Erabaru.net. TianTian adalah seorang gadis berusia 3 tahun yang baru saja masuk ke kelas taman kanak-kanak kecil. Saat sekolah usai, ibu dan ayah sudah menunggunya di pintu sekolah, tapi pada hari itu, Tian Tian sudah lama menunggu, namun orangtuan belum juga muncul dan semua anak sudah pulang.

Guru latnas menghubungi orangtua Tiantian. Ibunya mengatakan bahwa dia sangat sibuk dan meminta guru untuk menghubungi ayah Tiantian. Ayah Tiantian menjawab telepon dan mengatakan bahwa dia sedang bertemu klien dan meminta guru untuk menghubungi ibu Tiantian. Setelah guru mengatakan bahwa ibu Tiantian memintanya untuk menghubunginya, ayah Tiantian mengatakan akan menjemputnya.

Setelah agak lama menunggu, dan ayahnya belum juga datang, kemudian, guru menghubungi orangtua Tian Tian lagi dan menemukan bahwa handphone mereka semua dimatikan, dia kemudian mengajak Tiantian untuk makan malam, dan menunggu hingga sampai jam 8. Melihat Tian Tian yang tampak sedih, guru tidak punya pilihan selain mengantar anak itu kembali ke rumahnya.

Apa yang tidak disangka oleh guru adalah orangtua Tian Tian tidak ada di rumahnya, dan mereka tidak dapat dihubungi sama sekali. Dengan terpaksa guru membawanya pulang ke rumahnya, dan selama 3 hari orangtua Tina Tian belum juga datang untuk menjemputnya.

Pada malam hari ketiga, guru secara tidak sengaja menemukan catatan di tas sekolah Tiantian, dan matanya langsung memerah setelah membacanya.

Catatan itu ditinggalkan oleh ibu Tiantian, dan berbunyi: “Guru, tolong urus Tian Tian karena saya dan ayah Tiantian sedang berurusan dengan perceraian. Maaf, saya telah menyusahkan Anda untuk mengurusnya akhir-akhir ini. .”

Setelah melihatnya, sang guru merasa sangat tidak berdaya, dia merasa tertekan tetapi juga membenci orangtua yang tidak bertanggung jawab seperti itu, dan akhirnya memilih untuk memanggil polisi.

Setelah polisi turun tangan, orangtua Tiantian akhirnya muncul, tetapi mereka semua bersikap acuh tak acuh kepada satu sama lain, dan mereka juga tidak menginginkan Tiantian, tetapi bersikeras menunggu putusan pengadilan untuk melihat siapa yang akan membesarkan Tiantian pada akhirnya.

Jelas mereka adalah anak kandung. Namun, orangtuanya seperti tidak peduli kepadanya. Orangtua yang tidak bertanggung jawab seperti itu benar-benar keterlaluan. Ditambah penceraian yang dilakukan aka benar-benar akan berdampak besar pada anak-anak.

Bagaimana perceraian orangtua dapat berdampak pada anak-anak?

 

1. Informasikan terlebih dahulu

 

Banyak orangtua yang memilih untuk bercerai berpikir bahwa anak-anak mereka tidak perlu terlibat dengan urusan orang dewasa atau karena tidak ingin anak-anak mereka merasa tidak bahagia, mereka memilih untuk tidak memberitahu anak-anak mereka.

Beberapa orangtua selalu membohongi anak-anaknya dengan dengan mengatakan seperti: “Ayah telah pergi jauh.” Atau “Ibu akan bepergian untuk waktu yang lama.”. Jelas bahwa kebohongan semacam ini tidak bertahan lama dan hanya akan merenggangkan hubungan antara anak dan orangtua.

2. Tentukan terlebih dahulu hak kepemilikan

Jika pasangan benar-benar tidak dapat melanjutkan dan memilih untuk bercerai. Sebaiknya mereka memberi tahu anak terlebih dahulu dan mengatakan kepadanya,: “Meskipun Ayah dan Ibu berpisah, kami berdua mencintaimu dan akan mencintaimu seperti kami sekarang.” Ini akan memungkinkan anak untuk memahami dan tidak akan melukai perasaan anak.2. Tentukan terlebih dahulu hak kepemilikan

Sebelum pasangan bercerai, mereka harus mempertimbangkan masalah keuangan, waktu, tenaga, dan lainnya, dan terlebih dahulu menentukan masalah hal asuh anak. Jangan menunggu anak untuk memilih, atau menunggu pengadilan memutuskan, hal ini secara kasat mata akan menimbulkan banyak tekanan atau perasaan tidak nyaman bagi anak.

 

Untuk membuat anak bahagia, apa yang harus dilakukan orang tua ?

1. Ciptakan rumah yang bahagia untuk anak-anak

Keharmonisan orangtua merupakan faktor terpenting dalam menciptakan rasa bahagia bagi anak, baik kasih sayang ayah maupun kasih sayang ibu sangat diperlukan bagi anak.

2. Beri anak rasa aman yang cukup

Anak merasa minder, takut dengan lingkungan yang tidak dikenal, dan takut orangtua tidak menginginkan dirinya sendiri, semua ini bermula dari rasa kepedulian orangtua terhadap anaknya. Berikan anak rasa aman yang cukup untuk memungkinkan mereka beradaptasi dengan masyarakat

3. Dorong dan dukung anak-anak

Anak-anak akan selalu menghadapi kesulitan dan kemunduran dalam proses tumbuh kembangnya. Ketika menghadapi kesulitan, orangtua harus memberi mereka dorongan dan dukungan yang cukup, yang merupakan mata rantai terpenting bagi anak untuk membangun kepercayaan diri.

Karena anak-anak diberi kehidupan, orangtua harus bertanggung jawab dan merawat anak-anaknya. (lidya/yn)

Sumber: happy

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular