Erabaru.net. Para ilmuwan sejak lama membenarkan bahwa earthing atau pembumian, yakni menghubungkan tubuh manusia dengan Bumi atau berjalan tanpa alas kaki memiliki banyak manfaat kesehatan, seperti anti-inflamasi, analgesik, bantuan tidur, pembersihan darah, kecantikan, mengurangi stres, membantu mengatur jet lag, bahkan juga dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis.

Baru-baru ini, sebuah studi observasional untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa earthing memiliki manfaat untuk mencegah dan mengobati COVID-19. Setelah 1 hingga 3 hari pasien terpapar COVID-19 melakukan earthing, sebagian besar dari pasien yang mengikuti penelitian ini sudah mengalami perbaikan gejala, pasien sudah terbebas dari bahaya demam dan kesulitan bernapas.

95% pasien membaik dan tanpa komplikasi setelah melakukan earthing

Haider Abdul-Lateef Mousa, seorang peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Basrah di Irak, merekrut 59 orang pasien dengan COVID-19 yang dikonfirmasi melalui tes PCR. Para pasien ini diminta untuk mengikuti instruksi earthing di rumah mereka masing-masing, selama 15 menit hingga 3 jam sehari atau lebih lama. Metode earthing harus dilakukan dengan menginjak tanah yang tidak berinsulasi dengan kaki telanjang, atau menggunakan perangkat kabel earthing untuk menghubungkan tubuh ke tanah.

Dari 59 orang pasien yang diuji, 20 orang adalah pasien berpenyakit tingkat parah, 28 orang adalah pasien bertingkat sedang, dan 11 orang pasien bertingkat ringan. Gejala-gejalanya meliputi demam, batuk, kesulitan bernapas, kehilangan rasa dan penciuman, anoreksia, sakit tenggorokan, nyeri dada, sakit kepala, nyeri tubuh, dan badan tidak bertenaga.

Semua pasien dengan gejala ringan dan sedang mengalami perbaikan gejala yang signifikan setelah 1 hingga 3 hari menjalani earthing.

Misalnya, seorang pasien diabetes berusia 67 tahun dengan gejala tingkat sedang mengalami demam terus-menerus, nyeri tubuh, kehilangan nafsu makan, dan kehilangan rasa dan penciuman selama minggu ketiga terpapar virus corona. Dia mulai melakukan earthing selama 2 jam sehari. Hasilnya adalah demamnya mereda pada keesokan harinya, nafsu makan, rasa, dan penciumannya pulih.

Di antara 20 orang pasien yang sakit dengan tingkat kritis, 17 orang di antaranya mengalami perbaikan gejala setelah earthing, dan tidak ada komplikasi yang terjadi. Dua dari tiga orang pasien lainnya kehilangan kontak, dan satu orang meninggal yang berusia 68 tahun dengan gejala tekanan darah tinggi dan diabetes meninggal karena stroke iskemik.

Haider Abdul-Lateef Mousa mengatakan, bahwa pasien tersebut tidak sepenuhnya melakukan earthing seperti yang diinstruksikan, ia hanya melakukan earthing selama 15 menit setiap selang satu hari, dan hanya melakukan 2 kali.

Pasien hipoksia parah pulih setelah 3 hari earthing

Kasus yang paling mencengangkan adalah pasien berusia 56 tahun yang sakit kritis dan dirawat di rumah sakit karena sesak napas, demam, batuk, dan hipoksemia (74%). Di rumah sakit, ia menerima berbagai terapi seperti obat antivirus, steroid, antibiotik, dan antibodi plasma, dan terus menggunakan mesin oksigen untuk membantu pernapasan. Setelah seminggu perawatan kondisinya tidak membaik, dan ia langsung dipulangkan ke rumah.

Setelah keluar dari rumah sakit, dia terus minum obat resep dan menggunakan mesin oksigen. Sekitar seminggu kemudian, kondisinya memburuk dan dia mengalami kesulitan bernapas sampai tidak lagi bisa berbicara. Ketika dia terhubung ke mesin oksigen, konsentrasi oksigen darahnya hanya 38%. Saat itu, CT scan menunjukkan bahwa lesi paru-parunya telah melebihi 70%.

Karena pasien tidak bisa bangun dari tempat pembaringan atau duduk, putranya menggunakan perangkat kabel grounding untuk membumikan pasien sesuai dengan instruksi Haider Abdul-Lateef Mousa selama 3 jam sehari. Setelah dua putaran earthing, konsentrasi oksigen darah pasien meningkat menjadi 95% pada hari berikutnya, bahkan oksigen darahnya sudah mencapai 77% ketika tidak menggunakan mesin oksigen.

Setelah 3 hari melakukan earthing, pasien sudah sembuh total, minggu berikutnya yang ia rasakan hanya lelah dan badan lemas.

Mengapa earthing memiliki kemampuan penyembuhan yang begitu besar?

Faktanya, earthing adalah keadaan asli dari keberadaan manusia. Selama ribuan tahun, manusia terus berkontak dengan Bumi, baik dalam melakukan aktivitas, istirahat atau tidur. Dahulu pakaian dan alas kaki yang dikenakan manusia, selimut, tempat tidur, dan kursi untuk duduk semuanya terbuat dari bulu binatang atau tumbuhan sehingga tubuh berkontak dengan Bumi kapan dan di mana pun.

Namun, sejak ditemukannya sepatu bersol karet, manusia telah menyekat diri dari berkontak langsung dengan Bumi. Dengan membanjirnya bahan-bahan buatan manusia sebagai pengganti, segala jenis pakaian dan furnitur telah menjadi penyekat / isolator, memperparah kontak antara tubuh manusia dengan Bumi. Para ahli memperkirakan bahwa keadaan pemutusan hubungan ini kemungkinan besar yang menjadi penyebab utama manusia mengidap berbagai penyakit modern.

Pakar naturopati India yang terkenal, H.K. Bakhru dalam bukunya ‘The Complete Handbook of Nature Cure’ menyinggung soal kebiasaan earthing kuno : Orang Indian tradisional percaya bahwa Bumi memiliki kemampuan penyembuhan, dan mereka akan mengubur seluruh tubuh orang yang sakit ke dalam tanah, kecuali kepalanya, membiarkan tubuh orang yang sakit itu “bermandikan” tanah selama beberapa jam. Mereka percaya bahwa metode ini dapat menyembuhkan segala penyakit.

Dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan secara bertahap mengkonfirmasi manfaat kesehatan dari membumikan tubuh manusia. Penelitian telah menemukan bahwa ketika tubuh manusia berkontak dengan Bumi, kemampuan anti-inflamasi dan antioksidannya akan sangat meningkat, darah menjadi lebih bersih, dan berbagai fungsi fisiologis menjadi lebih baik.

Para ahli umumnya percaya bahwa mekanisme earthing mungkin berasal dari “elektron bebas” yang berada di permukaan Bumi. Ketika tubuh manusia terhubung dengan Bumi, maka tubuh dapat terus-menerus menyerap elektron di permukaan Bumi dan menyimpannya di dalam tubuh, menjadi semacam “nutrisi listrik” bagi tubuh yang dibutuhkan dari waktu ke waktu.

Ketika ada peradangan di tubuh, tubuh manusia akan mengirimkan kekuatan elektron tersebut pada waktu yang tepat untuk menetralisir kelebihan radikal bebas dan menghasilkan efek anti-inflamasi dan anti-oksidan. Oleh karena itu, earthing dapat membantu mengurangi api inflamasi pada pasien COVID-19, mencegah “badai sitokin” (respon imun sistemik), dan mengurangi risiko kematian.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa membumikan tubuh manusia dapat mencegah pembekuan darah, menstabilkan konsentrasi oksigen darah, dan meningkatkan kekebalan (meningkatkan globulin gamma).

Haider Abdul-Lateef Mousa menunjukkan bahwa efek ini mungkin sangat membantu dalam pencegahan dan pengobatan COVID-19.

Haider Abdul-Lateef Mousa mengatakan bahwa earthing dapat meringankan penyakit-penyakit seperti hipoksemia, koagulasi , peradangan dan defisiensi imun yang terkait dengan pneumonia koroner virus jenis baru tanpa efek samping yang merugikan. Selain itu, earthing juga dapat memiliki efek pencegahan pada influenza jenis lain, bahkan mungkin saja terhadap virus varian dari COVID-19. Dia menyarankan bahwa untuk mencegah atau mengobati COVID-19, seseorang harus melakukan earthing sedikitnya selama 40 menit sehari.

Earthing cukup sederhana

Dibandingkan dengan metode perawatan kesehatan lainnya, earthing bisa dikatakan paling sederhana, tidak membutuhkan biaya, tenaga, atau waktu khusus, karena kita bisa melakukan hal lain sambil earthing.

Ada 2 metode earthing:

1. Kontak langsung: Menginjak pantai, rumput, tanah, semen, tanah bata merah dengan kaki telanjang, atau menyentuh tanah dengan kepala, tangan, kaki atau bagian lain dari tubuh kita, paling baik adalah tanah yang basah. Menyentuh daun dan batang tanaman dengan tangan kita juga memiliki efek earthing.

2. Kontak tidak langsung: Gunakan lempengan khusus untuk earthing, karpet lantai, kasur, sarung bantal dan lainnya untuk berkontak dengan tanah melalui kabel yang disambungkan ke arde stop kontak. Perangkat ini sangat nyaman dan dapat dengan mudah berkontak dengan tanah baik saat berdiri, duduk, atau berbaring. Selain itu, kita juga bisa memakai alas kaki yang berfungsi earthing.

Buku berjudul ‘Earthing: The Most Important Health Discovery Ever’ yang ditulis bersama oleh ahli jantung Stephen T. Sinatra dan para ahli lainnya menunjukkan bahwa efek earthing berkaitan erat dengan jumlah waktu yang digunakan dalam melakukan earthing. Semakin lama kita berkontak langsung dengan Bumi, maka semakin baik efeknya. Orang dengan penyakit radang kronis perlu melakukan earthing lebih lama. Penulis menganjurkan semua orang yang ingin memiliki kesehatan yang prima, untuk melakukan earthing setiap hari siang dan malam. (sin/yn)

Sumber: ntdtv

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular