Erabaru.net. Saya seorang pramugari dari sebuah maskapai penerbangan. Sejak saya bergabung dan bekerja selama beberapa tahun, saya tidak menemukan sesuatu yang berbeda. Saya hanya menyajikan teh setiap hari, melakukan pekerjaan kecil.

Tetapi satu hal yang terjadi hari itu membuat saya mengubah pandangan saya tentang pekerjaan dan kehidupan.

Ketika saya berada di penerbangan Shanghai-Beijing hari itu, ada banyak penumpang dan pesawat penuh terisi. Di antara orang-orang yang naik pesawat itu ada seorang pria tua yang sangat rendah hati dari pedesaan, membawa karung besar, dan tubuhnya memiliki bau khas orang desa.

Setelah pesawat mengudara, saya mulai menuangkan teh pada para penumpang, dan ketika saya sampai di tempat duduk pria itu, dia duduk di kursinya dengan sangat tenang. Karungnya tidak diletakan di rak bagasi. Orang tua itu memegang karungnya, sepintas terlihat seperti bola dunia yang menopang bumi seperti patung.

Ketika saya menawarkan minuman, dia melambaikan tangannya dan berkata tidak. Dia juga menolak ketika saya ingin meletakkan karung itu di bagasi. Karung itu terus dipegang olehnya.

Setelah beberapa saat, saat tiba waktunya untuk makan siang, saya melihatnya masih duduk tak bergerak di kursinya, terlihat gugup dan berkali-kali mengatakan “tidak” ketika saya menawarkan makan siang.

Jadi saya bertanya apakah dia sakit, dia berkata dengan suara pelan bahwa dia ingin pergi ke toilet, tetapi dia takut akan merusak barang-barang di pesawat jika dia berjalan di pesawat.

Saya mengatakan kepadanya bahwa tidak apa-apa, dan meminta pramugari laki-laki untuk menemaninya ke toilet.

Ketika saya menyajikan teh untuk kedua kalinya kepada para penumpang pesawat, saya melihat dia menelan ludah dan melihat penumpang yang sedang meminum teh, jadi saya menuangkan secangkir teh panas untuknya dan meletakkannya di atas mejanya tanpa diminta.

Tanpa diduga, tindakan itu membuatnya takut dan panik. Saya pun berkata kepadanya,: “Saya melihatmu haus, minum saja teh ini.”

Pada saat itu, dia langsung mengeluarkan segenggam uang dari tangannya dan diberikan kepada saya.

Saya mengatakan bahwa teh ini tidak dipungut biaya namun dia tidak percaya. Dia mengatakan bahwa ketika masuk restoran untuk meminta air. Tidak ada yang pernah memberikannya kepadanya. Mereka semua mengusirnya dengan perasaan jijik.

Baru kemudian kami tahu bahwa untuk menghemat uang, dia pergi berjalan kaki, sebelum naik mobil ke bandara.

Dia tidak punya banyak uang, jadi dia hanya bisa memesan sebotol air di restoran saat di jalan. Sayangnya, dia sering diusir karena mereka mengira dia sedang mengemis makanan.

Saya pun mencoba membujuknya dan akhirnya dia pun percaya, dia duduk dan meminum tehnya perlahan.

Saya bertanya apakah dia lapar dan ingin makan, dia terus mengatakan tidak. Dia juga mengatakan bahwa dia memiliki dua anak laki-laki. Anak bungsunya baru saja lulus ujian masuk perguruan tinggi dan anak sulung sudah bekerja.

Putra tertua yang sudah bekerja, ingin mengajaknya tinggal di kota, tetapi pria tua itu tidak terbiasa dengan kehidupan perkotaan. Dia hanya tinggal sebentar dan kembali ke pedesaan.

Kali ini dia datang ke Beijing untuk melihat putra bungsunya di perguruan tinggi.

Tiket pesawatnya itu dibelikan oleh putra sulungnya karena tidak ingin membebani ayahnya. Awalnya dia menolak karena dia belum pernah naik pesawat sebelumnya dan karena takut tidak tahu jalan, selain itu dia juga merasa tiket pesawat terlalu mahal.

Putra sulungnya terus menyuruhnya datang dan akhirnya dia pun setuju, dia juga membawa sekarung ubi kering untuk dimakan oleh putra bungsunya.

Pada pemeriksaan keamanan sebelum naik ke pesawat, staf bandara mengatakan bahwa karung itu terlalu besar dan harus diletakan pada bagasi pesawat tetapi dia menolak untuk menyerahkannya, dan mengatakan bahwa dia takut ubi keringnya menjadi hancur dan putra bungsunya tidak akan menyukainya lagi.

Saya pun memberitahunya bahwa barang yang diletakan dalam bagasi akan tetap aman, dia pun berdiri dengan waspada dan akhirnya meletakkannya dengan hati-hati.

Saya sering menuangkan teh untuknya selama penerbangan, dan dia mengucapkan terima kasih dengan sopan. Tapi dia masih bersikeras untuk tidak ingin makan, meskipun dia terlihat lapar.

Ketika pesawat hendak mendarat, dia dengan hati-hati bertanya apakah saya memiliki kantong plastik, dia meminta sebuah kantong plastik dan membungkus makanannya. Dia berkata bahwa dia belum pernah melihat makanan yang terlihat begitu lezat sebelumnya, dan dia ingin memberikan makanan itu untuk putra bungsunya.

Saya sangat terkejut, dan saya baru mengetahui alasan sebenarnya dia tidak ingin makan sepanjang waktu. Makanan yang saya lihat setiap hari itu sangat berharga di mata seorang lelaki tua dari desa itu. Walaupun lapar dia menolak untuk makan dan ingin memberikannya kepada putranya.

Saya pun mengemas makanannya dan juga makanan penumpang lain yang tidak dimakan dan memberikan padanya, tetapi dia menolak. Dia mengatakan bahwa dia hanya ingin menerima apa yang menjadi miliknya, dan tidak mau mengambil hak orang lain.

Saya sangat tersentuh oleh kepolosan orang tua itu. Meskipun itu bukan masalah besar, itu telah memberikan saya pelajaran yang mendalam.

Segera, penumpang turun dari pesawat dan dia juga akan turun, saya membantunya mengangkat karung ke gerbang keluar.

Saat barang itu saya letakkan, pria tua itu melakukan gerakan yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup: Dia berlutut di tanah dan sambil menangis pria tua itu berkat : “Kamu benar-benar orang baik. saya adalah orang desa yang hanya memakan satu kali sehari. Saya belum pernah minum air manis seperti itu dan melihat makanan yang begitu enak. Hari ini, kamu tidak memandang rendah pada saya, Anda memperlakukan saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana saya harus mengucapkan terima kasih.”

Dia berlutut dan menangis pada saat itu dan saya pun buru-buru membantunya berdiri. Saya juga menyuruh seorang pramugari untuk menenangkannya sebelum saya kembali ke pesawat untuk melanjutkan penerbangan.

Sejujurnya, saya telah melihat berbagai macam penumpang di pesawat selama saya bekerja sebagai pramugari selama 5 tahun, namun, saya belum pernah melihat seorang pun yang berlutut untuk saya.

Saya benar-benar tidak melakukan sesuatu yang istimewa, saya hanya menuangkan dua gelas teh untuk pria tua itu, namun pria tua yang berusia 70-an itu berlutut untuk berterima kasih kepada saya.

Saya benar-benar merasa malu pada diri saya sendiri, paman tua dari desa itu mengajari saya bagaimana hidup dengan baik dan jujur. (lidya/yn)

Sumber: epochtimes

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular