Luo Tingting 

Vaksin buatan Tiongkok terlalu rendah kemanjurannya melawan virus varian COVID-19. Para ahli mendesak orang-orang Tiongkok untuk memberikan suntikan vaksin asing sesegera mungkin. Para ahli juga memperingatkan bahwa ini “sangat mendesak.”

Baru-baru ini, virus varian Komunis Tiongkok, Delta menyebar luas di seluruh dunia, dan semua negara meningkatkan vaksinasi untuk mencegah epidemi. Namun, efektivitas vaksin Tiongkok terhadap virus Delta terlalu rendah dan dipertanyakan oleh dunia luar.

Sebelum munculnya varian virus Delta, kedua vaksin Sinopharm dan Sinovac efektivitas jauh lebih rendah dibandingkan yang dikembangkan oleh negara-negara Barat seperti Pfizer di Amerika Serikat dan AstraZeneca di Inggris.

Sebuah penelitian di Brasil menemukan bahwa efektivitas vaksin Sinovac Tiongkok hanya 50,4%, yang mendekati ambang batas minimum 50% yang dipersyaratkan oleh WHO. Sebaliknya, tingkat efektif vaksin Pfizer  Amerika Serikat mencapai 97%.

Pada 12 Juli, Komite Nasional Penyakit Menular Thailand mengumumkan bahwa, karena efek buruk dari vaksin Sinovac pada varian Delta, dosis booster AstraZeneca akan diberikan kepada staf medis garis depan yang sebelumnya telah menerima dua dosis vaksin buatan Tiongkok itu.

Menteri Kesehatan Malaysia Datuk Seri Aham Baba Xuan mengumumkan pada konferensi pers pada 15 Juli, bahwa vaksin Tiongkok Sinovac tidak akan lagi dimasukkan dalam rencana vaksinasi nasional. Vaksin Pfizer akan menjadi vaksin utama di Malaysia.

Epidemi di Malaysia parah, dengan lebih dari 10.000 kasus baru yang dikonfirmasi selama beberapa hari, total 893.323 kasus yang dikonfirmasi, dan total 6.728 kasus kematian.

Dr. Amesh Adalja seorang peneliti senior di Pusat Keamanan Kesehatan Universitas Hopkins. mengatakan kepada VOA News: “Apa yang kami lihat adalah bahwa vaksin Tiongkok tampaknya tidak seefektif vaksin yang diproduksi oleh Modena, Pfizer, Johnson & Johnson dan AstraZeneca.”

Jin Dongyan, seorang profesor dan ahli virologi di Fakultas Kedokteran Li Ka-shing di Universitas Hong Kong, juga mengatakan bahwa efisiensi vaksin Tiongkok terhadap varian virus Komunis Tiongkok kemungkinan akan turun di bawah 50%. Ini “sangat mendesak” untuk menindaklanjuti dengan booster suntikan .

Jin Dongyan berkata, “antibodi dan efektivas vaksin yang diproduksi oleh vaksin domestik Tiongkok lebih rendah daripada vaksin Pfizer dan Modena…sekitar 10 hingga 20 kali lebih rendah, dengan kata lain, relatif lemah.”

Ketika divaksinasi ke tubuh orang, terutama orangtua, “antibodi tidak terdeteksi sama sekali.” Jin Dongyan mengatakan bahwa vaksin Sinopharm Tiongkok, lebih serius daripada vaksin Sinovac dalam hal antibodi yang tidak terdeteksi.

Selain itu, perlindungan berbagai vaksin terhadap varian virus akan berkurang, dan masih belum diketahui berapa lama vaksin Tiongkok akan bertahan.

Jin Dongyan mengatakan bahwa kekuatan perlindungan asli dari vaksin Tiongkok hanya 50-60%, jika dikurangi 30% seperti Pfizer, itu tidak akan memiliki kekuatan pelindung sama sekali.

Meskipun kemanjuran vaksin Tiongkok rendah, pihak berwenang Tiongkok belum memasukkan vaksin Barat ke Tiongkok.

Fosun Pharma adalah agen vaksin messenger ribonucleic acid -mRNA- yang dikembangkan bersama oleh perusahaan bioteknologi Jerman BioNTech dan Pfizer Pharmaceuticals di Tiongkok, Hong Kong, Makau, dan Taiwan. Dengan kata lain, vaksin Pfizer akan dipasarkan di Tiongkok dengan nama Comirnaty atau “Fubitai”.

Fosun Pharma telah memperoleh pengembangan dan hak keagenan vaksin Comirnaty pada awal Maret 2020, tetapi belum disetujui. Kemudian pada  15 Juli Fosun Pharma menyatakan kepada publik bahwa tinjauan “Comirnaty ” oleh Administrasi Obat Negara Komunis Tiongkok pada dasarnya telah selesai, tinjauan ahli telah disahkan, dan saat ini sedang dalam proses administrasi tahap peninjauan.

Jin Dongyan mengkritik Komunis Tiongkok karena bermain dengan prosedur administratif, “mereka takut berdampak pada vaksin domestik.”

Dia mengatakan, “Comirnaty telah disetujui di mana-mana di dunia, dan itu pasti lebih efektif daripada semua vaksin yang ada di Tiongkok … efektivitasnya akan lebih efektif. Tiongkok tidak mengizinkan hanyalah penundaan.

Beberapa hari terakhir, otoritas Komunis Tiongkok sedang melakukan kampanye vaksinasi, mewajibkan pejabat publik, pensiunan, personal industri jasa, dan pelajar untuk divaksinasi di Tiongkok. Jika tidak, mereka akan menghadapi penangguhan upah, penangguhan pekerjaan, larangan pergi ke sekolah, dan larangan memasuki tempat-tempat umum, Sanksi seperti tidak diperbolehkan naik transportasi. Orang-orang yang tidak divaksinasi hampir tidak bisa bergerak.

Namun demikian, warga daratan Tiongkok sangat khawatir dengan keamanan vaksin dalam negeri, banyak netizen mengungkapkan bahwa beberapa kerabat dan teman mereka yang divaksinasi mengalami demam, reaksi merugikan, dan bahkan kematian. Namun para pejabat berusaha menutupinya dan melarang membahas informasi ini. (hui)

Share

Video Popular