Erabaru.net. Para astronot yang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional harus tinggal di sana selama beberapa bulan, tetapi sumber daya air di stasiun ruang angkasa sangat berharga, bahkan air urine pun untuk didaur ulang. Jadi, bagaimana para astronot mencuci pakaian?

Kenyataannya, tidak ada mesin cuci dan peralatan mencuci pakaian lainnya, juga tidak ada cukup persediaan air di dalam stasiun untuk mencuci pakaian para astronot. Karena itu astronot yang tinggal di sana tidak akan mencuci pakaian. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menyiapkan beberapa set pakaian bersih, kemudian mengganti pakaian kotor mereka untuk ditangani.

Namun, ruang pergerakan di dalam stasiun sangat terbatas, dan pesawat ruang angkasa yang menghantar para astronot atau perbekalan ke stasiun tidak selalu tersedia, sehingga astronot tidak mungkin membawa banyak pakaian ganti. Dalam situasi seperti ini, menjadi tak terhindarkan para astronot harus mengenakan pakaian yang sama untuk waktu yang lama.

Untungnya, dalam kondisi gayaberat mikro, para astronot yang bekerja di luar angkasa kurang menghabiskan tenaga sebagaimana kerja di Bumi, sehingga mereka cenderung tidak berkeringat. Meskipun mereka juga berolahraga secara teratur, tetapi dalam lingkungan di mana suhu dan kelembaban udara yang terkontrol, keringat dan bau yang berasal dari keringat pun tidak terlalu menjadi masalah.

Oleh karena itu, mengenakan pakaian terus menerus dalam jangka waktu yang lama adalah hal yang wajar bagi astronot yang bertugas di stasiun ruang angkasa. Astronot Belgia Frank De Winne melalui saluran YouTube Badan Antariksa Eropa (ESA) mengungkapkan bahwa salah satu pakaian mereka dipakai selama sebulan, tetapi kaus kaki mereka diganti seminggu sekali.

Lalu, bagaimana cara mereka mengatasi pakaian kotor yang sudah ditanggalkan? Situs web National Aeronautics and Space Administration (NASA) menunjukkan bahwa astronot memiliki beberapa pilihan untuk menangani pakaian kotor.

1 Mengubah pakaian kotor menjadi “meteor”

Pesawat ruang angkasa ‘Progress’ yang dioperasikan oleh Roscosmos (sebelumnya bernama Badan Antariksa Federasi Rusia) akan mengirim pasokan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, tetapi setahun hanya beberapa kali.

Pesawat ruang angkasa tak berawak yang tidak dapat digunakan untuk kembali ke Bumi ini akan membawa sampah (termasuk pakaian kotor) yang terkumpul di stasiun untuk jangka waktu tertentu setelah menurunkan pasokan. Nantinya, dalam proses perjalanan pulang ke Bumi, pesawat luar angkasa semacam ini akan ikut terbakar bersama sampah-sampahnya sewaktu bergesekan dengan atmosfer Bumi.

2. Menggunakan pakaian kotor untuk bercocok tanam.

Karena tidak ada tanah di luar angkasa, astronot akan menggunakan pakaian kotor yang mengandung nutrisi untuk bercocok tanam.

3. Memberi makan bakteri dengan pakaian kotor

Ini adalah pilihan yang masih sedang dipelajari oleh para ilmuwan dan mungkin menjadi salah satu pilihan di masa depan.

Para ilmuwan berharap mampu merancang suatu sistem yang memungkinkan bakteri-bakteri memakan habis pakaian dalam para astronot yang berbahan katun maupun kertas, lalu melepaskan gas metana yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber tenaga bagi Stasiun Luar Angkasa Internasional atau pesawat ruang angkasa. (sin/yn)

Sumber: epochtimes

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular