Isabel Van Brugen

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia  (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada Kamis 15 Juli bahwa adalah “terlalu dini” untuk mengesampingkan kemungkinan  bahwa COVID-19 dapat muncul dari sebuah laboratorium di Wuhan, Tiongkok, tanpa bukti yang cukup.

Balik lagi pada sebuah laporan WHO pada bulan Maret yang menetapkan   hipotesis teori kebocoran laboratorium COVID-19 adalah “sangat tidak mungkin,” kata Tedros berdasarkan  pengalamannya sebagai seorang teknisi laboratorium dan ahli imunologi, “kecelakaan-kecelakaan laboratorium terjadi.”

“Saya telah bekerja di laboratorium, dan kecelakaan-kecelakaan laboratorium terjadi,Itu adalah umum” kata Tedros kepada para wartawan. 

Dalam beberapa bulan terakhir, teori bahwa virus Komunis Tiongkok  adalah hasil sebuah kebocoran dari Institut Virologi Wuhan telah memperoleh liputan yang lebih luas, sebagai sebuah kecenderungan kemungkinan di media mapan karena sejumlah ilmuwan dan pejabat mendiskusikan bukti yang mendukung hipotesa tersebut.

COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus  Komunis Tiongkok, pertama kali dilaporkan di kota Wuhan di Tiongkok.

Sebuah lembar fakta Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada bulan Januari, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah wabah bisa saja akibat dari sebuah kecelakaan laboratorium di Institut Virologi Wuhan. Lembar fakta tersebut mengatakan 

Amerika Serikat memiliki “alasan untuk percaya” bahwa beberapa peneliti Institut Virologi Wuhan, jatuh sakit sakit dengan gejala yang konsisten dengan COVID-19 maupun penyakit-penyakit musiman biasa  di musim gugur 2019.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat juga mengatakan bahwa laboratorium tersebut telah melakukan eksperimen-eksperimen militer yang bersifat rahasia pada binatang-binatang setidaknya sejak tahun 2017, dan memiliki sebuah sejarah  melakukan penelitian manfaat-fungsi pada virus. Penelitian semacam itu melibatkan memodifikasi virus untuk memiliki kemampuan baru atau kemampuan yang ditingkatkan.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada  26 Mei, memerintahkan komunitas intelijen untuk menghasilkan sebuah laporan dalam 90 hari mengenai asal usul virus tersebut, mengatakan bahwa badan-badan intelijen  melihat teori-teori yang berbeda, termasuk kemungkinan sebuah kecelakaan laboratorium di Tiongkok.

“Memeriksa apa yang terjadi, terutama di laboratorium-laboratorium kami, adalah penting” untuk menentukan apakah virus tersebut berasal dari Institut Virologi Wuhan, kata Tedros.

“Kami membutuhkan informasi, informasi langsung mengenai bagaimana situasi laboratorium ini sebelum dan pada awal pandemi,” kata kepala Organisasi Kesehatan Dunia itu, menambahkan bahwa adalah  penting bagi Beijing untuk bekerja sama dalam masalah ini.

“Jika kami mendapatkan informasi lengkap, kami dapat mengecualikan hal tersebut,” kata Tedros, merujuk pada  hipotesis kebocoran laboratorium. 

Bagi Tedros, Dalam wabah apa pun, anda pergi dan memahami asal-usulnya. Kita perlu tahu apa yang terjadi untuk mencegah wabah yang berikutnya. Tedros mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia menyerukan rezim Tiongkok untuk lebih transparan saat para ilmuwan menyelidiki asal usul virus tersebut.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu, “meminta agar Tiongkok benar-benar transparan, terbuka dan bekerja sama, terutama mengenai informasi, data mentah yang kami minta di hari-hari awal pandemi.

“Saya pikir kita berutang kepada jutaan orang yang menderita dan jutaan orang yang meninggal untuk benar-benar memahami apa yang terjadi,” tambah Tedros.

Rezim Tiongkok telah berulang kali mengutip ungkapan “sangat tidak mungkin” dari laporan WHO untuk mengarahkan penyelidikan sebuah virus ke negara-negara lain. Laporan awal itu berpegang pada sikap yang disukai Beijing mengenai asal virus tersebut. Beijing telah mendorong sebuah hipotesis zoonosis alami—–bahwa virus tersebut telah menular ke manusia dari seekor pejamu binatang.

Banyak outlet-outlet media mengubah narasinya mengenai teori kebocoran laboratorium, karena teori tersebut mendapatkan daya tarik.

PolitiFact, misalnya, pada 24 Mei secara diam-diam mencabut sebuah periksa fakta pada September 2020  yang melabel klaim seorang ahli virologi Hong Kong, bahwa virus itu berasal dari sebuah laboratorium sebagai sebuah teori yang tidak akurat dan “teori konspirasi yang dibantah.”

The Washington Post juga secara diam-diam menarik kembali klaimnya terkait  teori kebocoran laboratorium.

Beberapa wartawan mengatakan, bahwa mereka mengabaikan teori kebocoran laboratorium karena anggota Partai Republik sebagian besar adalah orang-orang yang mempromosikan gagasan itu.

Outlet-outlet lain juga telah mengoreksi atau memperbarui cerita-cerita secara diam-diam, termasuk Vox, sementara Facebook berhenti mencekal postingan yang menyatakan virus tersebut adalah buatan manusia. (Vv)

Share

Video Popular