Erabaru.net. 12 tahun yang lalu, sepasang suami istri di Louisiana, AS, mengetahui bahwa bayi mereka yang belum lahir menderita spina bifida. Meskipun mereka merasa takut dengan kondisi janin, tetapi pasangan itu tetap mempertahankan kandungannya dan membiarkan anak itu lahir daripada menggugurkan. Keputusan mereka telah mengubah nasib putranya dan menunjukan arti dari sebuah perjuangan hidup.

Pada tahun 2008, Chad Judice dari Lafayette, Louisiana, dan pasangannya Ashley, sedang mengandung anak keduanya. Namun, pemeriksaan prenatal membuat mereka takut dan cemas.

Sebagai seorang penulis pemenang penghargaan dan pembicara nasional, Chad berbagi dalam sebuah wawancara dengan The Epoch Times bagaimana kelahiran putranya, Eli, telah mengubah pandangannya tentang cinta, Tuhan, dan orangtua.

Chad adalah direktur sekolah Katolik di Lafayette, dan istrinya Ashley adalah seorang perawat di unit perawatan intensif neonatal.

“Saya telah hidup dalam naungan Tuhan sepanjang hidup saya dan tidak pernah merasa putus asa,” Chad mengatakan.

“Ketika istri saya hamil anak kedua, janin ditemukan abnormal selama pemeriksaan ultrasound rutin dan itu telah menjadi ketakutan terbesar saya. Saya berdoa semoga Tuhan dapat mengubah situasi tersebut. Namun ternyata sebaliknya, dia menggunakan situasi ini untuk mengubah saya. Tuhan mengungkapkan kepada saya kemanusiaan dan keilahian-Nya.”

Ketika Ashley mengandung Eli, pasangan itu tidak pernah menyangka anak kedua mereka mengalami situasi abnormal. Chad mengatakan sang istri bahkan tidak ingin tahu apakah bayinya laki-laki atau perempuan sampai staf medis memberitahu mereka bahwa bayinya sehat.

Namun, ketika dokter memulai pemeriksaan ultrasound, Chad ingat bahwa dia melihat “pandangan kekhawatiran” di wajah dokter dan Ashley.

Kemudian dokter meninggalkan ruangan dan membawa rekannya kembali. Kemudian mereka memberi tahu Chad bahwa Ashley mengandung bayi laki-laki. Namun, bayi laki-laki itu didiagnosis dengan “bentuk paling parah” dari spina bifida.

Chad mengatakan bahwa dia pernah percaya dia bisa mengendalikan hidupnya, tetapi diagnosis ini mengubah segalanya.

“Saya menemukan hari itu adalah pertama kalinya saya merasa tidak berdaya dan tidak dapat mengendalikan apa pun, dan Tuhan mengendalikan segalanya. Pada awalnya, saya berpikir bahwa Tuhan telah mengirimkan saya seorang anak cacat seumur hidup dan meminta saya untuk merawatnya. Tapi kenyataannya adalah bahwa Tuhan menjaganya. Tuhan membawa Eli ke rumah kami dan memintanya untuk membantu saya,” katanya.

Meskipun dokter tidak berbicara tentang aborsi, Ashley sempat memikirkan kehidupan masa depan putranya dan dia memiliki ide aborsi di bawah ketakutan.

Chad mengatakan: “Menurut pemahaman kami, 80% orang yang mendapatkan diagnosis ini memilih aborsi.”

Menurut data medis, jika Eli bertahan, dia tidak akan pernah bisa berjalan dan memiliki cacat intelektual yang parah. Memiliki masalah kesehatan kronis. Namun, dengan keyakinannya pada supernatural , Chad meyakinkan Ashley bahwa diagnosis bayi itu bukan salah siapapun dan bahwa Tuhan mengirim anak itu karena suatu alasan.

Chad berkata: “Biologi modern menunjukkan bahwa ada untaian DNA yang tidak dapat direplikasi dan mendefinisikan seseorang sejak saat pembuahan. Orangtua, perlu memiliki semangat pengorbanan diri. Tanpa cinta sejati, penderitaan akan menjadi tak tertahankan. Namun jika memiliki cinta sejati, semua rasa rasa hanyalah dongeng yang indah.”

Dengan dukungan dari 1.100 siswa sekolah menengah, orangtua, guru, dan komunitas Greater Lafayette, Chad berdoa untuk keajaiban. Pada 17 Februari 2009, Eli lahir di New Orleans melalui operasi caesar.

Chad mencatat perjalanan mentalnya dalam buku pertamanya. Dalam bukunya dia menulis tentang kelahiran Eli: “Rumah sakit meminta ibu Ashley, Ann dan saya untuk mengenakan pakaian bedah dan menunggu di luar ruang operasi sampai perawat memanggil kami. Ini adalah momen yang benar-benar mendebarkan. perjalanan emosional saya sedang mencapai puncak klimaksnya.”

“Ashley menangis, meremas tanganku dengan keras, sampai aku merasa tanganku akan patah. Kemudian aku mendengarnya untuk pertama kalinya – suara Eli. Dia membuat suara yang tajam. Ini salah satu momen yang paling indah untuk saya dan Ashley.”

Ketika staf medis menyadari bahwa lubang di punggung Eli (menunjukkan ukuran spina bifida) hanya “seukuran koin dolar”, ruangan itu dipenuhi dengan suasana melegakan karena awalnya kami mengira itu akan memiliki seukuran piring.

Sejauh ini, Eli telah menjalani lima operasi otak besar. Meski terkadang dia mengalami episode kejang, kondisinya lebih baik dari perkiraan dokter.

Dia bahkan belajar berjalan dengan kruk. Chad menggambarkan putra yang bahagia ini sebagai “orang lumpuh seumur hidup dengan kecerdasan di atas rata-rata”

Eli, yang mencintai basket, bekerja dengan kakek-neneknya untuk membangun tim basket kursi roda yang disebut “Cajun” untuk anak-anak seusianya.

Chad mengatakan bahwa dia selalu ingin menjadi pelatih bola basket dan mengajar untuk anak-anak sekolah menengah, walau begitu, dia berkata bahwa olahraga “dukungan untuk kehidupan” bukanlah yang direncanakan. Dia tidak berpikir kisah antara dia dan putranya itu adalah jembatan untuk menerima pesan dari Tuhan.

“Kita bisa mengalami kepuasan sejati dalam hidup. Bukan dengan mengesampingkan kebutuhan orang lain untuk kebutuhan kita sendiri, tetapi mengesampingkan kebutuhan kita sendiri demi orang lain,” Chad mengatakan.

“Tuhan memasuki kehidupan orang-orang melalui kisah hidup Eli yang tidak sempurna. Ini luar biasa dan membuat kisahnya abadi. Jika Ashley dan saya tidak memiliki keberanian untuk menerima kehidupan ini, cerita ini akan berakhir dengan alur yang berbeda.”

 

“‘Perjalanan Eli’ mengubah saya menjadi suami, ayah, dan pria sejati dari dalam ke luar. Dia mengajari banyak orang apa itu cinta sejati. Ini adalah hadiah terbaik yang dia berikan kepada saya. Dia adalah Lampu yang tak terpadamkan dalam kegelapan ,” pungkasnya. (lidya/yn)

Sumber: epochtimes

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular