oleh Zheng Gusheng

Saat ini dunia sedang melakukan upaya keras untuk mencegah penyebaran pandemi dengan segala upaya, termasuk melalui pelaksanaan protokol kesehatan, pembatasan kegiatan masyarakat dan vaksinasi. Tetapi mutasi virus yang cepat telah berulang kali menjebolkan berbagai upaya negara dalam hal ini. Menurut sebuah penelitian di daratan Tiongkok, ternyata varian Delta yang saat ini menyebar di banyak negara memiliki tingkat infeksi yang lebih cepat, bahkan kecepatan reproduksi virus yang sudah masuk di saluran pernapasan bisa mencapai 1.000 kali lipat daripada virus aslinya

Media AS yang mengutip informasi yang disampaikan oleh Forum Virologi ‘Virologis’  pada 7 Juli memberitakan bahwa, sebuah studi yang dilakukan oleh CDC-Guangdong, Tiongkok menyebutkan, tingkat infeksi strain virus Delta adalah 225% lebih cepat dari virus asli, dan itu dapat dideteksi dengan PCR 4 hari setelah terinfeksi. Sedangkan virus aslinya baru dapat dideteksi dan dikonfirmasi dalam waktu 6 hari sejak seseorang terinfeksi.

Penelitian juga menunjukkan bahwa, strain virus Delta bereproduksi lebih cepat pada saluran pernapasan manusia, dan kecepatan reproduksinya dapat mencapai 1.000 kali lipat dari virus aslinya.

Para peneliti menganalisis 62 pasien yang didiagnosis dengan virus Delta di Provinsi Guangdong dari 21 Mei hingga 18 Juni. Kesimpulan di atas diperoleh melalui membandingkannya dengan mereka yang didiagnosis pada awal tahun 2020.

Virus varian Delta pertama kali ditemukan di India. Kini telah menyebar ke setidaknya 90 negara dan wilayah di seluruh dunia. WHO memperingatkan bahwa Delta dapat menjadi jenis epidemi utama di dunia. 

Selain kecepatan penyebaran yang lebih tinggi, penelitian Tiongkok sebelumnya juga menunjukkan bahwa tingkat patogenisitas atau kemampuan bakteri / virus menimbulkan penyakit dari virus Delta juga meningkat.

Karena mutasi virus, efektivitas banyak vaksin yang ada telah sangat berkurang. Menurut statistik dari Biro Kesehatan Inggris, bahkan setelah suntikan lengkap  vaksin AZ, tingkat perlindungan terhadap virus Delta hanya dapat mencapai 60%. Saat ini Pfizer dan BioNTech juga sedang bersiap untuk mengembangkan vaksin dosis ketiga terhadap Delta, atau mungkin menggunakan jenis vaksin baru.

Selain varian Delta, varian Lambda yang menyebar di Amerika Selatan juga dituding memiliki “mutasi yang abnormal”, hal mana menjadikan Peru salah satu negara dengan angka kematian tertinggi di dunia.  Kementerian Kesehatan Malaysia beberapa hari lalu mentweet bahwa virus varian ini lebih berbahaya daripada virus varian Delta. (Sin)

Share

Video Popular