Erabaru.net. Nama saya Zhu Lin dan saya berusia 26 tahun. Saya baru saja lulus dari program pascasarjana. Saya memiliki seorang pacar yang juga seorang mahasiswa pascasarjana, tetapi dia sudah bekerja.

Pacar saya berasal dari orangtua tunggal, orangtuanya bercerai sejak dia kecil dan dia tinggal bersama ibunya. Pacar saya adalah seorang pria yang baik dan itu adalah hasil dari didikan ibunya. Saya sangat mengagumi ibunya dari lubuk hati saya.

Suatu hari dia mengajak saya bertemu ibunya, saya tidak bisa menahan kegembiraan saya, tetapi di sisi lain saya juga merasa sangat gugup.

Kami akhirnya pergi ke rumahnya pada akhir pekan, tetapi kebetulan hari itu hujan deras dan kami tidak membawa payung. Ketika kami tiba di rumahnya, kami berdua basah kuyup.

Saya tidak membawa pakaian ganti. Awalnya saya berniat untuk pulang di malam hari tetapi karena hujan tak kunjung reda, saya akhirnya menginap. Pakaian saya basah, dan ibunya mengatakan bahwa saya dapat memakai pakaiannya.

Tentu saja saya tidak keberatan. Itu adalah suatu kehormatan besar. Ibunya pergi ke kamar tidur dan mengambil satu set pakaian. Saya pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Pakaian ibunya pas untuk saya.

Setelah saya selesai, ibunya membuatkan minuman jahe hangat untuk menghangatkan tubuh.

Pacar saya meminta saya untuk duduk di ruang tamu dulu. Dia kembali ke kamar untuk menelepon seseorang. Saya sedikit berhati-hati dan tidak ingin menyentuh apa pun.

Karena udara dingin, saat saya memasukan tangan ke saku baju ibunya yang saya kenakan, saya menemukan sebotol obat impor di dalam dengan tulisan bahasa Inggris, setelah saya membaca, ternyata itu adalah obat untuk menekan penyakit mental.

Jika tidak ada pasien gangguan jiwa dalam keluarga, tidak mungkin obat ini ada di sini. Jadi obat ini adalah milik ibunya tetapi pacar saya tidak mengatakan apa-apa kepada saya.

Saya langsung menghampiri pacar saya dan bertanya kepadanya. Pacar saya awalnya enggan menjawab, namun akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya bahwa ibunya memang menderita penyakit mental. Dia memiliki temperamen yang berubah-ubah dan hanya bisa dikendalikan dengan obat-obatan.

Setelah mendengarkan penjelasannya saya langsung terkejut. Meskipun saya mengagumi dan menyukainya, di sisi lain saya merasa tidak menerima dengan kenyataan tersebut. Saya pun memutuskan untuk berganti pakaian dan pulang di tengah hujan.

Saya sangat bimbang, saya juga dimarahi oleh beberapa teman dan mengatakan bahwa saya kejam dan egois. Tetapi setiap orang memiliki hak untuk merasakan, dan itu tidak dapat dikontrol begitu saja, bagaimana menurut Anda ? (lidya/yn)

Sumber: hknews

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular