Catatan Editor: Beberapa dalam artikel ini berisi grafik dan rincian penyiksaan yang mengganggu dan bentuk-bentuk perlakuan yang merendahkan lainnya

Nicole Hao

Didirikan pada Juli 1921, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah mendatangkan kematian dan kehancuran bagi penduduk Tiongkok selama satu abad.

Berbekal ideologi “perjuangan” Marxis sebagai prinsip panduannya, Partai Komunis Tiongkok meluncurkan sejumlah gerakan yang menargetkan sebuah daftar panjang  kelompok musuh: mata-mata, tuan tanah, intelektual, pejabat yang tidak setia,  mahasiswa pro-demokrasi, pemeluk agama, dan etnis minoritas.

Dengan setiap kampanye, tujuan Partai Komunis Tiongkok yang dimaksudkan adalah untuk menciptakan sebuah  “surga komunis di bumi.” Tetapi berkali-kali, hasil-hasil tersebut adalah sama: penderitaan massal dan kematian. 

Sementara itu, beberapa pejabat elit Partai Komunis Tiongkok dan keluarganya telah mengumpulkan kekuatan dan kekayaan yang luar biasa.

Lebih dari 70 tahun pemerintahan Partai Komunis Tiongkok telah mengakibatkan terbunuhnya puluhan jutaan orang Tiongkok dan pembongkaran sebuah peradaban yang berusia 5.000 tahun.

Sementara Tiongkok adalah maju secara ekonomi dalam beberapa dekade terakhir, Partai Komunis Tiongkok tetap mempertahankan sifatnya sebagai sebuah rezim Marxis-Leninis yang bertekad memperkuat cengkeramannya di Tiongkok dan dunia. Jutaan pemeluk agama, etnis minoritas, dan pembangkang masih ditindas dengan kekerasan hingga saat ini.

Di bawah ini adalah sebuah ringkasan dari beberapa kekejaman utama yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok dalam sejarahnya selama 100 tahun.

Insiden Liga Anti-Bolshevik

Kurang dari satu dekade setelah pendirian Partai Komunis Tiongkok, Mao Zedong, saat itu menjadi pemimpin sebuah wilayah yang dikuasai komunis di Provinsi Jiangxi, Tenggara Tiongkok, meluncurkan sebuah pembersihan politik dari para pesaingnya yang dikenal sebagai Insiden Liga Anti-Bolshevik. 

Mao Zedong menuduh para pesaingnya bekerja untuk Liga Anti-Bolshevik, badan intelijen Kuomintang, yang merupakan partai penguasa Tiongkok saat itu.

Hasilnya adalah ribuan personel Tentara Merah dan anggota Partai Komunis Tiongkok terbunuh dalam pembersihan politik itu.

Poster propaganda anti-Bolshevik Putih Rusia dari tahun 1919 menggambarkan pemimpin senior komunis Lenin, Trotsky, Kamenev, Radek, Sverdlov, dan Zinoviev yang mengorbankan karakter alegoris yang mewakili Rusia untuk patung Karl Marx. (Domain publik)

Kampanye selama satu tahun yang dimulai pada musim panas tahun 1930, menandai pertama kalinya dalam serangkaian gerakan yang dipimpin oleh pemimpin paranoid itu yang hanya menaburkan peristiwa yang semakin berdarah dan lebih luas dari waktu ke waktu. Pembantaian massal itu berlangsung sampai kematian Mao Zedong  pada tahun 1976.

Meskipun tidak ada catatan yang menunjukkan dengan tepat berapa banyak anggota Partai Komunis Tiongkok yang terbunuh selama kampanye tersebut, sejarawan Tiongkok Guo Hua menulis dalam sebuah artikel tahun 1999 bahwa dalam sebulan, 4.400 dari 40.000 anggota Tentara Merah telah terbunuh, termasuk puluhan pemimpin militer. Dalam beberapa bulan, Komite Partai Komunis Tiongkok di barat daya Jiangxi telah membunuh lebih dari 1.000 orang non- anggota militer.

Mao menghadiri konferensi yang berkaitan dengan seni dan sastra di Yan’an pada tahun 1942. (Domain publik)

Di akhir gerakan tersebut, Komite Partai Komunis Tiongkok Jiangxi melaporkan bahwa 80 sampai 90 persen pejabat Partai Komunis Tiongkok di wilayah tersebut telah dituduh sebagai mata-mata dan dieksekusi.

Anggota-anggota keluarga pejabat senior juga dianiaya dan dibunuh kata laporan tersebut. Metode-metode penyiksaan yang dilakukan terhadap anggota Partai Komunis Tiongkok, menurut Guo Hua, mencakup membakar kulit mereka, memotong payudara wanita, dan menancapkan tongkat bambu di bawah kuku-kuku mereka.

Gerakan Perbaikan Yan’an

Setelah menjadi pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Mao Zedong memulai Gerakan Perbaikan Yan’an —–sebuah gerakan massa ideologis pertama Partai Komunis Tiongkok—–pada tahun 1942. 

Dari markas Partai Komunis Tiongkok di daerah pegunungan terpencil di Yan’an di Provinsi Shaanxi, barat laut Tiongkok, Mao Zedong dan orang-orang yang setia padanya menggunakan taktik yang sudah lazim untuk menuduh para pesaingnya sebagai mata-mata, untuk membersihkan para pejabat senior dan anggota Partai Komunis Tiongkok lainnya.

Semua mengatakan, sekitar 10.000 anggota Partai Komunis Tiongkok terbunuh.

Selama pergerakan tersebut, orang-orang disiksa dan dipaksa untuk mengaku sebagai mata-mata, tulis Wei Junyi dalam sebuah buku tahun 1998.

“Semua orang menjadi mata-mata di Yan’an, dari murid-murid Sekolah Menengah Pertama hingga murid-murid Sekolah Dasar,” Wei Junyi, yang saat itu menjadi editor kantor berita pemerintah Xinhua, menulis. “Mata-mata usia dua belas tahun, mata-mata usia 11 tahun, mata-mata usia 10 tahun, bahkan mata-mata usia 6 tahun ditemukan!”

Nasib tragis keluarga Shi Bofu, seorang pelukis setempat, diceritakan dalam buku Wei Junyi. Pada tahun 1942, para pejabat Partai Komunis Tiongkok tiba-tiba menuduh Shi Bofu sebagai mata-mata dan menahannya. Malam itu, istri Shi Bofu, tidak mampu mengatasi kemungkinan suaminya dihukum mati, membunuh diri setelah membunuh kedua anaknya yang masih kecil. Berjam-jam berikutnya, para pejabat menemukan mayat istri Shi Bofu dan mayat anak-anaknya dan mengumumkan secara terbuka bahwa istri Shi Bofu “sangat membenci” Partai Komunis Tiongkok dan rakyat Tiongkok, dan dengan demikian— layak untuk mati.

Reformasi Tanah

Pada  Oktober 1949, Partai Komunis Tiongkok menguasai Tiongkok, dan Mao Zedong menjadi  pemimpin pertama rezim Tiongkok. Beberapa bulan berikutnya, dalam gerakan pertama rezim Tiongkok, bernama Reformasi Tanah, Mao Zedong memobilisasi petani-petani termiskin di Tiongkok untuk merebut melalui kekerasan tanah dan aset-aset lain dari yang dianggap sebagai tuan tanah—–banyak di antaranya  hanyalah petani-petani yang lebih kaya. Jutaan orang meninggal dunia.

Mao Zedong, pada tahun 1949, dituduh sebagai seorang diktator dan ia mengakuinya.

Seorang pemilik tanah dieksekusi oleh seorang tentara komunis di Fukang, Tiongkok. (Domain publik)

“Tuan-tuan yang terkasih, anda benar, itulah kami,” tulisnya, menurut to China File, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Pusat Hubungan Amerika Serikat-Tiongkok di Masyarakat Asia. Menurut Mao Zedong, komunis-komunis yang berkuasa seharusnya adalah  diktator melawan “anjing-anjing imperialisme,” “kelas tuan tanah dan borjuasi-birokrat,” dan “para reaksioner dan kaki tangannya,” yang dikaitkan dengan oposisi Kuomintang.

Tentu saja, komunis memutuskan siapa yang akan memenuhi syarat sebagai seekor “anjing,”  seorang “reaksioner,” atau bahkan seorang “tuan tanah.”

“Banyak korban dipukuli sampai mati dan beberapa korban ditembak, tetapi dalam banyak kasus, mereka pertama kali disiksa untuk membuat mereka mengungkapkan aset-asetnya — nyata atau dibayangkan,” menurut sejarawan Frank Dikötter, yang dengan susah payah mencatat kebrutalan Mao Zedong.

Buku tahun 2019 berjudul “Tanah Merah Berdarah” mencatat kisah Li Man, seorangtuan tanah yang masih hidup dari Chongqing, barat daya Tiongkok. Setelah Partai Komunis Tiongkok  berkuasa, para pejabat mengklaim bahwa keluarga Li Man menyimpan 1.500 kilogram emas. Tetapi hal ini tidaklah benar, karena keluarga Li Man sudah bangkrut bertahun-tahun sebelumnya karena ayah Li Man menderita kecanduan narkoba.

Karena tidak memiliki emas untuk diberikan kepada Partai Komunis Tiongkok, Li Man disiksa sampai di ambang kematian.

“Mereka menanggalkan pakaian saya, mengikat tangan dan kaki saya ke sebuah tiang. Mereka kemudian mengikat alat kelamin saya dan mengikatkan batu di kaki saya,” kenang Li Man. 

Li Man berkata bahwa mereka kemudian menggantung tali tersebut di sebuah pohon. Segera, “darah menyembur keluar dari pusar saya,” kata Li Man.

Li Man akhirnya diselamatkan oleh seorang pejabat Partai Komunis Tiongkok yang mengirimnya ke rumah seorang dokter pengobatan Tiongkok. Bahkan setelah menderita luka-luka parah pada  organ-organ dalam tubuhnya dan alat kelaminnya, Li Man masih menganggap dirinya beruntung.

Ada 10 orang yang disiksa pada saat yang sama dengan Li Man semuanya meninggal. Selama beberapa  bulan berikutnya, kerabat dekat dan keluarga besar Li Man disiksa sampai mati, satu per satu. Akibat penyiksaan tersebut, Li Man–—yang saat itu berusia 22 tahun—kehilangan  kejantanannya.  Selama gerakan Partai Komunis Tiongkok berikutnya, Li Man disiksa beberapa kali lagi, yang merusak penglihatannya.

Lompatan Jauh ke Depan

Mao Zedong meluncurkan Lompatan Jauh ke Depan pada tahun 1958, sebuah kampanye empat tahun yang berusaha untuk mendorong Tiongkok untuk secara eksponensial meningkatkan produksi bajanya sambil mengkolektivitaskan pertanian pertanian. Tujuannya, seperti slogan Mao Zedong, adalah untuk “melampaui Inggris dan mengejar Amerika Serikat.”

Petani-petani diperintahkan untuk membangun tungku-tungku di halaman belakang untuk membuat baja, meninggalkan lahan pertanian sehingga menjadi sangat terbengkalai.

Selain itu, para pejabat setempat yang terlalu bersemangat adalah takut dicap sebagai “orang-orang yang ketinggalan” menetapkan kuota-kuota panen yang terlalu tinggi. Akibatnya, para petani tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan, setelah menyerahkan sebagian besar  tanaman mereka sebagai pajak-pajak.

Apa yang terjadi kemudian adalah bencana buatan manusia terburuk dalam sejarah: Kelaparan Besar, di mana puluhan juta orang meninggal karena kelaparan, dari tahun 1959 hingga 1961.

Petani-petani yang kelaparan beralih ke binatang-binatang liar, rumput, kulit kayu, dan bahkan kaolinit, sebuah mineral tanah liat, untuk dimakan. Kelaparan yang ekstrim juga mendorong banyak orang menjadi kanibalisme.

Tercatat ada kasus-kasus di mana orang-orang memakan mayat-mayat orang asing, teman, dan anggota keluarga, dan orangtua membunuh anak-anaknya untuk dimakan—dan sebaliknya.

Keluarga yang kelaparan, tanggal tidak diketahui (Domain publik)

Jasper Becker, yang menulis laporan Lompatan Jauh ke Depan “Hungry Ghosts,” mengatakan bahwa orang-orang Tiongkok dipaksa untuk terlibat—–karena benar-benar putus asa—dalam menjual daging manusia di pasar, dan menukar anak-anaknya sehingga mereka tidak memakan anak-anaknya sendiri.

Di 13 provinsi, ada total 3.000 hingga 5.000 kasus yang tercatat kanibalisme.

Jasper Becker mencatat kanibalisme di Tiongkok pada akhir tahun 1950-an hingga awal tahun 60-an, cenderung terjadi “dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah abad ke-20.”

Sejarawan Tiongkok Yu Xiguang pada tahun 1980-an menemukan sebuah foto arsip dari kampung halamannya di Provinsi Hunan. Foto tersebut konon menunjukkan seorang pria bernama Liu Jiayuan, yang berdiri di samping kepala dan tulang-tulang putranya yang berusia 1 tahun. Liu Jiayuan akhirnya dieksekusi karena pembunuhan.

Gambar yang diambil pada Mei 1962 menunjukkan para pengungsi Tiongkok mengantre untuk makan di Hong Kong. – Selama kelaparan yang disebabkan oleh kebijakan “Lompatan Jauh ke Depan” , antara 140.000 dan 200.000 orang masuk secara ilegal di Hong Kong. (Foto oleh – / AFP via Getty Images)

Yu Xiguang kemudian mewawancarai anggota-anggota keluarga Liu Jiayuan yang masih hidup pada tahun 2000-an, untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut.

Yu Xiguang menulis dalam sebuah laporan: “Liu Jiayuan sangat kelaparan. Ia membunuh putranya dan memasak [dagingnya] menjadi sebuah hidangan mewah. Sebelum menghabiskan makanannya, anggota-anggota keluarga Liu Jiayuan menemukan kejahatan yang dilakukan Liu Jiayuan dan melaporkannya ke polisi. Liu Jiayuan kemudian  ditangkap dan dieksekusi.”

Sebanyak 45 juta orang meninggal selama Lompatan Jauh ke Depan, menurut sejarawan Dikötter, penulis “Mao’s Great Famine.”

Revolusi Kebudayaan

Setelah kegagalan bencana besar Lompatan Jauh ke Depan, Mao Zedong, merasa bahwa ia kehilangan cengkeramannya pada kekuasaan, maka ia meluncurkan Revolusi Kebudayaan pada tahun 1966 dalam sebuah upaya memanfaatkan penduduk Tiongkok untuk menegaskan kembali kendali Partai Komunis Tiongkok terhadap Tiongkok. 

Diadaptasi dari poster era Revolusi Kebudayaan Partai Komunis Tiongkok yang bertuliskan “Hancurkan Dunia Lama, Bangun Dunia Baru.” (The Epoch Times)

Menciptakan sebuah kultus kepribadian, Mao Zedong bertujuan untuk “menghancurkan orang-orang dalam otoritas yang mengambil jalan kapitalis” dan memperkuat ideologi-ideologinya sendiri, menurut sebuah arahan awal.

Pengawal Merah Partai Komunis Tiongkok, siswa sekolah menengah dan universitas, melambaikan salinan “Buku Merah Kecil” Ketua Mao Zedong, diarak di jalan-jalan Beijing pada awal Revolusi Kebudayaan pada Juni 1966. Selama Revolusi Kebudayaan Tiongkok (1966-1976), di bawah komando di Mao, Pengawal Merah mengamuk di sebagian besar negara, mempermalukan, menyiksa, dan membunuh musuh kelas yang dianggap, dan menjarah simbol budaya yang dianggap tidak mewakili revolusi komunis. (Jean Vincent / AFP / Getty Images)

Lebih dari 10 tahun kekacauan yang diamanatkan, jutaan orang terbunuh atau didorong untuk bunuh diri dalam kekerasan yang direstui negara, sementara ideolog-ideolog muda yang bersemangat sekali, Pengawal Merah yang terkenal kejam, berkeliling Tiongkok untuk menghancurkan dan merendahkan  tradisi dan warisan Tiongkok.

Revolusi Kebudayaan Partai Komunis Tiongkok yang berniat menghancurkan kebudayaan Tradisional (Istimewa)

Itu adalah sebuah upaya keras untuk seluruh masyarakat, di mana Partai Komunis Tiongkok mendorong orang-orang dari semua lapisan masyarakat mengadu bila ada rekan-rekan kerja, para tetangga, teman-teman, dan bahkan anggota-anggota keluarga yang “kontra-revolusioner”—–siapa pun yang memiliki pikiran atau perilaku yang salah secara politik.

Para korban, yang mencakup para intelektual, seniman, pejabat Partai Komunis Tiongkok, dan mereka yang dianggap sebagai “musuh-musuh kelas,” menjadi sasaran penghinaan ritual melalui “sesi-sesi perjuangan”—–pertemuan-pertemuan publik di mana para korban dipaksa untuk mengakui kejahatan-kejahatan yang diduga benar dilakukan oleh mereka. Bahkan, menanggung pelecehan fisik dan verbal dari kerumunan, sebelum mereka ditahan, disiksa, dan dikirim ke pedesaan sebagai pekerja paksa.

Kebudayaan dan tradisi tradisional Tiongkok adalah sebuah sasaran langsung kampanye Mao Zedong untuk memusnahkan “Empat Kuno”—–adat kuno, kebudayaan lama, kebiasaan-kebiasaan  lama, dan gagasan-gagasan lama. Akibatnya, tidak terhitung peninggalan-peninggalan kebudayaan, candi-candi,  bangunan-bangunan bersejarah, patung-patung, dan buku-buku dihancurkan.

Zhang Zhixin, seorang wanita anggota elit Partai Komunis Tiongkok yang bekerja di pemerintah Provinsi Liaoning, termasuk di antara korban kampanye tersebut.

Menurut sebuah  catatan yang dilaporkan oleh media Tiongkok setelah Revolusi Kebudayaan, seorang rekan melaporkan Zhang Zhixin pada tahun 1968 setelah ia berkomentar kepada rekan kerja itu bahwa ia tidak dapat memahami beberapa tindakan Partai Komunis Tiongkok. Wanita yang berusia 38 tahun saat itu, ditahan di sebuah pusat pelatihan kader Partai Komunis Tiongkok setempat, di mana lebih dari 30.000 staf anggota pemerintah Provinsi Liaoning ditahan.

Kader Partai Komunis menggantungkan plakat di leher seorang pria Tionghoa selama Revolusi Kebudayaan pada tahun 1966. Kata-kata di plakat itu menyebutkan nama pria itu dan menuduhnya sebagai anggota “kelas hitam.” (Domain publik)

Saat ditahan, Zhang Zhixin menolak untuk mengakui melakukan kesalahan dan tetap memegang opini-opini politiknya. Ia sangat setia kepada Partai Komunis Tiongkok tetapi ia tidak setuju dengan beberapa kebijakan Mao Zedong. Ia dikirim ke penjara.

Di penjara, Zhang Zhixin amat sangat menderita ketika para pejabat berupaya memaksanya untuk menyerah sudut pandangnya. Para penjaga penjara menggunakan kawat besi untuk menjaga mulutnya tetap terbuka dan kemudian mendorong sebuah kain pel kotor ke dalam mulutnya. Para penjaga penjara memborgol kedua tangannya di belakang tubuhnya dan menggantung sebuah balok besi seberat 40 pon dari rantai-rantai tersebut. Para pejabat Partai Komunis Tiongkok Provinsi Liaoning,  bahkan mencabut semua rambutnya, dan para penjaga penjara sering mengatur para pria  tahanan untuk memperkosanya.

Zhang Zhixin berusaha bunuh diri tetapi gagal, yang menyebabkan para petugas penjara  meningkatkan kendalinya. Suami Zhang Zhixin juga dipaksa menceraikannya. Sejak awal tahun 1975, Zhang Zhixin menjadi gila. Pada bulan April tahun itu, ia dieksekusi oleh regu tembak. Sebelum ditembak, para penjaga penjara memotong  trakea Zhang Zhixin untuk membuatnya diam. Zhang Zhixin meninggal pada usia 45 tahun.

Revolusi kebudayaan Partai Komunis yang memusnahkan budaya Tradisional (Epoch Times with AP Photo, NTDTV screenshot and Jean Vincent/AFP/Getty Images)

Selama penahanan Zhang Zhixin, suami dan dua anaknya yang masih kecil dipaksa untuk melepaskan hubungan mereka dengan Zhang Zhixin. Setelah mengetahui kematian Zhang Zhixin, suami dan dua anaknya bahkan tidak berani menangis—–karena takut akan didengar oleh tetangga yang mungkin melaporkan mereka karena dianggap benci terhadap Partai Komunis Tiongkok.

Gerakan bencana itu berakhir pada  Oktober 1976, kurang dari sebulan setelah  kematian Mao Zedong.

Warisan Revolusi Kebudayaan jauh melampaui kehidupan-kehidupan yang dihancurkan, menurut Dikötter.

“Bukan kematian yang menjadi ciri Revolusi Kebudayaan, melainkan trauma,” kata Dikötter kepada NPR pada tahun 2016.

Museum Revolusi Kebudayaan Jianchuan dekat Chengdu, di provinsi Sichuan, Tiongkok (Mark Ralston / AFP / Getty Images via The Epoch Times)

Ia juga mengatakan : “Revolusi Kebudayaan adalah cara di mana orang-orang diadu satu sama lain, diwajibkan untuk mencela anggota-anggota keluarga, kolega-kolega, teman-teman. Revolusi Kebudayaan adalah mengenai kehilangan, kehilangan kepercayaan, kehilangan persahabatan, kehilangan kepercayaan di antara manusia, kehilangan kemungkinan yang dapat diramalkan dalam hubungan sosial. Dan itu adalah benar-benar tanda bahwa Revolusi Kebudayaan tertinggal.”

Kebijakan Satu-Anak

Pada tahun 1979, rezim Tiongkok meluncurkan “kebijakan satu-anak,” yang mengizinkan  pasangan yang menikah hanya memiliki satu anak, dalam sebuah kampanye yang seolah-olah ditujukan untuk meningkatkan standar hidup dengan membatasi pertumbuhan penduduk. 

Kebijakan tersebut menyebabkan aborsi-aborsi paksa, sterilisasi paksa, dan pembunuhan bayi yang meluas. Menurut data Kementerian Kesehatan Tiongkok yang dikutip oleh media pemerintah Tiongkok, 336 juta janin digugurkan dari tahun 1971 hingga 2013.

Seorang balita Tiongkok yatim piatu duduk di tempat tidur bayi di sebuah pusat asuh di Beijing pada 2 April 2014. (Kevin Frayer/Getty Images)

Xia Runying, seorang wanita penduduk desa dari Provinsi Jiangxi yang mengalami  sterilisasi paksa, menulis dalam sebuah surat publik pada tahun 2013 bahwa keluarganya meminta untuk menunda operasi tersebut karena kesehatannya yang buruk. Namun pejabat setempat mengatakan bahwa mereka akan tetap melakukan operasi tersebut, bahkan jika Xia Runying harus diikat dengan tali.

Xia Runying mulai menderita buang air kecil berdarah, serta menderita nyeri kepala dan nyeri perut setelah sterilisasi paksa tersebut. Kemudian, Xia Runying terpaksa berhenti bekerja.

Rezim Tiongkok menghentikan kebijakan satu-anak pada tahun 2013, mengizinkan pasangan yang menikah untuk memiliki dua anak. Pada tanggal 31 Mei, rezim Tiongkok mengumumkan bahwa keluarga-keluarga dapat memiliki tiga anak.

Pembantaian Lapangan Tiananmen

Apa yang dimulai sebagai sebuah pertemuan mahasiswa untuk meratapi kematian mantan pemimpin Tiongkok Hu Yaobang, yang berpikiran reformasi pada  April 1989 berubah menjadi protes-protes yang terbesar yang pernah disaksikan rezim Tiongkok.

Para mahasiswa berbagai universitas yang berkumpul di Lapangan Tiananmen Beijing, meminta Partai Komunis Tiongkok untuk mengendalikan inflasi yang parah, mengekang korupsi pejabat, bertanggung jawab atas kesalahan masa lalu, serta mendukung sebuah kebebasan pers dan gagasan-gagasan demokrasi.

Pada  Mei, mahasiswa dari seluruh Tiongkok dan penduduk Beijing dari semua lapisan masyarakat bergabung dalam protes tersebut. Demonstrasi-demonstrasi serupa muncul di seluruh Tiongkok.

Para pemimpin Partai Komunis Tiongkok tidak menyetujui permintaan-permintaan para mahasiswa itu.

PKT mengerahkan pasukan dengan persenjataan lengkap melakukan penindasan berdarah di Tiananmen pada 4 Juni 29 tahun lalu, menurut dokumen deskripsi terbaru dari Inggris bahwa pihak militer PKT setidaknya telah membantai lebih dari 10.000 warga sipil. (foto-foto dari buku “Tiananmen Killing”)

Sebaliknya, rezim Tiongkok memerintahkan tentara untuk membatalkan protes tersebut. Pada malam hari  3 Juni, tank-tank meluncur ke Beijing dan mengepung Lapangan Tiananmen. Sejumlah pengunjuk rasa yang tidak bersenjata terbunuh atau cacat setelah dihancurkan oleh tank-tank atau ditembak oleh tentara-tentara yang menembak tanpa pandang bulu ke kerumunan. Ribuan orang  diperkirakan meninggal.

Lily Zhang, kepala perawat di rumah sakit Beijing yang berjarak 15 menit berjalan kaki dari Lapangan Tiananmen, menceritakan kepada The Epoch Times pertumpahan darah dari malam itu. Ia terbangun karena mendengar suara tembakan dan bergegas menuju rumah sakit pada pagi 4 Juni setelah mendengar pembantaian itu.

Lily Zhang terkejut ketika ia tiba di rumah sakit karena menemukan sebuah pemandangan “mirip-zona perang.” Perawat lain, terisak-isak, memberitahu Lily Zhang mengenai genangan darah dari para pengunjuk rasa yang terluka “membentuk sebuah sungai di rumah sakit tersebut.”

BEIJING, TIONGKOK – 1989/06/04: Pada akhir gerakan pro-demokrasi di Tiongkok, seorang pengendara sepeda tunggal berjalan melewati penghalang jalan di Changan Avenue yang dihancurkan oleh tank-tank Tentara Tiongkok pada malam kekerasan di dalam dan di sekitar Lapangan Tiananmen. Setelah berminggu-minggu melakukan protes, rezim Komunis melakukan tindakan brutal pada malam terakhir terhadap para demonstran, yang terjadi hanya beberapa jam sebelum foto ini diambil. (© Getty Images | Peter Charlesworth / LightRocket)

Di rumah sakit tempat Lily Zhang bekerja, setidaknya 18 orang telah meninggal pada saat mereka dibawa ke rumah sakit tersebut.

Para tentara menggunakan peluru-peluru “dum-dum”, yang akan mengembang di dalam tubuh korban dan menimbulkan kerusakan lebih lanjut, kata Lily Zhang. Banyak korban dengan luka-luka yang mengalirkan darah begitu deras sehingga para korban “mustahil untuk diselamatkan.”

Di gerbang rumah sakit, seorang reporter Sports Daily milik negara Tiongkok yang terluka parah mengatakan kepada dua petugas kesehatan yang menggendongnya, bahwa ia “benar-benar tidak menyangka Partai Komunis Tiongkok benar-benar akan melepaskan tembakan.”

Dokumen rahasia CIA mengungkapkan bahwa 300.000 tentara Rakyat Tiongkok dilibatkan dalam penindasan mahasiswa di Lapangan Tiananmen pada 4 Juni 1989. (internet)

“Menembak jatuh para mahasiswa dan rakyat jelata yang tidak bersenjata —– partai macam apa yang berkuasa ini?” adalah kata-kata terakhir sang reporter, kenang Lily Zhang.

Pemimpin Tiongkok saat itu Deng Xiaoping, yang memerintahkan tindakan keras berdarah itu,dikutip dalam sebuah kabel pemerintah Inggris yang mengatakan bahwa “dua ratus orang yang tewas dapat membawa 20 tahun perdamaian bagi Tiongkok,” di  Mei 1989, sebulan sebelum pembantaian itu.

Sampai saat ini, rezim Tiongkok menolak untuk mengungkapkan jumlah yang tewas dalam Pembantaian Lapangan Tiananmen atau menyebut nama-nama korban yang tewas, dan sangat menekan informasi mengenai kejadian itu.

Penganiayaan terhadap Falun Gong

Satu dekade kemudian, rezim Tiongkok memutuskan untuk melakukan penindasan berdarah lagi.

Pada  20 Juli 1999, pihak-pihak berwenang Tiongkok memulai sebuah kampanye yang luas yang menargetkan  sekitar 70 juta hingga 100 juta praktisi Falun Gong, sebuah latihan spiritual yang mencakup latihan meditasi dan ajaran moral yang berpusat di sekitar nilai-nilai Sejati, Baik, dan Sabar.

Dua petugas polisi berpakaian preman menangkap seorang praktisi Falun Gong di Lapangan Tiananmen di Beijing, pada 31 Desember 2000. (Minghui.org)

Menurut Pusat Informasi Falun Dafa, sebuah situs web untuk informasi terkait Falun Gong, jutaan praktisi Falun Gong telah dipecat dari pekerjaannya, dikeluarkan dari sekolah, dipenjara, disiksa, atau dibunuh hanya karena mereka menolak untuk melepaskan keyakinannya.

Pada tahun 2019, sebuah pengadilan rakyat independen di London menegaskan bahwa rezim Tiongkok telah memanen organ secara paksa “dalam sebuah skala signifikan” dan bahwa praktisi Falun Gong yang dipenjara mungkin adalah “sumber Falun Gong.”

Polisi menahan seorang pengunjuk rasa Falun Gong di Lapangan Tiananmen saat kerumunan menyaksikan di Beijing pada foto 1 Oktober 2000 ini. (Foto Chien-min Chung / AP)

He Lifang, seorang pria praktisi Falun Gong berusia 45 tahun dari Qingdao, sebuah kota di Provinsi Shandong, meninggal setelah ditahan selama dua bulan.

Para kerabat He Lifang mengatakan ada sayatan-sayatan di dada dan punggung He Lifang. Wajah He Lifang tampak seperti  kesakitan, dan ada luka-luka di sekujur tubuhnya, menurut Minghui.org,sebuah situs web yang berfungsi sebagai sebuah klarifikasi fakta untuk akun-akun penganiayaan terhadap Falun Gong.

Penindasan terhadap Minoritas-Minoritas Agama dan Etnis

Untuk mempertahankan kekuasaannya, rezim Partai Komunis Tiongkok memindahkan sejumlah besar  orang-orang etnis Han ke Tibet, Xinjiang, dan Mongolia Dalam, di mana kelompok-kelompok etnis hidup dengan kebudayaan dan bahasanya masing-masing. Rezim Tiongkok memaksa sekolah-sekolah setempat menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa resmi.

Pada tahun 2008, warga Tibet memprotes untuk mengekspresikan kemarahannya atas kendali rezim Tiongkok. Sebagai tanggapan, rezim Tiongkok mengerahkan polisi. Ratusan orang Tibet dibunuh.

Pagar pembatas dibangun di sekitar tempat yang secara resmi dikenal sebagai pusat pendidikan keterampilan kejuruan di Dabancheng di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, 4 September 2018. REUTERS/Thomas Peter

Sejak tahun 2009, lebih dari 150 orang Tibet melakukan bakar diri, dengan harapan  kematiannya mungkin akan menghentikan kendali ketat rezim Tiongkok di Tibet.

Di Xinjiang, pihak-pihak berwenang rezim Tiongkok dituduh melakukan genosida terhadap orang-orang Uighur dan minoritas-minoritas etnis lainnya, termasuk menahan satu juta orang di kamp-kamp “pendidikan ulang politik” rahasia.

Tahun lalu, rezim di Beijing menetapkan sebuah kebijakan baru yang mengamanatkan proses belajar mengajar di beberapa sekolah Mongolia Dalam, hanya menggunakan bahasa Mandarin. Saat para orangtua dan murid-murid berunjuk rasa, mereka diancam ditangkap, ditahan, dan kehilangan pekerjaan.

Rezim Komunis Tiongkok juga menggunakan sebuah sistem pengawasan untuk memantau kelompok-kelompok etnis. Kamera-kamera pengawas dipasang di biara-biara Tibet, dan data biometrik dikumpulkan di Xinjiang. (Vv)

Eva Fu, Jack Phillips, Leo Timm, dan Cathy He berkontribusi pada laporan ini

 

Share

Video Popular