Mimi Nguyen Ly

Sekelompok anggota parlemen internasional mengeluarkan  pernyataan untuk mengecam kekejaman hak asasi manusia oleh Partai Komunis Tiongkok pada malam hari peringatan anti penganiayaan ke-22 terhadap latihan spiritual Falun Gong di Tiongkok.

“Dua puluh dua tahun  lalu, Partai Komunis Tiongkok memulai sebuah kampanye penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong,” kata Inter-Parliamentary Alliance on China (IPAC) yang lintas-partai di seluruh dunia  pada 19 Juli 2021. 

“Kami mengambil  peringatan yang khidmat ini untuk mengingat semua etnis dan agama minoritas yang  dianiaya oleh pemerintah Tiongkok, termasuk umat Buddha Tibet, umat Kristen dan orang-orang Uyghur dan kelompok-kelompok Muslim lainnya  yang mayoritas orang-orang Turki,” demikian pernyataan IPAC. 

IPAC adalah sebuah koalisi legislator yang berfokus pada  pendekatan  yang diambil oleh negara-negara demokratis untuk menghadapi  Komunis Tiongkok yang tidak liberal dan memperluas pengaruh secara global.  Didirikan pada Juni 2020, koalisi ini terdiri dari lebih dari 100 politikus dari 20 negara.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan kultivasi yang pertama kali diperkenalkan ke masyarakat di Tiongkok oleh pendiri Falun Gong tuan Li Hongzhi pada tahun 1992. Praktik ini melibatkan ajaran berdasarkan prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, serta lima perangkat latihan termasuk meditasi. Kini Falun Gong dipraktikkan oleh jutaan orang di lebih dari 110 negara.

IPAC dalam pernyataannya menyerukan perhatian global terhadap ratusan ribu praktisi Falun Gong yang ditangkap dan diganggu atau disiksa di Tiongkok, sejak Komunis Tiongkok memulai penganiayaan brutalnya pada 20 Juli 1999.

Penganiayaan ini dipicu oleh mantan kepala Partai Komunis Tiongkok Jiang Zemin, yang memerintahkan agar Falun Gong dilarang dan diberantas. 

Jiang Zemin juga memerintahkan pendirian Kantor “610”, dengan fungsi tunggal untuk menganiaya dan memberantas Falun Gong. Badan yang kebal hukum itu, yang dibentuk pada tanggal 10 Juni 1999, diberi wewenang untuk mengesampingkan polisi dan pengadilan di Tiongkok.

Para peneliti di Amerika Serikat meminta para pemimpin untuk mengakui penganiayaan terhadap Falun Gong oleh Partai Komunis Tiongkok sebagai genosida.

“Genosida adalah penghancuran sebagian komunitas agama, misalnya, dengan maksud untuk membasminya, dan saya tidak berpikir ada keraguan apa yang  telah terjadi beberapa dekade terakhir ini terhadap Falun Gong memenuhi kriteria itu,” kata Nina Shea, rekan senior dan Direktur Pusat Kebebasan Beragama di   Institut Hudson pada rapat umum di Washington pada 16 Juli.

Banyak praktisi Falun Gong yang dipenjara telah menjadi “sasaran untuk   bentuk-bentuk penyiksaan yang paling parah” dalam upaya-upaya untuk memaksa praktisi Falun Gong melepaskan keyakinannya, IPAC menyatakan.

“Khususnya yang memprihatinkan adalah laporan-laporan panen organ secara paksa dari  praktisi Falun Gong dan tahanan hati nurani di Tiongkok,” tambah IPAC. Wadah itu mencatat bahwa analisis oleh sebuah pengadilan rakyat independen, yang dikenal sebagai  Pengadilan Tiongkok, telah menyimpulkan bahwa pembunuhan terhadap para praktisi Falun Gong untuk mengambil organ-organ vital mereka “telah dilaksanakan pada suatu tingkat yang tersebar luas, disponsori negara, dan sistematis.”

Sementara praktisi Falun Gong merupakan “sumber utama”  organ itu, Tribunal Tiongkok mengatakan dalam laporannya, yang dirilis pada bulan Maret 2020, bahwa  kelompok-kelompok minoritas lainnya, termasuk Uyghur, adalah juga cenderung menjadi sasaran dari kejahatan-kejahatan yang mengerikan semacam tersebut.

IPAC menyatakan : “Kami sekali lagi menyerukan kepada pemerintah-pemerintah kami untuk bangkit dan berbicara untuk mengakhiri penindasan semacam itu,  Negara-negara demokratis harus mengambil tindakan-tindakan untuk menghentikan perdagangan dan penggunaan organ-organ yang dipanen secara paksa secara global. Pemerintah Tiongkok harus bertanggung jawab untuk menegakkan hak asasi manusia untuk semua orang-orang di Tiongkok.”

Menurut Minghui.org, sebuah situs web berbasis di AS yang melacak penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok, sebanyak 4.641 praktisi Falun Gong dipastikan meninggal karena penganiayaan oleh Komunis Tiongkok selama 22 tahun terakhir. Situs web tersebut mencatat bahwa jumlah kematian sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi “tetapi karena ketatnya sensor di Tiongkok, banyak kasus masih belum dilaporkan atau memerlukan penyelidikan lebih lanjut.” (Vv)

Share

Video Popular