Daniel Holl

Komunis Tiongkok sedang berlomba untuk mengejar superioritas militer Amerika Serikat, dan hal itu sedang dilakukan dengan meningkatkan upaya inovasi dalam negeri seiring dengan upaya-upaya pencurian kekayaan intelektual yang sedang berlangsung, menurut sebuah laporan lembaga pemikir yang terbaru. 

Pada saat yang sama, kekuatan militer Komunis Tiongkok dihalangi oleh perangkap sebuah ekonomi komando sosialis maupun oleh ketidakmampuan untuk mengembangkan teknologi mutakhir sendiri, menurut laporan RAND Corporation yang berjudul “Akuisisi Pertahanan di Rusia dan Tiongkok.”

“Ketergantungan Tiongkok pada pencurian kekayaan intelektual berarti senjata Tiongkok tertinggal beberapa  tahun di belakang, tetapi orang-orang Tiongkok menyadari kekurangan itu dan berinvestasi dan menumbuhkan kemampuan organik melalui usaha patungan dan akuisisi teknologi asing,” tulis laporan itu.

Laporan tersebut, yang dirancang untuk Angkatan Darat Amerika Serikat, menguraikan bagaimana Tiongkok sedang bergerak menjauhi model standarnya yang meniru negara-negara lain.

“Secara keseluruhan, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok telah mengatasi banyak hambatan teknologi dan merupakan ancaman yang jelas bagi Amerika Serikat dalam akuisisi-akuisisi pertahanan,” bunyi laporan itu.

Pencurian dan Akuisisi

Model inovasi Tiongkok selama bertahun-tahun adalah mencuri dan meniru, yang oleh penulis-penulis RAND disebut sebagai “model salin-ganti.” 

Banyak divisi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok dipersenjatai dengan replika persenjataan negara-negara lain.

Gambar komposit F-35 Lightning II Amerika (atas) dan J-31 Gyrfalcon Tiongkok (bawah). (Leon Neal/Getty Images, Johannes Eisele/AFP via Getty Images)

Laporan tersebut mencatat bahwa pesawat Tiongkok memiliki kemiripan yang mencolok dengan pesawat pesaingnya yaitu Amerika Serikat dan Rusia. Di antara daftar replika yang potensial adalah J-31 Gyrfalcon Tiongkok, yang menyerupai F-35 Lightning II Amerika Serikat.

Jet lain, dikenal sebagai J-20 Mighty Dragon, mirip dengan F-22 Raptor Amerika Serikat. Namun menurut laporan itu, meskipun J-20 Mighty Dragon melalui perkembangan yang relatif cepat, laporan tersebut memperkirakan bahwa Tiongkok tertinggal 20 tahun di belakang Amerika Serikat di bidang penerbangan militer.

Di darat, senapan servis standar Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok yang diproduksi di dalam negeri  kira-kira 25 tahun terakhir, QBZ-95, akan segera digantikan oleh sebuah model salinan. Penggantinya, yang secara tidak resmi dikenal sebagai QBZ-191, adalah sebuah salinan yang mirip Heckler dan Koch 416, menurut analisis dari The Firearm  Blog. Senapan ini juga sangat mirip dengan AR-15.

“Ketergantungan Partai Komunis Tiongkok pada pencurian kekayaan intelektual untuk  pengembangan senjatanya telah membantu Partai Komunis Tiongkok tetap kompetitif tetapi telah mematok Partai Komunis Tiongkok beberapa  tahun di belakang kemutakhiran,” menurut laporan itu. Hal ini telah menyebabkan Tiongkok untuk meningkatkan upaya-upaya dalam penelitian dan pengembangannya sendiri.

Inovasi

Belanja militer domestik Tiongkok telah meningkat beberapa dekade belakangan ini, dan pendekatan militer domestik Tiongkok terhadap inovasi telah dipenuhi dengan sebuah  pergeseran paradigma dalam beberapa tahun terakhir.

Gambar komposit tentara yang memegang QBZ-95 (kiri) dan H&K 416 (kanan). (Kevin Frayer/Getty Images, Boris Horvat/AFP via Getty Images)

“Belanja-belanja militer Tiongkok tumbuh sepuluh kali lipat secara konstan dalam dolar selama 25 tahun terakhir, di mana belanja mencapai sebuah titik tertinggi sepanjang masa sebesar usd 250 miliar pada tahun 2018,” tulis laporan itu.

Sebagai perbandingan, Amerika Serikat memiliki sebuah anggaran pertahanan sebesar  700 miliar dolar AS untuk  tahun yang sama itu.

Pengambilalihan Partai Komunis Tiongkok oleh pemimpin Tiongkok Xi Jinping pada tahun 2012, menyebabkan beberapa perubahan sistemik dalam strategi pengembangan senjata Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Sejak tahun 2016, sektor militer dan komersial menjadi lebih semakin terintegrasi. Desain-desain militer sering dikontrakkan ke sipil, meskipun perusahaan-perusahaan  milik negara.

“Untuk sebuah rasa skala, dari 22 perusahaan pertahanan berpenghasilan tertinggi di seluruh dunia, sembilan perusahaan itu dari Amerika Serikat dan delapan perusahaan itu dari Tiongkok,” bunyi laporan itu.

Pendapatan pertahanan oleh perusahaan, di seluruh dunia, 2016. (Defense Acquisition in Russia and China/RAND Corporation)

Gaji-gaji Tiongkok untuk manajer dan insinyur proyek juga menjadi kompetitif dengan Amerika Serikat. Ini selanjutnya berfungsi untuk memikat warganegara Tiongkok yang menghadiri universitas di luar negeri untuk kembali ke Tiongkok.

Hampir semua mahasiswa Tiongkok mulai tinggal di luar negeri setelah lulus pada tahun Per tahun 2016, hampir 65 persen mahasiswa Tiongkok telah kembali ke Tiongkok.

Hambatan untuk Pertempuran

Uang dan pencurian tidak mampu menyelesaikan semua masalah pembangunan Tiongkok.

“Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok masih berjuang untuk memacu inovasi domestik dan menutup kesenjangan pada beberapa kekurangan teknis yang mencolok, seperti chip canggih,  kapal selam yang senyap, dan mesin pesawat,” tulis laporan itu.

Jumlah pelajar Tiongkok yang kembali ke Tiongkok menurut tahun. (Defense Acquisition in Russia and China/RAND Corporation)

Penulis RAND menyoroti banyak hambatan internal yang berasal dari struktur politik komunisme.

“Bahkan ketika berusaha untuk menghapus rintangan teknis ini, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok harus mengatasi inefisiensi dan hambatan kelembagaan yang terkait dengan manajemen dan jaminan kualitas yang terus menggagalkan upaya reformasi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok,” bunyi  laporan itu.

Banyak hierarki internal bisnis Tiongkok didasarkan pada durasi pekerjaan dan hubungan pribadi, bukan meritokrasi (pengendalian pemerintahan oleh orang pintar). Meskipun sejumlah besar mahasiswa kembali ke Tiongkok, banyak perusahaan Tiongkok yang gagal untuk secara efektif mengintegrasikan bakat yang kembali itu, laporan tersebut menyatakan, mengutip praktik manajemen yang tidak efektif.

“Desain kontrak pertahanan Tiongkok juga tidak banyak mendorong transparansi dan akuntabilitas,” bunyi laporan itu.

Bahasa dalam kontrak adalah tidak jelas, pemenang kontrak dijamin sebuah bagian keuntungan di atas biaya, dan penawar rendah untuk kontrak diberikan proyek penghiburan. Sisa-sisa ekonomi komando ini menghasilkan sedikit atau tidak ada insentif untuk berinovasi, menurut laporan itu. (Vv)

Share

Video Popular