Erabaru.net. Bayangkan Anda pulang ke rumah setelah seharian bekerja dan rumah Anda tidak lebih besar dari ruang kerja yang Anda tempati seharian . ‘Rumah peti mati’ Hong Kong tidak asing dengan konsep ini.

Ruang sempit dari rumah peti mati dengan sifatnya yang menyesakkan benar-benar membuat orang percaya bahwa mereka dikubur hidup-hidup.

Karena ekonomi Hong Kong yang meroket selama bertahun-tahun, biaya perumahan menjadi melonjak tinggi. Hal ini menyebabkan bagian masyarakat yang lebih miskin harus beradaptasi dengan perubahan gaya hidup yang tiba-tiba. Oleh karena itu, rumah peti mati muncul.

Rumah-rumah ini tidak lebih besar dari 50 meter persegi dan orang-orang yang tinggal di sana kebanyakan adalah pensiunan dengan pensiun kecil, pekerja miskin, pecandu narkoba atau orang dengan penyakit mental, orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan (warga yang berpenghasilan kurang dari 4,000 dollar Hongkong (sekitar Rp 7,4 juta ) per bulan, atau keluarga dengan empat orang dengan pendapatan rumah tangga di bawah 19.900 dollar Hongkong (sekitar Rp 37 juta) per bulan.

Biasanya, rumah peti adalah apartemen yang dibagi secara ilegal yang menampung sekitar 15 pemilik. Selain tempat tidur, dan perabotan lain yang dapat dijejalkan, penghuni berbagi kamar mandi dan dapur bersama, sebagian besar dalam kondisi tidak bersih. Mereka membayar hampir 2,400 dollar Hongkong (sekitar Rp 4,4 juta) per bulan untuk kotak-kotak padat yang menjadi rumah seseorang.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa di Universitas Hong Kong, beberapa bangunan dapat menampung hingga enam kali jumlah orang dari yang awal kamar itu dirancang. Hal ini meningkatkan kemungkinan wabah penyakit dan potensi insiden kebakaran.

Masalah rumah peti mati Hong Kong sering dicap sebagai krisis kemanusiaan dan kesehatan. PBB menyebutnya sebagai “penghinaan terhadap martabat manusia”.

Selain pertumbuhan ekonomi wilayah metropolitan, populasi yang menua dengan cepat merupakan faktor lain yang menambah situasi rumah peti mati di Hong Kong. Karena orang tua berjuang untuk memenuhi kebutuhan, mereka harus terpaksa hidup dalam kondisi tak bermartabat ini

Kota termahal di dunia ini telah menampung warganya yang miskin dengan cara yang paling tidak manusiawi.(lidya/yn)

Sumber: indiatimes

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular