Erabaru.net. Seorang ibu tunggal yang tinggal di Shandong menggunakan uang tabungannya dari berjualan bubur untuk membeli rumah, tetapi diejek oleh kerabat dan teman. Pada hari serah terima, dia duduk di rumah barunya dan menangis, dia membeli rumah sendiri dengan kerja kerasnya, tetapi mengapa mendapat perlakuan seperti itu.

Li Yun (nama samaran) putus sekolah ketika dia berusia 15 tahun. Karena pendidikannya yang rendah dan perempuan tidak bisa melakukan pekerjaan keras untuk mencari nafkah, dia pun hanya berjualan bubur.

Kebanyakan orang akan memakan bubur sebagai sarapan, jadi, untuk menghasilkan uang, Li Yun harus bangun lebih awal dari yang lain. Dia akan menyiapkan warung kecil untuk menjual bubur.

Pada awalnya, banyak kerabat merasa bahwa tidak pantas untuknya berjualan bubur di jalan dan pekerjaan itu juga tidak cocok untuk perempuan. Namun, Li Yun tetap gigih dan membuktikan kepada kerabatnya bahwa dia bisa.

Dia bekerja tanpa lelah setiap hari untuk berjualan bubur. Meskipun hidup sangat sulit, tetapi ada juga saat-saat bahagia untuknya. Li Yun pun menikah dan melahirkan seorang putri. Awalnya, dia berpikir bahwa dia akan dapat menjalani kehidupan yang bahagia, namun, dalam perjalanannya, pernikahannya berujung pada perceraian.

 

Li Yun yang sudah memiliki seorang putri tidak bisa membiarkannya menderita. Setelah melakukan banyak pertimbangan, dia memutuskan untuk memulai bisnis buburnya lagi.

Li Yun mengatakan bahwa ketika saat jualannya bagus, dia dapat menghasilkan 40.000 yuan dalam sebulan. Beberapa tahun kemudian, Li Yun berhasil mengumpul uang 1,35 juta. Dia pun memutuskan menggunakan uang itu untuk membeli rumah. Ketika kerabat dan teman mendengar tentang ini, mereka saling memberi selamat.

Li Yun juga dengan senang hati mengundang mereka untuk mengunjungi rumah itu. Awalnya, Li Yun mengira bahwa mereka akan menghargai kerja kerasnya tetapi tanpa diduga, mereka mengejek rumah Li Yun.

Setelah melihat rumah baru yang dibeli Li Yun, kerabat bertanya berapa banyak uang yang telah dihabiskannya dengan beberapa pujian. Setelah menceritakan detail harga, kerabat mulai mengeluh: “Rumahnya terlalu kecil dan lokasinya tidak bagus, tidak sepadan.”

Kata-kata ini sangat merasuk di hati Li Yun seperti pisau yang menancap. Setelah kerabatnya pulang, Li Yun duduk di rumah barunya, dan kata-kata mereka masih mengiang di telinganya, dia sekilas memikirkan kerja kerasnya selama bertahun-tahun untuk dapat membeli rumah dan tanpa sadar dia pun meneteskan air mata.

Li Yun saat itu sangat membutuhkan dukungan dari kerabat. Namun, alih-alih menghargai kerja kerasnya, kerabatnya malah mengejek hasil jerih payahnya. Sungguh menyedihkan, saya harap kita tidak memperlakukan kerabat kita seperti ini.(lidya/yn)

Sumber: viewinews

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular