oleh Jennifer Zeng dan Jennifer Bateman

Penelitian dan eksperimen ilmiah yang melibatkan masalah etika harus terlebih dahulu melalui pengawasan komite etika. Tahun-tahun belakangan ini, Komunis Tiongkok telah melakukan banyak eksperimen di bidang biomedis dan rekayasa genetika yang melanggar batas etika manusia

Tiongkok mulai menerapkan Tinjauan Etis Penelitian Penelitian Biomedis yang Melibatkan Manusia pada  1 Desember 2016. Namun, 122 ilmuwan Tiongkok yang ikut menandatangani sebuah surat terbuka pada tahun  2018 untuk menentang bayi-bayi yang diedit-gen mengkritik tinjauan etika biomedis Tiongkok sebagai sebuah “kepalsuan.”

Di Amerika Serikat, karena peraturan etika dan moral pada penelitian binatang menjadi semakin ketat, anggaran dan pendanaan cenderung menurun beberapa tahun terakhir, menjadikan Tiongkok sebagai tempat yang paling menarik untuk  eksperimen-eksperimen semacam itu. 

Misalnya, pada tahun 2014, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan sebuah  jeda pendanaan penelitian manfaat-fungsi yang melibatkan coronavirus influenza,  coronavirus sindrom pernapasan akut yang parah (SARS), dan  coronavirus sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS). Pada tahun 2019,  Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat mengumumkan bahwa pihaknya akan berhenti  melakukan atau mendanai penelitian mengenai mamalia pada tahun 2035.

Pada tahun 2011, Partai Komunis Tiongkok menjadikan hal tersebut sebuah tujuan pembangunan nasional untuk menciptakan  model penyakit primata melalui kloning dan bioteknologi-bioteknologi lainnya. 

Berdasarkan Laporan Pengembangan Industri Biomedis Tiongkok tahun 2020 yang diterbitkan oleh Chinese Venture, “pasar biofarmasi secara keseluruhan di Tiongkok meningkat dari usd 28,7 miliar menjadi 49,6 miliar dolar AS dari tahun 2016 hingga 2019, dengan sebuah Compound annual growth rate –CAGR- sebesar 20 persen. Diharapkan mencapai 130,2 miliar dolar AS pada tahun 2025.”

Di bawah ini adalah empat eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuwan Tiongkok yang dipuji-puji media pemerintah sebagai “yang pertama di dunia.”

Eksperimen 1: Sebuah Model Tikus Jantan Hamil 

Pada 9 Juni, para peneliti dari Universitas Kedokteran Angkatan Laut Tiongkok menerbitkan sebuah  makalah pra-cetak mengenai “sebuah model tikus jantan hamil” di situs  yang tidak ditinjau rekan sejawat BioRxiv.

Makalah ini menjelaskan sebuah metode khusus untuk membuat seekor tikus jantan hamil dengan mengorbankan tiga ekor tikus betina.

  1. Pertama, seekor tikus jantan yang dikebiri dijahit saling membelakangi dengan seekor tikus betina, untuk menciptakan sebuah lingkungan-mikro betina untuk tikus jantan tersebut, membentuk  sepasang parabiotik heteroseksual.
  2. Rahim tikus betina yang lain ditransplantasikan ke tikus   jantan yang dijahit saling membelakangi dengan seekor tikus betina itu.
  3. Akhirnya, embrio-embrio tahap blastokista yang berkembang pada tikus betina ketiga ditransplantasikan ke dalam rahim cangkok dari parabion jantan dan  Rahim asli parabion betina.
  4. Setelah 21,5 hari, 27 dari 280 embrio jantan berkembang secara normal dan

10 anak tikus yang berkembang dengan baik dilahirkan melalui operasi caesar. Setidaknya 46 tikus jantan dan 138 tikus betina digunakan dalam eksperimen tersebut.

Portal web Tiongkok Sina, melaporkan kisah tersebut dengan judul “Apakah laki-laki masih jauh dari melahirkan?”, mengatakan bahwa “para ilmuwan Tiongkok telah melakukan sebuah keajaiban” dan “melanggar hukum alam universal sejak awal waktu.”

Namun, eksperimen tersebut dipertanyakan dan dikritik oleh beberapa orang ahli.

Emily McIvor, penasihat kebijakan ilmiah senior untuk People for the Ethical Treatment of Animals, menggambarkan eksperimen tersebut sebagai “keji.” Ia mengatakan bahwa binatang-binatang tidak boleh diperlakukan sebagai “benda-benda sekali pakai.”

“Binatang-binatang layak dihormati dan dibiarkan dalam damai, bukan dikembangbiakkan di laboratorium, dilakukan eksperimen terhadapnya, dan diperlakukan seperti benda-benda sekali pakai,” kata Emily McIvor kepada Mail Online.

“Melalui pembedahan menggabungkan dua tikus yang sensitif — yang mengalami mutilasi dan berminggu-minggu mengalami penderitaan yang berkepanjangan—–adalah tidak etis dan dalam ranah Frankenscience,” tambah Emily McIvor.

Emily McIvor juga mengatakan ia percaya bahwa “eksperimen-eksperimen yang mengejutkan ini didorong” semata-mata oleh rasa ingin tahu, bahkan tidak melakukan apa pun untuk memajukan pemahaman kita mengenai  sistem reproduksi manusia.”

Eksperimen 2: Embrio-Embrio Chimeric Manusia-Monyet

Pada  15 April, sebuah tim peneliti dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kunming di Yunnan, Tiongkok, dan Institut Salk untuk  Ilmu Pengetahuan Biologis di Amerika Serikat mempublikasikan sebuah makalah di situs web Cell, mengumumkan bahwa mereka telah berhasil menumbuhkan embrio chimeric manusia-monyet pertama kali di dunia, yaitu embrio dengan sel-sel turunan-manusia dan sel-sel turunan-monyet.

Para ilmuwan menyuntikkan sel-sel induk manusia ke dalam embrio-embrio monyet, dengan harapan organ-organ tersebut yang tumbuh di monyet-monyet dapat ditransplantasikan ke manusia-manusia. Hal ini telah menyebabkan kontroversi etika yang meluas.

Dr. Anna Smajdor, dosen dan peneliti etika biomedis di Fakultas Kedokteran Norwich Universitas East Anglia, mengatakan bahwa penelitian tersebut menimbulkan “tantangan-tantangan etika dan hukum yang bermakna.”

“Para ilmuwan di balik penelitian ini menyatakan bahwa embrio-embrio chimeric ini menawarkan peluang-peluang baru, karena ‘kami tidak dapat melakukan jenis eksperimen tertentu pada manusia.’ Tetapi yang dipertanyakan apakah embrio-embrio ini manusia atau bukan,” kata Dr. Anna Smajdor kepada BBC.

Prof. Julian Savulescu, direktur Pusat Uehiro Oxford untuk Etik Praktis  dan co-direktur Pusat Wellcome untuk Etika and Humaniora, Universitas Oxford, mengatakan kepada BBC bahwa penelitian itu “membuka kotak Pandora untuk chimera-chimera manusia-bukan-manusia.”

Namun, pemimpin proyek Tiongkok itu, akademisi Ji Weizhi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, mengatakan bahwa embrio-embrio chimeric manusia-monyet  baru saja menciptakan sebuah lingkungan tempat sel induk manusia dikembangkan, chimerisme-reproduksi tidak terjadi secara inheren, dan chimerisme-reproduksi adalah “jelas bukan sebuah hibrida manusia-monyet,” jadi chimerisme-reproduksi tidak memiliki masalah-masalah etika.

Pada tahun 2019, Laboratorium Negara Sel Induk dan Biologi Reproduksi di Beijing menciptakan “hibrida babi-monyet” yang pertama dengan menambahkan sel-sel monyet kepada embrio-embrio babi.

Kedua hibrida itu, mati setelah dua minggu dan penelitian tersebut dikritik oleh para ilmuwan dari seluruh dunia karena mengejutkan secara moral dan etis.

Eksperimen 3: Bayi-Bayi yang Diedit-Gen

Pada Desember 2018, ilmuwan Tiongkok He Jiankui mengumumkan di sebuah  konferensi akademik di Hong Kong kelahiran bayi kembar perempuan yang diedit-gen yang “kebal terhadap AIDS.” He Jiankui mengklaim itu adalah kasus pertama di dunia.

He Jiankui mengatakan timnya menggunakan teknologi CRISPR untuk “mengedit” gen CCR5 di embrio-embrio, sehingga bayi-bayi mungkin memiliki sebuah kemampuan alami untuk melawan AIDS di masa depan.

Kasus ini memicu kecaman luas dari  komunitas ilmuwan di seluruh dunia, di mana para ahli prihatin bahwa mengubah genom sebuah embrio dapat menyebabkan kerusakan yang tidak terduga, tidak hanya pada makhluk individu yang  dimodifikasi, tetapi juga kepada generasi mendatang yang meneruskan perubahan yang sama.

Krishanu Saha, seorang bioengineer di Universitas Wisconsin–Madison, seorang anggota sebuah kelompok yang menyelidiki keamanan teknologi, mengatakan kepada BBC, “Jadi, katakanlah kita menyuntikkan sebuah editor genom ke otak untuk menargetkan sel-sel saraf di hipokampus,” tambahnya, “bagaimana kita memastikan bahwa editor-editor genom itu tidak melakukan perjalanan ke  organ-organ reproduksi dan berakhir sampai mengenai sebuah sperma atau telur? Maka individu itu berpotensi meloloskan editan tersebut kepada anak-anaknya.”

Sebuah komite internasional lembaga-lembaga ilmiah yang menyelidiki masalah yang merilis sebuah laporan pada tanggal 3 September 2020, mengatakan bahwa setelah genom sebuah embrio manusia diedit, genom tersebut tidak boleh digunakan untuk reproduksi sampai ada bukti kuat bahwa perubahan-perubahan genomik pada sperma orang, yang selamat dapat mengarah pada hasil-hasil yang dapat diandalkan dan tidak menyebabkan perubahan-perubahan yang tidak diinginkan. Tidak ada  teknologi editing genom yang mampu memenuhi standar ini.

Bahkan di Tiongkok, sebanyak 122 ilmuwan menandatangani sebuah surat terbuka yang memperingatkan mengenai risiko-risiko eksperimen semacam itu dan mengkritik pihak-pihak berwenang “tinjauan biologis etis” sebagai sebuah kepalsuan.”

Pihak-pihak berwenang Tiongkok membuka sebuah penyelidikan tidak lama setelah berita itu diumumkan, mengatakan bahwa ada masalah-masalah dengan dokumen-dokumen tinjauan etik  yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Corong Partai Komunis Tiongkok, People’s Daily juga mengubah nadanya setelah memuji penelitian tersebut sebagai sebuah “terobosan bersejarah,” dan menerbitkan sebuah artikel berjudul “Perkembangan Teknologi Tidak Dapat Mengabaikan Etika.”

Pada 30 Desember 2019, sebuah pengadilan Tiongkok memutuskan dalam sebuah persidangan rahasia. bahwa He Jiankui akan menghabiskan tiga tahun di penjara dan membayar denda 430.000 dolar AS. Karena “secara ilegal” melakukan eksperimen-eksperimen mengedit gen embrio manusia.” Dua orang lainnya yang  terlibat juga dihukum.

Eksperimen 4: Eksperimen Gain-of-Function pada Coronavirus

“Wanita Kelelawar” Shi Zhengli, seorang ilmuwan di Institut Virologi Wuhan di Tiongkok, memicu sebuah perdebatan etika dan moral dengan melakukan eksperimen Gain-of-Function atau manfaat-fungsi selama penelitiannya mengenai virus Komunis Tiongkok, yang menyebabkan COVID-19.

Pada tahun 2015, Shi Zhengli, bersama dengan kolaboratornya, menerbitkan sebuah makalah di jurnal Nature Medicine mengenai rekayasa genetik sebuah coronavirus kelelawar yang mirip virus SARS (SARS-CoV) untuk memungkinkan virus tersebut, menginfeksi manusia dengan  infektivitas yang lebih besar.

Penelitian manfaat-fungsi ini, di mana virus tersebut direkayasa secara genetik untuk membuat virus tersebut menjadi lebih ganas atau menular, sama dengan penciptaan sebuah strain baru dari virus tersebut yang diperkirakan menyebabkan sebuah wabah pada manusia, yang disebut “patogen potensial pandemi.”

Setelah publikasi artikel tersebut, banyak ilmuwan di seluruh dunia mempertanyakan potensi bahaya dan masalah etika eksperimen tersebut.

Karena risiko yang meluas atau bahkan penyebaran patogen virus ke seluruh dunia yang dapat dihasilkan dari penelitian manfaat-fungsi/patogen potensial pandemi jauh melebihi manfaat dari penelitian tersebut, penelitian semacam itu telah meningkatkan kekhawatiran etika yang luas  dan dianggap tidak sesuai dengan persyaratan Kode Nuremberg  untuk prinsip etika yang luas dari “hasil yang bermanfaat untuk kebaikan masyarakat, tidak dapat diperoleh dengan metode lain,” dan proporsionalitas risiko untuk kepentingan kemanusiaan.

Pada tahun 2014, pemerintah Amerika Serikat menangguhkan pendanaan untuk penelitian patogen potensial pandemi yang melibatkan influenza, coronavirus Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS), dan coronavirus Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS).

Pada Agustus 2020, Michael J. Imperiale, profesor di Departemen Mikrobiologi dan Imunologi di Universitas Michigan, dan Arturo Casadevall, profesor dan ketua Departemen Molekuler Mikrobiologi dan Imunologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg, menulis bersama sebuah artikel yang mengatakan bahwa “kami tidak khawatir dengan gagasan eksperimen-eksperimen manfaat-fungsi yang jelas dan nyata … Sebaliknya, kami secara khusus berbicara mengenai eksperimen yang melibatkan patogen-patogen pandemi.”

Mereka menambahkan, “Seseorang seharusnya tidak melakukan eksperimen manfaat-fungsi hanya untuk ‘melihat apa yang akan terjadi’ tanpa bukti kuat bahwa hal itu dapat  terjadi secara alami. Dengan kata lain, hanya karena sebuah eksperimen dapat dilakukan, bukan berarti eksperimen itu harus dilakukan.”

Dalam sebuah email ke New York Times pada tanggal 15 Juni, Shi Zhengli berpendapat bahwa  eksperimen yang ia lakukan berbeda dari manfaat-fungsi, karena tujuan Shi Zhengli bukan untuk membuat virus tersebut menjadi lebih berbahaya tetapi untuk memahami bagaimana penyebaran virus tersebut lintas spesies.

Dr. Sean Lin, mantan direktur laboratorium cabang penyakit virus dari  Institut Penelitian Walter Reed Army, mengatakan kepada The Epoch Times edisi Mandarin, bahwa eksperimen lintas spesies itu sendiri akan menciptakan virus-virus baru yang tidak ditemukan di alam, yang membuat virus-virus baru tersebut tidak hanya lebih ganas atau menular, tetapi juga membantu virus bermutasi dan menyebabkan mutasi lintas spesies. (Vv)

 

Share

Video Popular