beberapa residu utama menurun atau pun meningkat efisiensi reseptor ACE2 kelelawar.” Penelitian ini kembali didanai oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.

Pada tahun 2011 dan 2012, Shi Zheng-li dan timnya melakukan sebuah “survei longitudinal selama 12 bulan” dari sebuah koloni kelelawar-kelelawar tapal kuda” di lokasi tunggal di kota Kunming, Provinsi Yunnan, Tiongkok.” Lokasi tunggal ini adalah Gua Shitou.

Sementara Shi Zheng-li dan timnya melakukan survei di Gua Shitou, ada sebuah kelompok yang terdiri dari enam pria pekerja tambang yang tidak ada hubungannya dengan tim Shi Zheng-li, mulai membersihkan kotoran kelelawar dari sebuah terowongan tambang tembaga di Mojiang, Yunnan–—sekitar 200 mil jauhnya dari tempat survei tim Shi Zheng-li–—menurut The Sunday Times.

Pada  April 2012, menurut The Wall Street Journal, enam pria pekerja tambang ini menderita sebuah penyakit mirip-pneumonia yang parah mengakibatkan kematian tiga orang pria pekerja itu. Khususnya, semua laporan publik menyebut terowongan tambang tembaga yang terlantar itu, tetapi tidak satu pun dari laporan-laporan tersebut yang sama ini menjelaskan alasan enam pekerja itu, berada di dalam terowongan tambang tembaga itu untuk membersihkan terowongan tersebut.

Tidak ada media yang menyebutkan wabah yang aneh dan terisolasi ini, dan The Sunday Times mencatat, “tampaknya telah terjadi sebuah pemadaman media” yang melingkupi seluruh kejadian itu.

Shi Zheng-li dan timnya, yang kebetulan sudah berada di wilayah tersebut selama wabah baru ini, tiba-tiba mengalihkan perhatian dan lokasi surveinya dan menghabiskan dua tahun berikutnya, untuk mengumpulkan sampel-sampel dari kelelawar-kelelawar yang berada di tambang di Mojiang itu.

Sebuah virus yang diduga ditemukan di salah satu sampel ini, kemudian terungkap sebagai virus yang paling cocok dengan virus penyebab COVID-19.

Temuan sampel virus khusus ini tampaknya mirip dengan menemukan jarum di tumpukan jerami. Meskipun di lokasi Mojiang sangat banyak ditemukan Coronavirus-Coronavirus, hanya satu Coronavirus yang mirip dengan Coronavirus penyebab SARS dan dilaporkan ditemukan dalam sebuah sampel tinja tunggal. Tim Shi Zheng-li menamai virus tersebut RaBtCoV/4991.

Peter Daszak, Presiden EcoHealth Alliance, memastikan temuan yang tidak disengaja itu kepada The Sunday Times, yang menyatakan bahwa “Itu hanyalah salah satu dari 16.000 sampel kelelawar yang kami ambil. Itu adalah sebuah sampel tinja, kami memasukkannya ke dalam sebuah tabung, memasukkannya ke dalam nitrogen cairan, membawanya kembali ke laboratorium. Kami melakukan sebuah urutan fragmen yang pendek.”

Belum diketahui secara pasti apakah Peter Daszak yang menggunakan dana dari Institut Kesehatan Nasional untuk memberikan hibah kepada Institut Virologi Wuhan untuk meneliti Coronavirus-Coronavirus kelelawar, hadir di lokasi tambang Mojiang tersebut, tetapi Peter Daszak adalah seorang rekan penulis sebuah makalah yang menjelaskan temuan-temuan tim Shi Zheng-li.

Artikel-Artikel Ilmiah Shi Zheng-li yang Bertentangan

Kisah yang lebih lengkap terungkap dalam sebuah pemeriksaan terhadap lima artikel di jurnal-jurnal ilmiah Barat. Artikel itu  diterbitkan Shi Zheng-li dan kolaborator-kolaborator penelitian Shi Zheng-li antara tahun 2013 hingga 2020.

Sebuah makalah  30 Oktober 2013, yang ditulis oleh Shi Zheng-li dan Peter Daszak menyoroti “isolasi dan karakterisasi sebuah Coronavirus mirip-SARS kelelawar yang menggunakan reseptor ACE2” untuk pertama kalinya.

Makalah mereka itu mencatat bahwa “hasil yang mereka dapat memberikan bukti terkuat hingga saat ini bahwa kelelawar-kelelawar tapal kuda Tiongkok adalah reservoir-reservoir alami SARS-CoV, dan bahwa pejamu-pejamu perantara mungkin tidak diperlukan untuk infeksi langsung ke manusia oleh beberapa kelelawar SL-CoV.”

Dengan kata lain, makalah mereka pada tahun 2013 itu secara khusus mencatat kemungkinan penularan langsung ke manusia dari kelelawar.

Makalah ini juga merujuk pada “isolasi pertama yang tercatat” dari sebuah Coronavirus mirip-SARS yang hidup yang dikenal sebagai WIV1–—tampaknya singkatan dari Institut Virologi Wuhan 1. Virus tersebut diisolasi dari sampel-sampel tinja yang diambil dari kelelawar-kelelawar tapal kuda.

Pada saat ini, Shi Zheng-li telah menghabiskan hampir dua tahun untuk mengumpulkan sampel-sampel kelelawar dari tambang Mojiang. Dalam makalah-makalah ilmiah Shi Zheng-li, secara khusus, tidak disebutkan mengenai tambang tersebut, wabah pada tahun 2012, atau pun keenam pekerja atau kematian pekerja itu.

Makalah mereka pada tahun 2013 itu mencatat, tim tersebut mengklaim bahwa semua hasil mereka berasal dari “lokasi tunggal di Kunming, Provinsi Yunnan, Tiongkok”—–lokasi Gua Shitou.

Lebih khusus lagi, makalah Shi Zheng-li pada tahun 2013, bersama dengan sebuah makalah tindak-lanjut pada bulan November 2015, tampaknya dengan sengaja menyembunyikan pekerjaannya selama bertahun-tahun di tambang Mojiang bersama dengan fakta penting bahwa tambang Mojiang–—bukannya gua kelelawar di Kunming—–adalah sumber sebenarnya untuk apa yang kemudian dikenal sebagai Coronavirus yang paling dekat dengan Coronavirus yang menyebabkan COVID-19.

Artikel tahun 2015 yang ditulis oleh Shi Zheng-li, bersama dengan Ralph Baric dari Universitas Carolina Utara dan lainnya, meninjau kembali keberadaan virus tersebut pada kelelawar-kelelawar tapal kuda. Khususnya, artikel tersebut tidak secara langsung menentukan lokasi khusus di mana virus tersebut bersumber, tetapi malahan menggunakan sebuah catatan kaki untuk referensi artikel tahun 2013, yang mengklaim bahwa sumber virus tersebut berasal dari “lokasi tunggal di Kunming”—–lokasi Gua Shitou.

Makalah itu mencatat bahwa “sebuah kluster Coronavirus mirip-SARS kelelawar yang beredar  menunjukkan potensi kedaruratan bagi manusia.” Para peneliti mengamati bahwa beberapa virus yang mereka temukan itu “bereplikasi secara efisien di sel-sel saluran napas utama manusia.”

Para peneliti menyatakan bahwa, pekerjaan mereka “menunjukkan sebuah potensi risiko kedaruratan-ulang SARS- CoV dari virus-virus yang saat ini beredar di populasi kelelawar.”

Tetapi sekali lagi, seperti artikel Shi Zheng-li pada tahun 2013, tidak ada referensi yang menunjukkan tambang Mojiang sebagai sumber yang sebenarnya.

Namun, dalam waktu kurang dari tiga bulan, dalam sebuah makalah tindak-lanjut pada bulan November 2015, Shi Shi Zheng-li dan timnya mengakui dalam sebuah artikel bulan Februari 2016 bahwa mereka telah “melakukan sebuah pengawasan terhadap Coronavirus-Coronavirus pada kelelawar-kelelawar di sebuah terowongan tambang yang terlantar” di Kabupaten Mojiang, Provinsi Yunnan, Tiongkok, dari tahun 2012–2013.”

Dalam artikel yang sama ini, Shi Shi Zheng-li mengakui bahwa, ia mendapatkan sebuah virus bernama RaBtCoV/4991 dari 276 pemeriksaan tinja kelelawar yang “sampelnya diambil dari sebuah terowongan di Mojiang.” Seperti yang kita ketahui sekarang, virus RaBtCoV/4991 telah terbukti sangat cocok dengan virus penyebab COVID-19.

Pada awal Februari 2020, Shi Shi Zheng-li mengganti nama virus RaBtCoV/4991 dengan RaTG13—–sejak pandemi COVID-19 dimulai.

Sebuah basis data virus-virus kelelawar yang diterbitkan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok–—badan induk Institut Virologi Wuhan—–menegaskan bahwa Virus RaBtCoV/4991 “ditemukan pada 24 Juli 2013, sebagai bagian sebuah koleksi Coronavirus-Coronavirus yang dijelaskan dalam makalah tahun 2016 mengenai tambang yang terlantar,” lapor The Times.

Basis data Tiongkok secara khusus mereferensikan makalah Shi Zheng-li pada tanggal 18 Februari 2016, yang mencatat terowongan tambang di Mojiang, bersamaan dengan penemuan beberapa Coronavirus –— yang mencakup strain baru mirip-SARS –— tetapi tidak  menyebutkan wabah pernapasan pada tahun 2012, serta tidak  menyebutkan kematian pria-pria pekerja tambang akibat wabah tersebut.

Pada tahun 2017, Shi Zheng-li dan timnya sekali lagi mengalihkan perhatiannya dari tambang Mojiang kembali ke Gua Shitou, mengklaim bahwa “Kami telah mengadakan sebuah  surveilans longitudinal selama lima tahun ( April 2011 hingga Oktober 2015) terhadap SARS-CoV pada kelelawar-kelelawar dari habitat tunggal di dekat kota Kunming,  Provinsi Yunnan, Tiongkok”—–wilayah di mana Gua Shitou berada.

Untuk alasan-alasan yang belum diketahui, penyebutan tambang Mojiang di mana Shi Zheng-li dan timnya menghabiskan dua tahun untuk mengumpulkan sampel-sampel kelelawar yang mencapai puncaknya, yang mana pada penemuan sampel-sampel kelelawar  sangat terkait dengan COVID-19. Sekali lagi secara mencolok dihilangkan.

Salah satu rekan penulis artikel tahun 2017 dan artikel tahun 2013 bersama dengan Shi Zheng-li, yaitu Lin-Fa Wang, menjadi terkenal sebagai seorang pendukung yang vokal mengenai teori asal-usul Coronavirus dari alam. 

Lin-Fa Wang, seorang anggota Tim Tanggap Darurat Organisasi Kesehatan Dunia untuk  penanggulangan wabah COVID-19, membahas masalah pendanaan oleh National Geographic pada bulan Juni 2020, dengan mencatat bahwa saat terkait penyakit-penyakit menular, “orang-orang tidak pernah menyadari adanya sebuah keuntungan yang sangat besar.” 

Lin-Fa Wang melanjutkan, menyatakan bahwa “ketika kita telah mencegah wabah-wabah kecil, orang-orang  tidak peduli. Hal itu tidak mendapat perhatian-perhatian media.”

Lin-Fa Wang, yang telah berkolaborasi dengan Shi Zheng-li setidaknya sejak tahun 2005, mengakhiri dengan  mengajukan sebuah pertanyaan yang mengingatkan kita pada wabah tahun 2012 di tambang Mojiang:

“Di Wuhan, jika tiga orang meninggal dan dikendalikan, apakah kita mengetahuinya? Tidak. Ini terjadi sepanjang waktu, hal itu terjadi di desa-desa terpencil di mana orang-orang meninggal. Anda mengubur mereka dan mengakhiri cerita, bukankah demikian?”

Dari sekian banyak artikel yang ditulis mengenai karya mereka selama bertahun-tahun, hanya sepotong pengetahuan di tahun 2016 yang mengakui keberadaan tambang Mojiang. Dan, sekali lagi, Shi Zheng-li atau timnya tidak menyebutkan satu lokasi pun sebagai sumber wabah yang sebenarnya dan sebagai sumber wabah untuk kematian tiga dari enam pria pekerja tambang yang terinfeksi.

Kepemilikan Shi Zheng-li selama bertahun-tahun atas virus yang ditemukan di tambang Mojiang tiba-tiba disorot pada tanggal 3 Februari 2020, ketika Shi Zheng-li dan kolaborator-kolaboratornya menerbitkan sebuah artikel baru, yang menyatakan bahwa para ilmuwan di laboratorium Wuhan memiliki sebuah kecocokan dengan virus penyebab COVID-19.

Shi Zheng-li menamai virus ini RaTG13, sebuah nama yang sebelumnya tidak pernah muncul di artikel-artikelnya. Khusunya artikel tahun 2020 mengaburkan asal-usul  virus baru ini, hanya menyatakan bahwa virus baru ini “sebelumnya terdeteksi di Rhinolophus affinis (kelelawar ladam menengah) dari Provinsi Yunnan.” 

Seperti yang kemudian ditemukan oleh para peneliti independen dengan membandingkan urutan-urutan genom dari basis-basis data Tiongkok yang diarsipkan, virus yang direferensikan Shi Zheng-li pada tahun 2020 itu sebenarnya adalah RaBtCoV/4991, virus yang diambil dari tambang Mojiang pada tahun 2012 dan ditulis pada tahun 2016.

Pada  November 2020, karena lebih banyak fakta terungkap sehubungan dengan asal-usul virus tersebut, Shi Zheng-li tiba-tiba menambahkan sebuah adendum ke artikelnya bulan Februari 2020, yang akhirnya ia mengakui bahwa kerabat terdekat COVID-19 yang diketahui berasal dari tambang Mojiang. 

Namun, Shi Zheng-li, menyebut tambang Mojiang sebagai sebuah “gua-tambang” dan sebuah “gua,” sekali lagi ia mengaburkan benang merah antara tambang Mojiang dengan  Gua Shitou terletak 200 mil jauhnya dari tambang Mojiang.

Dalam adendum ini, Shi Zheng-li mengakui bahwa ia telah mengganti nama virus tersebut dari RaBtCoV/4991 menjadi RaTG13, konon untuk “mencerminkan spesies-spesies kelelawar.” Namun, baik nama lama maupun nama baru virus tersebut terdapat  huruf “RA”, yang merupakan singkatan dari Rhinolophus affinis, istilah Latin untuk kelelawar ladam menengah.

Khususnya, artikel Shi Zheng-li tahun 2020 juga menuduh bahwa pandemi telah “dimulai dari sebuah  pasar makanan laut setempat.” Klaim palsu itu, yang telah dibantah, tidak  dibahas dalam adendum Shi Zheng-li.

Meskipun belum diketahui secara pasti mengapa Shi Zheng-li mengaburkan asal-usul sebenarnya dari RaBtCov/4911 dan mengaburkan penemuannya pada tahun 2013, tidak dapat disangkal bahwa Shi Zheng-li secara  diam-diam menyimpan kerabat terdekat yang diketahui dengan COVID-19 di laboratoriumnya di Wuhan selama setidaknya tujuh tahun dan gagal untuk mengatasi asal-usul penemuannya yang sebenarnya. (Vv)

Share

Video Popular