Rezim Kuba mematikan internet, kata anggota Kongres AS dari Florida

Jack Phillips

Ribuan warga Kuba turun ke jalan-jalan pada  Minggu (11/7/2021) di sejumlah kota untuk aksi protes terhadap pelanggaran hak asasi manusia, kurangnya kebebasan, dan memburuknya situasi ekonomi di negara yang diperintah komunis tersebut.

Video-video yang diupload ke media sosial tampak menampilkan demonstrasi di sejumlah kota kecil dan kota besar, termasuk ibukota Kuba, Havana, pada  Minggu.

Para pengunjuk rasa, yang bernyanyi dalam bahasa Spanyol, mengatakan mereka “tidak takut” terhadap rezim yang dipimpin oleh Miguel Diaz-Canel, dan mengatakan mereka menginginkan akses ke  vaksin COVID-19 dan mengakhiri  rezim komunis di Kuba.

Demonstrasi melanda  di tengah laporan mengenai kekurangan gas, listrik, dan vaksin di seluruh negara kepulauan Karibia. Beberapa analis mencatat secara online bahwa demonstrasi-demonstrasi pada Minggu tersebut  adalah untuk pertama kalinya begitu banyak orang yang memprotes pemerintah Kuba sejak pemberontakan Maleconazo pada tahun 1994, yang mendorong sejumlah orang Kuba yang meninggalkan negara itu dengan kapal menuju Amerika Serikat.

 

Teriakan-teriakan “runtuhkan kediktatoran”, “kebebasan”, dan “tanah air dan kehidupan” juga terdengar selama demonstrasi-demonstrasi itu, menurut rekaman yang diunggah online.

Selama siaran langsung yang berbeda di Facebook, ribuan orang  terlihat berbaris melalui jalanan di kota-kota seperti San Antonio de los Baños, Guira de Melena, dan Alquízar, WTVJ-TV South Florida melaporkan.

“Saya baru saja berjalan melalui kota kecil untuk membeli makanan dan ada banyak  orang-orang di sana, beberapa dengan tanda, memprotes,” kata penduduk setempat Claris Ramirez melalui telepon.

“Mereka memprotes pemadaman, memprotes tidak ada obat,” Claris Ramirez menambahkan, lapor kantor berita Reuters.

Menanggapi demonstrasi-demonstrasi itu, Miguel Diaz-Canel menggemakan sebuah klaim yang sering diulang oleh pemerintah-pemerintah Marxis lainnya dan menyalahkan protes kampanye pihak asing yang  kotor  diprakarsai oleh Amerika Serikat.

“Perintah pertempuran diberikan, kaum revolusioner turun ke jalan-jalan,” kata Miguel Diaz-Canel di sebuah jaringan radio dan televisi milik pemerintah, tampaknya memerintahkan pasukan-pasukan keamanannya  untuk membubarkan para demonstran.

Senator Marco Rubio (R-Fla.), yang adalah keturunan Kuba, mencatat protes-protes tersebut  di Twitter.

“Protes-protes jalanan yang spontan pecah di beberapa kota di #Kuba saat ini dengan nyanyian #NoTenemosMiedo (Kami Tidak Takut),” tulis Senator Marco Rubio di sebuah tweet. 

“Frustrasi dengan ketidakmampuan kediktatoran, keserakahan dan represi meningkat dengan cepat.”

Senator Marco Rubio juga tampak memperhatikan pasukan-pasukan keamanan yang dikerahkan.

“Inilah regu represi Komunis di #Kuba … Sebagian besar masih ada yang diabaikan sejauh ini oleh outlet-outlet media perusahaan Amerika Serikat,” tulis Mario Rubio.

Anggota Kongres dari Florida Maria Elvira Salazar, putri dari orang yang diasingkan Kuba, mengatakan bahwa kini rezim Miquel Diaz-Canel mematikan internet di pulau itu.

Walikota Miami, Francis Suarez, juga putra orang yang diasingkan Kuba, di mana Miami memiliki sebuah  diaspora Kuba yang bermakna, menyerukan sebuah intervensi yang dipimpin Amerika Serikat.

“Orang-orang Kuba layak dan siap untuk memerintah dirinya sendiri tanpa tirani, Hal tersebut dapat berakhir hari ini dan harus berakhir hari ini. Implikasi-implikasi momen ini dapat berarti kebebasan bagi jutaan orang-orang di belahan bumi, dari Nikaragua dan Venezuela dan lebih banyak lagi,” kata Francis Suarez saat konferensi pers.  (Vv)

 

Share

Video Popular