Frank Fang

Rezim Tiongkok membombardir Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Wendy Sherman dengan keluhan dan tuduhan selama kunjungan pribadinya ke Tiongkok pada  26 Juli. Pembicaraan itu mengingatkan pada nada tak beretika dari pejabat-pejabat  Komunis Tiongkok selama pertemuan tingkat-tinggi pertama di Alaska pada bulan Maret, dijuluki dengan diplomasi “prajurit serigala”, ketika pemerintahan Biden mengupayakan  babak baru “terlibat” dengan Tiongkok

Wendy Sherman bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Xie Feng pada  26 Juli di kota pelabuhan Tianjin di Tiongkok, sebelum bertemu dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Wendy Sherman adalah pejabat yang berpangkat tertinggi di pemerintahan Biden yang mengunjungi Tiongkok.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ned Price mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Wendy Sherman mengangkat beberapa kekhawatiran Amerika Serikat dengan Wang Yi dan pejabat-pejabat Tiongkok lainnya, termasuk tindakan keras anti-demokrasi Beijing di Hong Kong, genosida yang masih berlangsung di wilayah barat jauh Tiongkok di Xinjiang, pelanggaran di Tibet, dan apa yang dilakukan rezim Tiongkok di dunia maya, Selat Taiwan, dan Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan.

“Wakil Secretary menegaskan kembali keprihatinan akan keengganan [Republik Rakyat Tiongkok] untuk bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia kan dan mengizinkan sebuah penyelidikan tahap kedua mengenai asal-usul COVID-19 di Republik Rakyat Tiongkok,” kata Ned Price.

Pertemuan tersebut pertama kali diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada 21 Juli, sebelum Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengonfirmasinya beberapa jam kemudian. Menurut The Associated Press, Kementerian Luar Negeri AS mengatakan bahwa pemerintah sedang “menjelajahi peluang” melalui perjalanan Wendy Sherman untuk melibatkan pejabat-pejabat senior Tiongkok  secara pribadi.

Selama pertemuan dengan Wendy Sherman, Xie Feng menyalahkan Amerika Serikat atas masalah yang sedang berlangsung antara kedua negara, termasuk “mengutuk Tiongkok” dan “menyalahkan Tiongkok atas masalah-masalah strukturalnya sendiri.” Xie Feng mengatakan Amerika Serikat harus “mengubah pola pikirnya yang sangat sesat.”

Xie Feng juga menuduh Amerika Serikat terlibat dalam “diplomasi yang memaksa” dan menambahkan bahwa Beijing “tidak pernah memaksa negara mana pun.”

Setelah pertemuan itu, Xie Feng mengatakan kepada media setempat bahwa Tiongkok telah memberi pihak Amerika Serikat dua daftar, salah satu daftar itu merinci “kesalahan-kesalahan” Amerika Serikat dan daftar yang lain merinci kekhawatiran Tiongkok lainnya akan kasus tertentu, menurut laporan media pemerintah Tiongkok.

Termasuk dalam daftar-daftar tersebut adalah tuntutan Tiongkok  agar Amerika Serikat mencabut sanksi dan pembatasan visa terhadap para pejabat dan entitas Tiongkok, dan menarik permintaan ekstradisi oleh Amerika Serikat untuk Meng Wanzhou, Kepala Staf Keuangan Huawei raksasa teknologi Tiongkok.

Pemerintah Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi kepada para pejabat dan entitas Tiongkok atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan rezim Tiongkok terhadap praktisi Falun Gong, penduduk Hongkong, dan orang-orang Uyghur. Saat ini, 59 perusahaan pertahanan dan  teknologi Tiongkok dimasukkan ke dalam daftar hitam, untuk mencegah para investor Amerika Serikat berinvestasi di perusahaan tersebut.

Pada 25 Juli, Wendy Sherman menulis di Twitter bahwa ia telah berbicara dengan perusahaan Amerika Serikat mengenai “tantangan yang mereka hadapi di Tiongkok.”

Sebelum Wendy Sherman tiba di Tiongkok, para pejabat senior pemerintahan Biden mengumumkan bahwa perjalanan Wendy Sherman merupakan “kelanjutan” dari pembicaraan pada bulan Maret di Anchorage, Alaska. Selain itu, Amerika Serikat sedang mencari “pelindung dan parameter” dengan harapan, bahwa apa yang dicirikan oleh pemerintahan Biden sebagai persaingan bilateral tidak “berubah menjadi konflik yang tidak disengaja.”

Pembicaraan di Alaska menampilkan Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan  penasihat keamanan nasional Jake Sullivan, yang bertemu dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dan diplomat senior kebijakan luar negeri Yang Jiechi. Pertemuan tersebut  dikenang karena Yang Jiechi menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap Antony Blinken dan Jake Sullivan sambil melanggar protokol pertemuan. 

Yang Jiechi mengecam dua pejabat Amerika Serikat tersebut, atas apa yang  ditegaskan oleh Yang Jiechi adalah perlakuan buruk Amerika Serikat terhadap minoritas dan perjuangan demokrasi di Amerika Serikat.

Tingkah laku delegasi Tiongkok di Alaska, dikritik oleh sejumlah pihak anggota parlemen Amerika Serikat dan pakar Tiongkok, termasuk Miles Yu, seorang penasihat Tiongkok untuk mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo.

Pada saat itu, Miles Yu memberitahu di program “American Thought Leaders” The Epoch Times, bahwa delegasi Tiongkok melakukan perjalanan ke Alaska tidak untuk menyelesaikan bilateral masalah tetapi untuk mencetak poin “propaganda murah” dan “mendiskreditkan demokrasi Amerika Serikat.”

Dalam tajuk rencana yang diterbitkan pada 23 Juni, pakar Tiongkok Gordon Chang mempertanyakan keinginan pemerintahan Biden untuk terus melibatkan Tiongkok, menunjuk ke pembicaraan-pembicaraan di Alaska.

“Tiongkok, terbukti, kini tidak berminat untuk diskusi yang serius, selain, tentu saja, untuk tujuan menerima penyerahan Amerika Serikat,” tulis Gordon Chang. (Vv)

Share

Video Popular