Jin Shi 

Virus varian delta menyebar dengan cepat ke 15 provinsi di Tiongkok. Wuhan, tempat virus Komunis Tiongkok (COVID-19) pertama kali meledak, mulai menyatakan keadaan darurat masa perang. Ibukotanya, Beijing, juga  secara komprehensif meningkatkan kendalinya. Bahkan, diperintahkan untuk “mencegah kebuntuan.”

Pada  Selasa 3 Agustus, banyak orang di Wuhan, Tiongkok beramai-ramai ke supermarket untuk berbelanja, karena situasi epidemi lokal memanas.  Orang-orang di Wuhan telah memasuki “keadaan perang.” 

Pejabat di kota itu mengumumkan pada hari yang sama, bahwa lebih dari 10 juta penduduk di kota itu harus menjalani tes asam nukleat.

“Wow, kamu membeli begitu banyak barang?”

“Ya, aku tidak tahu situasi sekarang, aku gugup.”

“Apakah ini persediaan makanan?”

“Ya, stock beberapa persediaan.”

Itulah di atas sekelumit pembicaraan yang ada di sebuah Supermarket. 

Pada 3 Agustus 2021, Wuhan menjalani tes asam nukleat untuk seluruh warganya. (STR/AFP via Getty Images)

Alasan orang-orang berebutan membeli pasokan kebutuhan, karena banyak distrik di Wuhan yang ditutup. Mereka kini hanya bisa masuk tapi tidak bisa lagi keluar dari kawasan itu.

“Komunitas Wanjiahu -ABCD- sekarang terkendali, dan warga hanya bisa masuk tapi tidak bisa keluar.” Demikian bunyi pengumuman dari sebuah pengeras suara. 

Wuhan, kota tempat epidemi pertama kali meledak, mengklaim pada Juni tahun lalu bahwa mereka telah “membersihkan” epidemi tersebut. Tapi kini berubah 100 derajat.  Kasus lokal terungkap. Tujuh pekerja migran di Zona Pengembangan Ekonomi Wuhan didiagnosis. Mereka semua terinfeksi strain delta sangat menular yang berasal dari India.

Direktur Yang, seorang  penanggung jawab lokasi konstruksi di Wuhan yang terlibat dalam epidemi  berkata : “Sekarang semua lokasi konstruksi dan tempat ditutup. Lima dari tujuh kasus ini adalah petugas keamanan, dua lainnya adalah buruh.”

Menurut tracking epidemi, para pekerja yang terinfeksi epidemi ini bersinggungan dengan pasien yang terinfeksi virus Delta di Nanjing di stasiun kereta api.

Pemerintah Provinsi Hubei mengakui pada  Selasa 3 Agustus, bahwa situasi pencegahan dan pengendalian saat ini di Wuhan sangat parah.

Mulai 3 Agustus, sebanyak 23 jalur bus di Wuhan telah ditangguhkan. Penduduk yang terdaftar sebagai daerah berisiko sedang dilarang keluar. Setiap rumah tangga dibatasi satu orang untuk pergi berbelanja pada waktu yang ditentukan.

Pada 3 Agustus 2021 menunjukkan warga mengantre untuk tes virus di Wuhan, provinsi Hubei tengah, Tiongkok (STR/AFP via Getty Images)

Wabah varian delta di daratan Tiongkok dimulai di Bandara Internasional Nanjing Lukou pada 20 Juli. Kemudian menyebar ke 15 provinsi hanya dalam belasan hari. Pejabat telah melaporkan lebih dari 300 kasus yang dikonfirmasi.

Gelombang epidemi ini juga menyebar ke ibu kota Beijing. Pada 2 Agustus, Beijing menambahkan kasus lain yang dikonfirmasi. Para pejabat di Beijing menyatakan bahwa, mereka harus waspada terhadap kematian dengan segala cara.

Pada 3 Agustus, Beijing mulai membatasi penumpang dari 23 stasiun regional memasuki Beijing. Tindakan pencegahan dan pengendalian Bandara Internasional Ibu Kota dan Bandara Internasional Daxing, juga telah ditingkatkan secara komprehensif.

Video yang diposting oleh netizen juga menunjukkan bahwa pos pemeriksaan jalan raya yang memasuki Beijing dari Zhangjiakou, Hebei, secara ketat memeriksa kendaraan yang memasuki Beijing, menyebabkan macet parah. Selain itu, ada antrian panjang di pintu masuk Langfang, Provinsi Hebei hingga Beijing.

Sementara itu, secara ketat mengontrol masuknya orang ke Beijing. Selain itu, Beijing juga mengharuskan warga untuk “tidak meninggalkan Beijing kecuali jika perlu.”

Dalam babak epidemi ini, sejumlah besar orang yang telah divaksin masih terinfeksi, dan efektivitas vaksin Tiongkok kembali dipertanyakan.  (hui)

Share

Video Popular