Erabaru.net. Di saat menghadapi antar hidup dan mati, seorang suami malah meninggalkan istrinya. Apakah sikap ini menunjukkan rasa cinta ? Atau rasa benci ? Apakah karena cuek dan egois ? Dan bagaimana dengan fakta kebenarannya ?

Seorang guru menceritakan kisah berikut tentang kapal yang menghadapi karam di laut kepada siswa-siswinya.

Sebuah kapal pesiar yang sedang berlayar di laut tiba-tiba tertimpa bencana, di mana sepasang suami istri yang berada di kapal yang nyaris tenggelam itu hanya menemukan satu tempat tersisa pada sekoci terakhir untuk menyelamatkan dirinya.

Ilustrasi.

Saat menghadapi pikiran yang campur aduk antara hidup dan mati, cinta atau benci itu, akhirnya suami memilih meninggalkan istri di atas kapal dengan melompat ke dalam sekoci untuk menyelamatkan diri. Istri yang tak berdaya di atas dek kapal pesiar hanya meneriakkan sepatah kata kepada suaminya …

Sampai di situ, guru berhenti sejenak lalu bertanya kepada siswa : “Sekiranya, kata-kata apa yang diteriakkan oleh istri di kapal yang nyaris tenggelam ?”

“Aku benci kepadamu !”, “Aku buta (memilihmu) ! …” ujar para siswa dengan sedikit emosi.

Ilustrasi,

Pada saat ini, guru dengan cepat memperhatikan bahwa hanya satu siswa yang tetap diam tidak berkomentar.

Guru kemudian meminta pada siswa yang diam itu untuk menjawab.

Siswa itu mengatakan : “Guru, saya pikir istri itu akan berteriak jaga baik-baik anak kita !”

Guru balik bertanya dengan heran : “Apakah kamu pernah mendengar cerita ini ?”

Siswa tersebut menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan suara terbata-bata : “Tidak, tetapi sebelum ibu saya jatuh sakit dan meninggal, dia mengatakan itu kepada ayah saya !”

Sambil menganggukkan kepala, guru mengatakan bahwa jawaban siswa tersebut sepenuhnya benar.

Kemudian, sang guru melanjutkan ceritanya : “Kapal itu akhirnya tenggelam, dan pria itu benar selamat dan pulang ke rumahnya, bertahun-tahun membesarkan putri mereka dengan tanpa lagi bantuan dari istrinya.

“Sedih memang ! Beberapa tahun kemudian, sang suami meninggal dunia karena sakit. Di saat membenahi barang-barang ayahnya itu, putrinya menemukan fakta kebenaran yang tercatat dalam buku harian ayahnya.”

Ternyata ketika mereka naik kapal pesiar, ibu mereka sudah menderita penyakit terminal, sehingga ayahnya terpaksa mengambil satu-satunya kesempatan hidup dan meninggalkan sang istri.

Meskipun dirinya selamat, tetapi dia dengan menyesal menulis di dalam buku hariannya : “Aku pun ingin tenggelam ke laut bersamamu, tapi aku tidak bisa. Demi putri kesayangan kita, aku hanya bisa membiarkan kamu beristirahat selama-lamanya di dasar laut yang dalam.”

” The sinking of the “Titanic” during the night of April 14th to 15th, 1912
Painting by Willy Stoewer. Picture colorized later; identical with Image Number 485782
1656041

Para siswa terdiam setelah mendengarkan akhir dari cerita tersebut.

Guru mengatakan : “Perilaku suami meninggalkan istrinya pada saat itu adalah tindakan yang tidak terpuji di mata orang lain, tetapi hanya setelah benar-benar memahami fakta kebenaran dari pilihan antara dia dengan istrinya, orang lain baru dapat benar-benar memahami betapa menyakitkan pilihan yang diambil itu.

“Sama halnya dalam menghadapi masalah yang kita jumpai, kita tidak boleh hanya memberikan penilaian atas dasar yang terlihat di permukaan. “

Meskipun kita melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kebaikan dan kejahatan yang tampak di dunia ini terkadang rumit dan sulit untuk dibedakan. Untuk itu memahami fakta kebenaran adalah penting, walaupun untuk itu membutuhkan kesabaran dan pemahaman yang mendalam”. (sin/yn)

Sumber: secretchina

Video Rekomendasi:

Share
Tag: Kategori: CERITA KEHIDUPAN STORY

Video Popular