Epochtimes.com

Banjir akibat pembukaan pintu air bendungan yang tanpa pemberitahuan lebih awal telah merenggut banyak nyawa manusia selain harta benda penduduk. Setelah banjir surut, jalanan menjadi kacau, seperti pemandangan usai perang. Dari video-video yang diunggah publik, terlihat ada jenazah korban yang tergeletak di jalan. Cukup mengenaskan.

Pada 20 Juli, Kota Zhengzhou, Provinsi Henan dilanda banjir besar. Air bah yang alirannya deras menghanyutkan pejalan kaki, serta mobil-mobil baik yang diparkir maupun berjalan. Kejadian itu  menimbulkan banyak korban dan orang hilang. Dari video yang diunggah masyarakat dapat terlihat bahwa setelah banjir surut, banyak ditemukan korban tewas baik di jalan-jalan, stasiun kereta bawah tanah, maupun tempat-tempat lain.

Rekaman video menunjukkan bahwa Kota Mihe yang berada di bawah yurisdiksi Kota Gongyi, Zhengzhou, jalanannya penuh dengan lumpur, dan berbagai mobil yang hanyut menumpuk di banyak tempat. Ada yang malang melintang di depan toko, bercampur dengan pohon yang tumbang, batu bata dan ubin. Pandangannya mirip usai perang.

“Terkejut melihat mayat yang tergeletak di jalan”, komentar seorang netizen di jejaring sosial.

Pada 21 Juli pihak berwenang Henan melaporkan bahwa hujan lebat baru-baru ini menyebabkan 25 orang tewas dan 7 orang kehilangan kontak, termasuk 12 orang yang meninggal di Jalur kereta bawah tanah ‘Metro 5’. 

Namun, menurut laporan Radio Free Asia pada 20 Juli, di jalur ‘Metro 5’ saja sekurangnya 20 orang telah tewas dan banyak korban yang belum ditemukan.

Di saat wabah komunis Tiongkok (COVID-19) sedang menyebar luas, banjir besar di Provinsi Henan ini kian menambah kekhawatiran masyarakat tentang wabah baru pasca banjir.

Sebelum bencana banjir itu terjadi, pihak berwenang tidak memberikan peringatan dini sebelum membuka pintu bendungan untuk membuang kelebihan daya tampung air akibat hujan deras yang mengguyur. 

Selain itu, pihak berwenang juga tidak melakukan adanya penyelamatan yang efektif ketika bencana terjadi, sehingga warga terpaksa mengatur penyelamatan masing-masing dalam keadaan mendesak. 

Setelah banjir surut, penyelamat sipil pun hanya mampu menggunakan alat sederhana untuk mencari para korban melalui sejumlah besar mobil yang terendam air, mencoba menemukan pengemudi yang masih memiliki tanda-tanda kehidupan.

Banyak netizen bertanya-tanya bagaimana mungkin kota sebesar Zhengzhou tiba-tiba menjadi seperti ini hanya karena hujan lebat ? “Begitu besarnya debit air, jika saat itu tidak disebabkan oleh jebolnya tanggul atau bendungan, maka dapat dipastikan itu karena bendungan di hulu yang tiba-tiba membuka pintu air untuk membuang kelebihan daya tampung”. “Ini adalah bencana akibat ulah manusia! Terlalu sembrono dalam membuka pintu air bendungan !”

Melalui akunnya di Weibo, pusat pencegahan bencana resmi Zhengzhou ‘Zhengzhou Fabu’ pada 21 Juli pukul 1 dini hari menyebutkan bahwa pintu air bendungan di hilir sungai sudah dibuka pada 20 Juli pukul 10:30 pagi. Tercatat hingga pukul 21:34, ketinggian air di bendungan Changzhuang adalah 130,54 meter, sudah turun sebanyak 70 cm dari batas air banjir yang 3,05 meter.

Radio Free Asia melaporkan bahwa banyak orang mempertanyakan mengapa pihak berwenang membuka pintu air untuk menurunkan ketinggian air bendungan pada pagi hari dan baru mengeluarkan pemberitahuan pada larut malamnya ? Miss Wang, seorang penduduk Zhengzhou mengatakan bahwa, karena pihak berwenang tidak mengeluarkan peringatan dini sebelum membuka pintu air, sehingga kereta bawah tanah pun terus beroperasi seperti biasa dan menghadapi akibat yang fatal. 

“Pada 20 Juli sekitar pukul 5 atau 6 sore  aliran air banjir tiba-tiba meningkat. Aneh bukan ! Di waktu-waktu sebelumnya, permukaan air akan naik secara perlahan saat kota diguyur hujan lebat. Dan, tidak akan separah itu hanya dalam waktu satu jam. Banyak orang tidak siap menghadapi banjir, bahkan kereta bawah tanah pun tidak menghentikan pengoperasiannya”, kata Miss Wang.

Ada juga warga Zhengzhou yang mengambil gambar situasi banjir di pusat kota pada siang hari tanggal 20 Juli. Seluruh jalan tiba-tiba tergenang banjir hanya dalam waktu setengah jam, membuktikan bahwa banjir itu bukan disebabkan oleh derasnya hujan yang turun selama beberapa hari, tetapi lebih karena banjir kiriman.

Seorang warganet menulis : Warga Zhengzhou sedang menangis, berteriak dan putus asa! (sin)

 

Share

Video Popular