Erabaru.net. Banyak anak-anak dari keluarga miskin harus memikul tanggung jawab lebih awal! Pada usia ketika mereka seharusnya bermanja pada orangtuanya, bermain dengan teman-teman mereka, mereka alih-alih menjadi tulang punggung seluruh keluarga!

Qiao’er, seorang gadis berusia sembilan tahun, dan memiliki adik lelaki yang berusia empat tahu. Ibunya sakit serius dan harus dirawat di rumah sakit.

Selain merawat adiknya, Qiao’er juga harus menemukan cara agar dapat menghasilkan uang demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Qiao’er meskipun masih berusia sangat belia, dia sudah dapat melakukan pekerjaan rumah. Setiap hari, dia tidak hanya mencuci dan memasak, tetapi juga pergi ke sekolah sambil menjaga adiknya.

Setiap hari, Qiao’er bangun pagi untuk membuat sarapan, membangunkan adiknya, memandikannya, dan membereskan rumah, kemudian pergi ke sekolah dengan adiknya di punggungnya.

Melihat situasinya, gurunya menyediakan ruang di belakang kelas untuk adik laki-lakinya bermain, dan juga memobilisasi siswa untuk membantu Qiao’er menyumbangkan perlengkapan sekolah.

Meskipun adiknya masih kecil, dia tahu bahwa dia tidak boleh mengganggu kakaknya yang sedang belajar, jadi dia selalu diam, menunggu kakaknya selesai sekolah.

Karena kehidupannya sangat sulit, Qiao’er tumbuh menjadi anak yang rajin dan hemat. Dia juga bisa menjahit dan merombak pakaian lama menjadi pakaian kecil untuk adik laki-lakinya.

Qiao’er, yang baru berusia sembilan tahun tampak seperti orang dewasa kecil yang mengurus semunya.

Dengan kemandirian Qiao’er, ayahnya menjadi tidak khawatir dan merawat istrinya dengan tenang. Namun, biaya pengobatan istrinya yang mencapai puluhan ribu yuan seperti gunung yang membuatnya sesak napas.

Qiao’er selalu menghibur ayahnya, mengatakan bahwa ibunya pasti akan sembuh dan mengingatkan ayahnya untuk selalu memiliki kepercayaan diri!

Hari itu adalah hari ulang tahun ayahnya. Qiao’er melihat ayahnya yang bekerja keras, terlihat sangat tua dari usianya. Dia ingin membuatkan makanan lezat untuk ayahnya, dan memberikan hadiah untuknya.

Jadi, Qiao’er mengambil sebagian dari uang sakunya dari hasil memulung sampah, dan membawa adiknya ke pasar sayur.

Ada banyak jenis sayuran, buah-buahan dan makanan laut tetapi ketika dia bertanya soal harganya, Qiao’er selalu menundukkan kepalanya. Dengan hanya beberapa yuan di sakunya, dia tidak bisa membuat hidangan lezat untuk ayahnya.

Pada saat itu, Qiao’er melihat ada penjual sayur yang mengupas banyak sayuran. Dia membawa adik laki-lakinya dan dengan gembira mengambil sayuran di tanah.

Namun, penjual sayuran melihatnya, penjual itu dengan marah mendekatinya dan merebut sayuran yang dibawa adiknya, dengan kasar memakinya,: “Pengemis kecil, mengapa kamu mengambil sayuran ini? Aku ingin menyimpannya dan memberi makan kelinci, jika kamu mengambilnya lagi, akan aku pukul kamu!”

Adik laki-lakinya ketakutan dan menangis, Qiao’er, yang berjongkok di tanah, juga ketakutan. Setelah terdiam sejenak, dia diam-diam menyeka air matanya dan membawa adiknya pergi.

Kebetulan, seorang paman penjual ikan laut melihat kejadian itu dan tidak tega melihat mereka berdua. Penjual ikan itu menghentikan mereka, dan dengan ramah bertanya,: “Anak-anak, di mana orangtuamu? Mengapa kalian berdua berada di sini?”

Qiao’er dengan malu-malu berkata, : “Ibu sedang sakit, dan ayah harus merawat Ibu. Hari ini adalah hari ulang tahun ayah. Saya ingin membuat makanan enak untuknya, tetapi saya tidak cukup uang …”

Penjual ikan menarik napas, mengusap kepala mereka dan berkata,: “Anak baik, paman akan memberimu dua ikan, dan masak makanan enak untuk ayahmu!”

Paman penjual ikan langsung mengambil dua ikan segar dari dalam tangki dan memberikan kepada Qiao’er. Namun, Qiao’er tidak mau menerimanya, tetapi karena adiknya berteriak-teriak agar kakaknya menerimanya. Dia memandang adiknya dan akhirnya mau menerimanya. Sebelum pulang, Qiao’er berbalik badan mengucapkan terimakasih kepada paman, dan paman melambaikan tangannya.

Ketika sampai di rumah, ayahnya sangat senang melihat Qiao’er membeli ikan. Ayah dan anak perempuannya duduk bersama untuk memotong ikan.

Saat mereka memotong ikan, tiba-tiba, ada suara gemerincing jatuh ke dalam baskom. Ketika ayahnya memeriksanya, dia menemukan sebuah cincin.

Dia melihat lebih dekat dan dengan gembira berkata,: “Anakku, di mana kamu membeli ikan itu? Lihat apa yang ada di dalam ikan ini, ayo kita jual ! Sekarang ibumu akan terselamatkan!”

Qiao’er, menggelengkan kepalanya ketika mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Dia menceritakan, bahwa ikan itu pemberian dari paman penjual ikan, dan berkata kepada ayahnya: “Ayah, cincin ini pasti milik paman, kita tidak boleh menjualnya dan harus mengembalikannya!”

Melihat putrinya yang begitu bijaksana, ayahnya tersenyum dan berkata,: “Anakku, kamu benar, kamu tidak dapat memiliki sesuatu yang bukan milikmu! Pergilah dan kembalikan cincin ini, dan ayah akan memasak ikannya!”

Qiao’er mengambil cincin itu dan berlari ke kios paman penjual ikan untuk mengembalikan cincin. Paman sangat senang dan berkata,: “Tidak heran, menantu perempuan saya tidak dapat menemukan cincin itu dan terus mencarinya ke mana-mana. Ternyata cincin itu dimakan ikan. Haha, anak baik, terima kasih! “

Qiao’er berkata :“Sama-sama paman !”

Qiao’er kemudian memberitahu penjual ikan apa yang baru saja dikatakan ayahnya. Paman memandang Qiao’er dengan ekspresi serius dan berkata,: “Bawa aku ke rumahmu!”

Setelah tiba di rumah Qiao’er, penjual ikan melihat pemandangan yang sangat menyedihkan.

Setelah mendengarkan kisahnya dari ayah Qiao’er, mata paman berkaca-kaca, dan berkata dengan rasa sedih, : “Ini adalah cincin kawin dari orangtua saya untuk istri saya dan menurun ke menantu perempuan saya. Bukan masalah harganya yang mahal atau murah, namun cincin ini sangat bermakna untuk kami, karena kalian telah jujur dan mengembalikannya, saya ingin memberi kalian seratus ribu yuan! “

Melihat Qiao’er dan ayahnya yang ingin menolak, paman menjelaskan: “Penjualan makanan laut saya cukup maju. Qiao’er jujur ​​dan dapat dipercaya. Saya menyukainya. Bagaimana kalau Qiao’er membantu saya sepulang sekolah? Dan anggap saja uang seratus ribu yuan adalah gaji dimuka, setuju ? Dan, yang paling penting adalah membantu kalian keluar dari kebutuhan mendesak ini dan menyelamatkan nyawa ibu Qiao’er!”

Setelah mendengar kata-kata paman, Qiao’er dan ayahnya meneteskan air mata, membungkuk dalam-dalam dan mengucapkan terima kasih berulang kali kepada paman.

Pada saat itu, adik laki-laki Qiao’er berteriak: “Aku akan mati kelaparan, aku ingin makan!”

Mendengar ini, mereka semua tertawa.(lidya/yn)

Sumber: hknews

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular