oleh He Qinglian

Pada 23 Juli menandai hari ketiga banjir besar di kota Zhengzhou di Provinsi Henan, Tiongkok. Berdasarkan pengamatan saya mengenai bagaimana rezim Tiongkok menangani bencana alam, pihak berwenang akan menggunakan tiga hari pertama untuk mengumpulkan data sebelum merilis sebuah pernyataan resmi. Namun demikian, pejabat tinggi akan melakukan sensor informasi dan membuat narasi propaganda sendiri atas nama “menjaga stabilitas sosial.” Model tanggapan yang resmi ini, bersama dengan propaganda media, akan terus ada di rezim komunis Tiongkok.

Rutinitas Propaganda Beijing mengenai Banjir

Propaganda Partai Komunis Tiongkok berfokus pada tiga poin: untuk menekankan tingkat keparahan bencana alam; untuk mempublikasikan inisiatif rezim Tiongkok dalam penyelamatan darurat; dan meremehkan jumlah kematian.

Bencana alam telah sering terjadi di berbagai bagian Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, dan hal pertama yang dilakukan pemerintah daerah adalah menghubungkan bencana dengan alam. Bencana banjir dipublikasikan sebagai “curah hujan yang memecahkan rekor,” “sekali dalam 50 tahun,” dan “sekali dalam seratus tahun,” dan seterusnya. 

Kali ini, pihak berwenang menggambarkan bencana Zhengzhou sebagai “sekali dalam 5.000 tahun” dalam catatan sejarah curah hujan”—–bahkan para ahli berupaya membenarkan klaim ini. Pada situs web Kementerian Sumber Daya Air Provinsi Henan, para ilmuwan menawarkan sebuah penjelasan dengan algoritma probabilistik.

Pada 21 Juli 2021, di Kota Gongyi, Provinsi Henan, sebuah jembatan rusak setelah hujan deras menyebabkan banjir besar. (STR/AFP via Getty Images)

Namun, Chen Tao, kepala ramalan cuaca di  Observatorium Meteorologi Pusat, membantah apa yang disebut “bencana milenium” di sebuah  briefing pers yang diadakan oleh Observatorium Meteorologi Pusat pada  21 Juli, menurut portal berita Tiongkok, Sina. Chen Tao berkata, “Dari sudut pandang penelitian ilmu atmosfer, kami mulai merekam data meteorologi secara ketat setelah tahun 1950. Sejak itu, kami dapat mengumpulkan sebuah catatan ilmiah yang relatif akurat dan lengkap mengenai curah hujan. Sejauh ini, seluruh jumlah curah hujan meliputi sekitar 70 tahun.”

Banjir Zhengzhou: Apa Banyak Faktor Buatan Manusia?

Ketika menghadapi bencana alam, rezim Tiongkok melihat tiga masalah: apakah mekanisme peringatan dini diaktifkan; apakah bencana itu alami atau buatan manusia; dan akuntabilitas.

Akuntabilitas ditentukan oleh bagaimana dua masalah pertama tersebut ditangani dan jumlah kematian. Tetapi, selalu ada ruang untuk penafsiran.

Peringatan bencana menentukan nasib para pejabat. Selama  gempa bumi Sichuan tahun 2008 dan gempa bumi Yushu tahun 2010, tidak adanya sebuah sistem peringatan dini menjadi sebuah fokus utama akuntabilitas.

Ketika hujan deras dan banjir pertama kali terjadi di Zhengzhou kali ini, Biro Meteorologi dituding tidak memberikan peringatan kepada masyarakat. Namun, orang-orang segera menemukan bahwa Biro Meteorologi sebenarnya telah mengeluarkan sebuah peringatan. 

“Sinyal Peringatan Bencana Meteorologi” dikeluarkan oleh Li Kexing, Direktur Biro Meteorologi Zhengzhou, pada pukul 21.59 pada  19 Juli. Peringatan tersebut beredar di internet, yang membuktikan bahwa Biro Meteorologi Zhengzhou memang telah mengeluarkan sebuah peringatan dini dan menyarankan masyarakat untuk menghentikan pertemuan,  menutup sekolah dan bisnis.

Keterangan Foto : Pada 22 Juli 2021, Zhengzhou, Provinsi Henan, orang-orang melihat mobil-mobil yang hancur akibat banjir setelah hujan lebat. (NOEL CELIS/AFP via Getty Images)

Masalah sebenarnya adalah bahwa pihak berwenang setempat telah mengabaikan masalah genangan air selama 20 tahun terakhir—–Zhengzhou dikenal sebagai “kota spons”. Genangan air adalah sebuah bencana buatan manusia yang disebabkan oleh proyek pemerintah yang berturut-turut.

Sebuah bendungan yang runtuh adalah faktor buatan manusia lainnya dalam banjir Zhengzhou. Patut dicatat bahwa pihak-pihak berwenang menghasilkan laporan yang saling bertentangan dengan situasi tersebut. Kementerian Manajemen Darurat mengeluarkan sebuah laporan mengenai bendungan yang runtuh, Waduk Guojiazui di Zhengzhou, pada pukul 01.30 pada 21 Juli. 

Tetapi, Kementerian Sumber Daya Air mengeluarkan laporan lain yang mengatakan bahwa Waduk Guojiazui  runtuh pada pukul 07.00 pada 21 Juli, “tidak ada bendungan yang jebol, melainkan hanya erosi secara besar-besaran di lereng-lereng di sekitarnya [tanah longsor].” 

Sebuah video dari situs tersebut menunjukkan bahwa Terowongan Jalan Tol Jingguang di Zhengzhou tiba-tiba tergenang dan para saksi mata mengatakan bahwa hal itu terjadi dalam waktu kurang dari lima menit.

Pada  21 Juli, media pemerintah Xinhua mengutip pernyataan Xi Jinping, “Beberapa sungai telah melampaui tingkat peringatan dan beberapa bendungan telah jebol.”

Pernyataan ini membawa dua informasi signifikan : pertama, pihak-pihak berwenang setempat melaporkan situasi tersebut kepada Xi Jinping dan mengakui bahwa bendungan-bendungan itu gagal; kedua, Xi Jinping telah memperingatkan pihak berwenang setempat untuk memperhatikan desas-desus pembuangan air banjir.

Jalan ambruk setelah banjir parah dan tanah longsor dalam beberapa hari terakhir melanda kota Gongyi tingkat kabupaten, dekat Zhengzhou, di Provinsi Henan pada 22 Juli 2021. (Jade Gao/AFP via Getty Images)

Adalah penting untuk diketahui bahwa netizen-netizen Tiongkok menyebutnya sebagai “pembuangan air banjir” dan bukannya “jebolnya sebuah bendungan.”

Ada perbedaan besar antara jebolnya sebuah bendungan dengan pembuangan air banjir. Adalah sulit untuk meminta pertanggungjawaban siapa pun atas jebolnya sebuah bendungan karena ada penyebab di luar kendali manusia selain kualitas bendungan yang buruk. Di sisi lain, pembuangan air banjir tergantung pada pengambilan keputusan oleh pihak berwenang setempat, menyeimbangkan pro dan kontra mengenai banjir di satu tempat sementara melestarikan banjir berdasarkan ketinggian air.

Jumlah Kematian Menentukan Tingkat Bencana dan Postingan Pejabat

Pada 23 Juli, rezim Tiongkok mengumumkan bahwa lebih dari 50 orang tewas karena bencana banjir Zhengzhou. Sehari sebelumnya, pemerintah setempat melaporkan bahwa ada 33 orang meninggal dan 8 orang hilang. Diyakini jumlah korban yang tewas akan terus bertambah.

Menurut sebuah laporan oleh Radio Free Asia, ada sejumlah besar pesan online dari orang-orang yang mencari kerabat yang mereka cintai hilang di Zhengzhou dan daerah-daerah tetangga Zhengzhou. Satu situs web mencantumkan informasi lebih dari 130 orang hilang. Orang-orang masih berkumpul di sekitar Terowongan Jalan Tol Jingguang yang dilanda bencana untuk mencari kerabat yang mereka cintai.

Keterangan Foto : Banjir di Zhengzhou, Provinsi Henan belum berhenti, dan Anyang dan Xinxiang di Provinsi Henan juga mengalami banjir. Gambar menunjukkan sebuah mobil dalam banjir di Zhengzhou, Provinsi Henan pada 22 Juli. (NOEL CELIS/AFP via Getty Images)

Berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun, merumuskan sebuah kuota untuk jumlah korban telah menjadi tradisi dalam rezim Tiongkok sejak era Mao Zedong.

Penulis berada di Tiongkok selama insiden ledakan Qingshuihe—–sebuah pabrik kimia meledak di distrik Qingshuihe kota Shenzhen pada tahun 1993. Seorang reporter di tempat kejadian mengambil hampir 80 foto dari korban yang tewas. Meskipun korban yang tewas melebihi jumlah tersebut, Kementerian Propaganda melaporkan bahwa hanya 3 orang tewas oleh ledakan itu–—2 wakil direktur Biro Keamanan Masyarakat dan seorang direktur kantor polisi setempat. Angka-angka itu dibuat-buat karena pada waktu itu ditetapkan bahwa kecelakaan yang melibatkan lebih dari 10 kematian dianggap sangat serius, dan mereka yang bertanggung jawab akan diminta pertanggungjawabannya. Sekarang tampaknya kuota tersebut mungkin telah dirumuskan ulang.

Partai Komunis Tiongkok melakukan sensor informasi dan mencegah desas-desus menyebar secara online. Penulis telah mengamati bahwa pihak berwenang selalu mengatur nada untuk bencana tersebut, dan menangkap para penyebar desas-desus menjadi sebuah fokus utama dalam penanggulangan bencana. Pemerintah Provinsi Henan mengeluarkan sebuah pemberitahuan mengenai banjir baru-baru ini, mengingatkan masyarakat untuk mengabaikan desas-desus dan tidak menyebarkan desas-desus–—ini adalah sebuah peringatan yang sebenarnya dari pejabat top.

Rutinitas pemerintah lainnya adalah penggalangan dana. Namun, orang-orang lebih enggan memberikan sumbangan kepada Palang Merah dan badan-badan pemerintah, karena selama gempa bumi Sichuan tahun 2008, organisasi-organisasi ini dituduh menggelapkan dana.

Kesimpulan

Beberapa ahli yakin banjir Zhengzhou tidak akan menjadi bencana terakhir di sebuah kota di Tiongkok. Ada sebuah artikel yang beredar di media sosial Tiongkok berjudul, “Lihat Yang Dahulu, Lihat Lagi Saat Ini: Banjir di Dataran-Dataran Tengah di Mata Seorang Ahli.” 

Penulis tersebut berpartisipasi dalam evaluasi Pembangunan Kota Pintar Nasional tahun 2015. Ada sebuah kutipan yang harus diingat para pembaca: “Di atas tanah yang gembur, hanya ada sebuah lapisan semen yang dangkal di atasnya dengan ubin-ubin untuk tujuan penampilan saja. Saya telah melakukan perjalanan ke seluruh Tiongkok–—timur, barat, utara, dan selatan.Proyek-proyek untuk menyelamatkan harga diri ada di mana-mana. Curah hujan yang tinggi, terutama sebuah banjir 100 tahun, akan melubangi tanah gembur di bawahnya.”

Dengan kata lain, selama anda tinggal di sebuah kota di Tiongkok dan ada hujan badai yang parah, banjir besar dapat terjadi kapan saja. Orang-orang harus siap untuk menghadapi situasi tersebut dan tidak harus bergantung pada model kedaruratan bencana ala Beijing. (Vv)

 He Qinglian adalah seorang penulis dan ekonom Tiongkok terkemuka. Saat ini berbasis di Amerika Serikat, ia menulis “China’s Pitfalls,” yang menyangkut korupsi dalam reformasi ekonomi China tahun 1990-an, dan “The Fog of Censorship: Media Control in China,” yang membahas manipulasi dan pembatasan pers. Dia secara teratur menulis tentang isu-isu sosial dan ekonomi Tiongkok kontemporer.

Share

Video Popular