Frank Fang dan Eva Fu

Perang partai Komunis Tiongkok yang sudah berlangsung selama 100 tahun terhadap keyakinan. Propaganda hitam dan penindasan skala besar dikerahkan untuk memberangusnya. 

Para pendeta dan biarawati dipaksa untuk berlutut di depan sebuah api unggun besar, menyaksikan tanpa daya saat api melahap instrumen-instrumen suci milik mereka dan membakar kulit mereka.

Di kota lainnya di Tiongkok, para siswa yang mengenakan ban lengan merah memukul umat-umat Katolik dengan tongkat kayu tajam, melemparkan seorang pendeta ke dalam sebuah lubang api setelah ia pingsan kesakitan. 

Para siswa memukuli seorang biarawati sampai mati setelah sang biarawati menolak untuk menginjak sebuah patung Perawan Maria.

Seorang imam Katolik dikubur hidup-hidup di Beijing, setelah menolak untuk menyerahkan Imannya.

Meski meresahkan, tindakan-tindakan brutal ini didokumentasikan oleh  misionaris yang berbasis di Hong Kong, Sergio Ticozzi, hampir tidak pernah keluar dari norma untuk orang-orang Tiongkok yang setia selama hiruk-pikuk Revolusi Kebudayaan selama satu dekadedari tahun 1966, ketika semua bentuk praktik keagamaan dideklarasikan “takhayul” dan dilarang.

Penindasan semacam itu juga tidak unik pada periode tertentu selama rezim partai Komunis Tiongkok lebih dari 70 tahun memerintah Tiongkok.

Kendali Total 

Kepercayaan pada sebuah kekuatan yang lebih tinggi adalah kutukan bagi Partai Komunis Tiongkok yang ateis,  selama 100 tahun ini telah berusaha untuk memerintahkan kesetiaan dan kendali mutlak atas anggota-anggotanya dan rakyat Tiongkok.

“Mereka tidak dapat menangani sebuah kesetiaan selain kepada negara,” kata Sam Brownback, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Kebebasan Agama Internasional, kepada The Epoch Times.

Akibatnya, para pemimpin Partai Komunis Tiongkok berturut-turut  meluncurkan kampanye demi kampanye, untuk menghancurkan dan mengendalikan orang-orang beriman di Tiongkok.

Mao Zedong, pemimpin Partai Komunis Tiongkok pertama, yang mengawasi salah satu kampanye yang paling menyeluruh untuk membongkar kehidupan beragama di Tiongkok, membandingkan agama dengan “racun” dalam percakapan dengan pemimpin Tibet di pengasingan, Dalai Lama. 

Para jemaah berjalan melewati bayangan salib di pintu masuk Gereja Katolik Jembatan Zhongxin “bawah tanah”, setelah kebaktian merayakan Kenaikan Isa di Tianjin, pada 24 Mei 2015. (Greg Baker/AFP via Getty Images)

Dalam  otobiografinya, Dalai Lama mengingat Mao Zedong yang mengatakan kepadanya pada tahun 1954 bahwa agama “merusak ras” dan “menghambat kemajuan negara.”

Mantan pemimpin partai Komunis Tiongkok Jiang Zemin pada tahun 1993 menyatakan kebebasan beragama adalah  “tidak cocok untuk anggota Partai Komunis Tiongkok” dan menyuruh anggota Partai Komunis Tiongkok, untuk “dengan sabar mendidik” mereka yang beriman untuk membantu mereka “menyingkirkan belenggu agama.”

Buddha, Taoisme, Islam, Katolik, dan Kristen–—lima agama di mana rezim Tiongkok secara resmi memberikan sanksi –— tetap di bawah kendali negara yang kaku, di mana para pejabat Partai Komunis Tiongkok menetapkan persyaratan mengenai bagaimana lima agama tersebut beroperasi.

Para pejabat Tiongkok untuk urusan agama menekankan perlunya “membimbing agama dengan nilai-nilai sosialis” dan bagi umatnya untuk “berterima kasih kepada  Partai Komunis Tiongkok.”

Di bawah aturan Partai Komunis Tiongkok, anggota-anggota juga menghadapi kemungkinan pengusiran bila percaya agama atau terlibat dalam “kegiatan-kegiatan takhayul.”

Menandai seratus tahun Partai Komunis Tiongkok, para pemimpin asosiasi enam agama tingkat-negara  bertemu pada bulan Juni dan memuji kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok. Mengekspresikan tekad untuk “selalu mengikuti Partai Komunis Tiongkok,” mereka berjanji untuk memulai kampanye pendidikan untuk memperdalam “cinta untuk Partai Komunis Tiongkok” di kalangan agama mereka.

Pastor Bob Fu, pendiri kelompok hak asasi manusia Kristen China Aid, menggambarkan Partai Komunis Tiongkok sebagai “Partai ateistik ekstrem terbesar di dunia.”

“Partai Komunis Tiongkok telah melakukan penganiayaan dan kejahatan agama terburuk melawan kemanusiaan,” kata Bob Fu kepada The Epoch Times.

Dalam kata-kata Sam Brownback, Partai Komunis Tiongkok sedang “berperang dengan iman”—–yaitu Kristen, Buddha Tibet, Uyghur dan minoritas-minoritas Muslim lainnya di Xinjiang, atau disiplin meditasi Falun Gong.

“Ini adalah perang yang tidak akan dimenangkan Partai Komunis Tiongkok,” kata Sam Brownback.

‘Kebijakan Tanpa-Toleransi’

Satu tahun setelah Partai Komunis Tiongkok mengambil alih kekuasaan pada tahun 1949, pasukan Tiongkok berbaris ke Tibet dan memaksakan sebuah kesepakatan yang berisi 17 poin kepada orang-orang Tibet untuk melegitimasi aturan Partai Komunis Tiongkok. 

Namun demikian, terlepas dari janji-janji indah adanya otonomi Tibet di atas kertas, Beijing mengubah Tibet menjadi sebuah negara bagian pengawasan dan mendirikan kamp-kamp kerja paksa.

Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet, pergi ke pengasingan di India pada tahun 1959 setelah rezim Tiongkok secara brutal menghancurkan melalui sebuah pemberontakan, yang menewaskan puluhan ribu  orang Tibet. 

Seorang biarawati berjalan di tengah puing-puing rumah yang dihancurkan di Institut Buddhis Larung Gar di kabupaten Sertar di provinsi Sichuan, pada 29 Mei 2017. (Johannes Eisele/AFP via Getty Images)

Dalam 20 tahun berikutnya, sekitar 1,2 juta orang Tibet  meninggal di bawah kebijakan represif rezim Tiongkok, menurut perkiraan   pemerintah Tibet di pengasingan. Lebih dari 150 orang Tibet memilih untuk bakar diri dalam tindakan pembangkangan yang putus asa.

Polisi secara rutin memantau korespondensi pribadi, menggeledah rumah, dan memeriksa rekaman-rekaman telepon untuk mencari konten terlarang seperti  “musik reaksioner” dari India, menurut laporan terbaru Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. 

Para pejabat provinsi juga melarang siswa-siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan selama liburan sekolah. Laporan tersebut mengutip 273 orang Tibet  “ditahan karena melanggar standar hak asasi manusia internasional akhir tahun 2019.”

Seorang penggembala Tibet bernama Lhamo, ibu tiga anak yang berusia 36 tahun, ditahan pada bulan Juni 2020 karena mengirim uang ke keluarganya di India.

Anggota-anggota keluarga yang melihatnya dua bulan kemudian menemukan  Lhamo menderita “memar parah dan tidak dapat berbicara,” menurut kelompok advokasi Human Rights Watch.  Lhamo meninggal beberapa hari kemudian di rumah sakit setempat dan segera dikremasi.

Dengan pemimpin spiritual Tibet saat ini di tahun ke-86, Beijing menegaskan Beijing ingin ikut andil dalam memilih penggantinya. Dalam sebuah kertas putih yang diterbitkan di  Mei, Dewan Negara Tiongkok mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi dan menyetujui “92” Buddha Hidup yang bereinkarnasi”—menunjukkan niat Dewan Negara Tiongkok untuk memilih Dalai Lama yang berikutnya  jika Dalai Lama yang sekarang meninggal.

“Partai Komunis Tiongkok mempraktikkan kebijakan tanpa-toleransi dalam untuk umat beriman,” kata Lobsang Tseten, direktur eksekutif aktivis Tibet yang berbasis di Amerika Serikat, kelompok Siswa-Siswa untuk Tibet Merdeka, kepada The Epoch Times. 

Ia menambahkan bahwa “Aturan sewenang-wenang PKT di Tibet adalah ancaman langsung terhadap setiap aspek kehidupan  orang Tibet.”

‘Mengsinisasi’ Gereja 

Penindasan Partai Komunis Tiongkok terhadap gereja-gereja Katolik dan Protestan juga telah diintensifkan di bawah pengawasan pemimpin saat ini Xi Jinping.

Pihak berwenang Tiongkok telah menghapus ribuan salib dari gereja-gereja, menangkap para pendeta, memerintahkan penghapusan gambar-gambar Kristen. Bahkan, secara agresif mengejar sebuah kebijakan “sinisasi” dengan mendirikan “gereja-gereja patriotik,” di mana gambar-gambar Yesus Kristus dan Perawan Maria diganti dengan potret Xi Jinping atau Mao Zedong.

Rezim Tiongkok juga menafsirkan ulang dan menerjemahkan ulang Alkitab untuk mempromosikan “Kekristenan ala Tiongkok,” dengan satu buku teks etika Tiongkok yang memutarbalikkan sebuah cerita dari Alkitab bahwa Yesus melempari seorang wanita sampai mati sambil mengklaim dirinya adalah orang berdosa.

Tangkapan layar dari video yang diunggah oleh ChinaAid menunjukkan penghancuran Gereja Kaki Pelita Emas di kota Linfen di provinsi Shanxi, Tiongkok pada Selasa, 9 Januari 2018. (ChinaAid)

Pada tahun 2017, setidaknya empat kota dan satu provinsi membatasi  perayaan Natal, melarang pajangan-pajangan dekorasi Natal,  pertunjukan-pertunjukan bertema Natal, dan kegiatan-kegiatan promosi Natal. 

Para pejabat komunis dalam satu universitas melarang kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hari-hari raya keagamaan Barat, demi membantu generasi muda “membangun kepercayaan kebudayaan.” Seorang umat  Kristen pada bulan Januari ini menerima denda yang besar yaitu sebesar 160.000 yuan karena merayakan hari raya Natal.

Gereja-gereja bawah tanah berkembang sebagai akibat penindasan rezim Tiongkok. Sebagai tanggapan, para pejabat Tiongkok menahan anggota-anggota gereja dan menyerahkan hukuman penjara yang panjang kepada para pendeta.

Wang Yi, seorang pendeta di Chengdu tengah Tiongkok, yang mendirikan salah satu dari gereja Kristen terbesar yang tidak terdaftar di Tiongkok, dihukum sembilan tahun penjara pada bulan Desember 2019, karena “operasi-operasi bisnis ilegal” dan “menghasut untuk menumbangkan kekuasaan negara,” sebuah tuduhan yang sering digunakan rezim Tiongkok untuk membungkam para pembangkang.

Pada April, Radio Free Asia melaporkan bahwa Beijing menjalankan fasilitas-fasilitas rahasia  cuci otak, yang biasanya melibatkan penyiksaan, di  Provinsi Sichuan, barat daya Tiongkok, untuk memaksa umat-umat Kristen melepaskan imannya.

‘Setiap Hari Partai Komunis Tiongkok Menjadi Semakin Berani’

Di wilayah barat jauh Xinjiang, lebih dari 1 juta orang Uyghur dan minoritas-minoritas Muslim lainnya  saat ini ditahan di kamp-kamp tahanan Tiongkok—–di mana rezim Tiongkok menyebutnya sebagai “pusat-pusat pelatihan kejuruan” yang seolah-olah digunakan untuk klaim “mengurangi” ekstremisme”–—di mana mereka menghadapi kerja paksa, penyiksaan, pelecehan seksual,  indoktrinasi politik, aborsi paksa, dan sterilisasi paksa.

Dipimpin oleh Amerika Serikat, semakin banyak negara, termasuk Belgia, Kanada, Republik Ceko, Lituania, Belanda, dan Inggris, telah mengakui kampanye penindasan tersebut sebagai sebuah  bentuk genosida.

Masjid desa Jieleixi No.13 dengan slogan “Cintai Partai [Komunis Tiongkok], Cintai Tiongkok,” di Yangisar, selatan Kashgar, di wilayah Xinjiang barat Tiongkok pada 4 Juni 2019. (GREG BAKER/AFP via Getty Images)

“Genosida terhadap orang-orang Uighur masih berlangsung, dan setiap hari Partai Komunis Tiongkok menjadi semakin berani,” kata Rushan Abbas, direktur eksekutif organisasi nirlaba yang berbasis di Washington  Campaign for Uyghurs, mengatakan dalam pernyataan tanggal 30 Juni, sehari sebelum perayaan seratus tahun Partai Komunis Tiongkok. 

“Ini adalah panggilan  terakhir dari kami untuk menyadarkan bahwa Partai Komunis Tiongkok harus dihentikan jika kita ingin melestarikan sistem martabat global dan tatanan yang dihormati oleh semua orang.”

Sebuah laporan baru-baru ini oleh dua organisasi yang berbasis di Washington–—Masyarakat Oxus untuk Urusan Asia Tengah dan Proyek Hak Asasi Manusia Uyghur—–menunjukkan bahwa  sedikitnya di 28 negara di dunia “terlibat dalam pelecehan dan intimidasi oleh Tiongkok terhadap Uyghur.” 

Banyak dari negara-negara ini, memiliki ikatan-ikatan ekonomi yang kuat dengan Tiongkok, termasuk negara-negara yang telah mendaftar dalam  Inisiatif belt and road  (juga dikenal sebagai one Belt one road). 

“Ketika Tiongkok memperluas perannya secara global melalui Inisiatif Belt and road, lebih banyak negara cenderung akan menjadi terkunci dalam hubungan ketergantungan, meningkatkan kemampuan Tiongkok untuk memaksa atau mengkooptasi negara-negara tersebut untuk membantu menargetkan anggota-anggota perantauan dan orang-orang buangan,” menurut laporan itu.

‘Kami Dapat Membuat Anda Menghilang’

Tidak ada tempat di mana kebencian Partai Komunis Tiongkok terhadap agama lebih jelas daripada  penindasan yang berdarah oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap praktisi Falun Gong, disiplin spiritual dengan latihan meditasi yang lambut dan ajaran moral berdasarkan prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, menurut situs webnya.

Karena takut akan popularitas Falun Gong di Tiongkok, pemimpin Partai Komunis Tiongkok Jiang Zemin pada 20  Juli 1999, melancarkan penganiayaan brutal terhadap praktisi Falun Gong. 

Para  pejabat top Tiongkok memberikan perintah-perintah rahasia untuk “menghancurkan praktisi Falun Gong secara politis, membuat praktisi Falun Gong menjadi bangkrut secara finansial, merusak reputasi praktisi Falun Gong,” menurut seorang mantan kolonel militer yang menghadiri pertemuan tersebut.

Sejak itu, jutaan praktisi Falun Gong ditahan di penjara, kamp kerja paksa, rumah sakit jiwa, dan fasilitas penahanan lainnya di Tiongkok.

Ratusan ribu praktisi Falun Gong disiksa di tempat-tempat itu dalam upaya untuk memaksa praktisi Falun Gong untuk melepaskan keyakinannya. 

Jumlah praktisi Falun Gong yang tidak terhitung meninggal akibat panen   organ secara paksa yang disetujui negara Tiongkok, di mana organ-organ praktisi Falun Gong diambil dan  dijual di pasar transplantasi.

Praktisi Falun Gong mengambil bagian dalam parade di Flushing, New York, pada 18 April 2021, untuk memperingati 22 tahun seruan damai 25 April dari 10.000 praktisi Falun Gong di Beijing. (Samira Bouaou/The Epoch Times)

Penganiayaan tersebut terus berlanjut hingga saat ini.

Selama lima bulan pertama tahun 2021, 599 praktisi Falun Gong  didokumentasikan telah dihukum karena keyakinannya; salah satunya, yang berusia 81 tahun, dihukum sembilan tahun penjara, menurut data dari Minghui.org,  situs web yang memantau penganiayaan terhadap Falun Gong Yang berbasis di Amerika Serikat. Lebih dari 15.000 praktisi Falun Gong didokumentasikan mengalami pelecehan atau penangkapan tahun lalu.

Terpikat oleh bonus yang bagus, polisi dan pejabat setempat tahun lalu mulai menyapu “Kampanye Zero-Out” dengan mengejar praktisi Falun Gong di seluruh Tiongkok, Minghui melaporkan. 

Para praktisi Falun Gong diminta untuk menandatangani sebuah pernyataan yang berisi pelepasan imannya atau menyaksikan pensiun, karier, atau pendidikan anak-anaknya terancam.

“Kami dapat membuat anda menghilang jika kami mengatakannya,” kata seorang petugas dari  Provinsi Heilongjiang, paling utara Tiongkok, diduga mengatakan kepada seorang praktisi Falun Gong.

Guo Zhenfang, dari kota Chifeng di Mongolia Dalam Tenggara, meninggal pada Juni, sehari setelah persidangannya. Di rumah sakit, keluarganya menemukan noda-noda darah di hidungnya dan sebuah luka di sekitar tempurung lututnya. Punggungnya dari pinggang ke bawah telah berubah menjadi “ungu-merah,” menurut Minghui. Puluhan  petugas polisi berpakaian polos menghalangi keluarga Guo Zhenfang untuk memeriksa mayat Guo Zhenfang lebih lanjut dan mengirim mayat Guo Zhenfang ke krematorium tanpa persetujuan keluarga Guo Zhenfang.

Lü Songming, seorang mantan guru sejarah di sebuah Sekolah Menengah Pertama dari  Provinsi Hunan, selatan Tiongkok, menghabiskan selama 14 tahun penjara.  20 Giginya rontok akibat pemukulan, kerja paksa, disetrum, dan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya.

Ketika ia dibebaskan pada tahun 2018, ia hanya memiliki enam gigi yang tersisa dan tidak dapat lagi bekerja. Ia sering menderita gagal jantung, akhirnya meninggal dalam pada  Maret di usia 53 tahun.

‘Sebuah Kelemahan Nyata’

Mantan Duta Besar Sam Brownback mengamati bahwa, Xi Jinping semakin banyak memunculkan kembali taktik-taktik brutal dan tidak manusiawi dari era Mao Zedong  di Tiongkok.

Namun dalam ketergesaannya untuk menegaskan kekuasaan atas umat beriman di Tiongkok, Sam Brownback mengatakan, rezim Tiongkok “menunjukkan sebuah kelemahan nyata.”

“Rezim Tiongkok pasti merasa kehilangan kendali, sehingga  rezim Tiongkok menjadi jauh lebih represif dan brutal,” kata Sam Brownback.

Pelanggaran hak asasi manusia dan kebebasan beragama oleh Beijing, merugikan citra rezim Tiongkok  di mata dunia internasional, sementara di dalam negeri Tiongkok, hal itu merusak kemampuannya untuk mempertahankan kekuasaannya, kata Sam Brownback.

“Komunisme dan iman hanya memiliki masalah besar yang hidup berdampingan, dan Iman tidak akan ditundukkan, sehingga pada akhirnya komunisme akan jatuh,” kata Sam Brownback.

Apa yang tersisa dari warisan 100 tahun Partai Komunis Tiongkok, kata Pastor Bob Fu, akan menjadi rekor Partai Komunis Tiongkok sebagai “satu-satunya partai politik di mana jumlah terbesar  nyawa manusia hilang secara sewenang-wenang … di seluruh sejarah manusia.” (Vv)

Share

Video Popular